Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

10/24/2020

Mengenal Raja Ali Haji: Bapak Bahasa Indonesia.

Apero Fublic.- Raja Ali Haji lahir di Kesultanan Riau-Lingga pada tahun 1808 atau 1809 di Pulau Penyengat, meninggal pada 1870/3 Masehi. Ayah beliau bernama Raja Ahmad lahir pada 1773 Masehi, dengan julukan Engku Haji Tua. Ibu Raja Ali Haji bernama Encik Hamidah binti Panglima Selangor.

Ayah beliau juga seorang pengarang dan penyair. Diantara karyanya, Syair Engku Putri, Syair Perang Johor, dan Syair Raksi. Kakek Raja Ali Haji bernama Raja Haji Fisabilillah yang digelari Marhum Teluk Ketapang. Raja Haji Fisabilillah syahid dalam perang di teluk Ketapang melawan penjajah Belanda.

Raja Ali Haji memiliki tiga orang isteri; pertama, Halimah binti Raja Ja’far Yang Dipertuan Muda Riau XI. Kedua, Daeng Cahaya binti Manaroh, dan ketiga Encik Sulong. Dari ketiga istrinya mendapat 15 orang anak, 6 laki-laki dan 9 orang perempuan. Anak beliau yang menjadi penulis bernama Raja Hasan. Cucu beliau yang juga menjadi penulis bernama Aisyah Sulaiman.

Raja Ali Haji memiliki enam orang saudara, yaitu; Raja Muhammad Said, Raja Haji Daud, Raja Abdul Hamid, Raja Usman, Raja Haji Umar, Raja Haji Abdullah. Usia 13 tahun pernah datang ke Batavia. Di usia 16 tahun ikut ayahnya berdagang ke Pulau Jawa.

Raja Ali Haji adalah seorang ulama yang saleh dan aktif menulis. Beliau juga seorang pengamal tarikat naksahbandi begitu juga dengan anggota kerajaan lainnya. Perlu diketahui juga, kata raja adalah gelar untuk bangsawan kesultanan Riau-Lingga keturunan Melayu Bugis. Oleh Hooykaas Raja Ali Haji dijuluki sebagai pengarang yang teramat pandai.

Kedudukan agama Islam yang begitu rupa dalam kerajaan Riau. Sehingga ilmu pengetahuan menjadi yang diutamakan, terutama tulis dan membaca. Dengan demikian menjadikan keluarga Kesultanan dan keluarga Yang Dipertuan Muda (perdana mentri) mengutamakan belajar, membaca lalu menjadi penulis.

Begitu juga dengan Raja Ali Haji, dari kecil dia sudah menyukai belajar dan menulis. Tumbuh dan besar dilingkungan istana yang menerapkan tradisi ulama, yaitu menulis. Selain itu, pengaruh dari sang ayah yang juga seorang penyair dan pengarang. Di umur 12 beliau sudah ikut terlibat dalam urusan Kesultanan Riau-Lingga dalam bimbingan ayahnya.

Berikut karya tulis dari Raja Ali Haji; Pertama, Bustanul al Katibin lis Subyan al Muta’alimin, naskah setebal 36 halaman dan ditulis sekitar tahun 1857. Karya kedua Pengetahuan Bahasa setebal 440 halaman. Di cetak di Singapura oleh Al Ahmadiah Press pada tahun 1926 dan ditulis kira-kira 1859 Masehi.

Ketiga, Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya, setebal 96 halaman dan ditulis sekitar tahun 1860. Pernah dicetak oleh sebuah majalah Islam bernama Al-Imam di Singapura tahun 1329 Hijriyah atau 1911 Masehi.

Keempat, Tuhfat al Nafis setebal 330 halaman ditulis sekitar 1865 dan pernah diterbitkan oleh the Malayan Branch Royal Asiatic Society Singapura tahun 1932.

Kelima, Gurindam Dua Belas ditulis sekitar tahun 1847 Masehi. Buku ini sudah disalin kedalam Bahasa Belanda  oleh E. Netscher. Keenam, Tsamarat al Muhimmah setebal 78 halaman. Pernah dicetak oleh Mathba’at al Riauwiyah di Pulau Penyengat Inderasakti 1275 Hijriyah.

Ketujuh, Mukaddimah fi Intizam al Wathaib setebal 18 halaman, naskah tersimpan di Leiden, Belanda. Kedelapan, Syair Suluh Pegawai naskah tersimpan di Yayasan Inderasakti Pulau Penyengat. Kesembilan, Syair Hukum Nikah naskah tulis tangan setebal 44 halaman juga tersimpan di Yayasan Inderasakti.

Kesepuluh, Syair Sinar Gemala Mestika Alam, terjemahan adaptasi dari Bahasa Arab. Dicetak oleh Mathba’at al Riauwiyah di Pulau Penyengat Inderasakti dan diterbitkan oleh Rusyidiah Klub 1311 H/1893 Masehi, setebal 70 halaman. Kesebelas, Syair Siti Sianah Syahibat Fatut wal Amanah, naskah tulis tangan setebal 70 halaman juga tersimpan di Yayasan Kebudayaan Inderasakti. Keduabelas, Syair Hukum Faraid ditulis sekitar tahun 1893. Ketigabelas, Syair Awal ditulis sekitar tahun 1863.

Karena hasil karya-karya tulis Raja Ali Haji yang sempurna. Menjadikan tata bahasa Melayu semakin baik. Sehingga digolongkan dengan istilah bahasa Melayu Tinggi atau Bahasa Melayu Tulis. Dari sistem tata bahasa dan hasil karya-karya dijadikan pedoman berbahasa Kolonial Belanda di Indonesia. Sedangkan Bahasa Melayu Renda atau Bahasa Melayu Pasar adalah istilah penyebutan bahasa Melayu yang belum dibakukan.

Bahasa Melayu kemudian dijadikan mata pelajaran bahasa di sekolah-sekolah semasa Pemerintahan Kolonial Belanda. Kemudian diterbitkan buku Tata Bahasa Melayu oleh Balai Poestaka pada tahun 1917 untuk diajarkan di sekolah-sekolah di Hindia Belanda (Indonesia), dikarang oleh K. Sasrasoegonda dengan judul, Kitab Jang Menjatakan Djalannja Bahasa Melajoe.

Pada tahun 1930-an mata pelajaran bahasa Melayu dihapus oleh Pemerintahan Kolonial Belanda dari sekolah-sekolah. Karena para kaum pergerakan diseluruh Hindia Belanda menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa Persatuan. Sebagaimana Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Dimana Bahasa Melayu kemudian di ganti nama menjadi Bahasa Indonesia. Karena kata Indonesia untuk menggantikan penyebutan Hindia Belanda. Perubahan nama Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia hanya sebatas perubahan nama saja.

Raja Ali Haji meninggal di Pulau Penyengat tahun 1970/1973. Karena jasa-jasa beliau yang telah melahirkan kesastraan besar untuk kesatuan Bangsa Indonesia (Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia). Maka beliau dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional dibidang bahasa pada tahun 2007. Karena sebagai peletak dasar Bahasa Indonesia. Raja Ali Haji dijuluki masa moderen dengan “Penegak Tiang Agung Peradaban Asia Tenggara.” Mengingat bahasa Melayu (Indonesia) menjadi bahasa mayoritas dan bahasa kawasan di Asia Tenggara.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 25 Agustus 2020.

Sumber:
UU Hamidy. Syair Suluh Pegawai (Hukum Nikah). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.
Ahmad Dahlan. Sejarah Melayu. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2014.
Jakob Sumardjo. Kesusastraan Melayu Rendah. Yogyakarta: Galang Press, 2004.
Koewatin Sasrasoegonda. Kitab Jang Menjatajan Djalannja Bahasa Melajoe. Jakarta: Balai Pustaka, 1986. (Buku Asli: Sasrasoegonda Koewatin. Kitab Jang Menjatajan Djalannja Bahasa Melajoe. Boekhandel en Drukkerij v/h G.C.T. VAN DORP & Co. Semarang-Soerabaia-‘s Gravenhage, 1917, cet. Ke-2. Redaktur: W.AL.Stokhof).


Sy. Apero Fublic.

10/23/2020

Mengenal Naskah Syair Suluh Pegawai (Hukum Nikah).

Apero Fublic.- Naskah Syair Suluh Pegawai atau Syair Hukum Nikah ditulis dengan aksara Arab Melayu oleh Raja Ali Haji. Raja Ali Haji salah satu keturunan Yang Dipertuan Muda pada Kesultanan Riau-Lingga. Gelar Raja menunjukkan kalau dia Bangsawan Kesultanan Riau-Lingga keturunan Melayu Bugis.

Naskah Syair Suluh Pegawai dan Naskah Syair Hukum Nikah isinya hampir sama. Tetapi dijumpai dalam tiga versi. Satu versi dalam bentuk cetakan. Satu versi dalam bentuk apograf (tulis tangan untuk dicetak). Satu versi lagi bentuk manuskrip tulis tangan.

Perbedaan dari kedua naskah; Syair Hukum Nikah yang tersimpan pada Perpustakaan Universitas Laiden, setebal 44 halaman. Naskah II, apograf daripada naskah I, sebanyak 112 halaman, dan ada beberapa halaman yang hilang. Naskah III, dari versi tercetak dari naskah II terdiri dari 48 halaman.

Naskah Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai merupakan syair yang berisi permasalahan pernikahan dan berumah tangga. Cara penyampaiannya ditulis dalam bentuk syair berirama hampir sama dengan pantun.

Rumah tangga yang baik dan bahagia harus berpangkal dengan ilmu pengetahuan. Maka dalam pernikahan dan tatacara pernikahan bermulah dari hukum Islam. Dengan demikian, Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai memberikan pedoman dalam kehidupan berumah tangga. Berikut cuplikan dari naskah Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai.

Pasal Yang Pertama Pada Menyatakan Arkan al-Nikah.

30.Rukun nikah lima perkara.
Wali dan saksi pokok bicara.
Ijab dan qabul hendaklah segera.
Laki isteri masuk ketara.
 
31.Syaratnya itu merdeheka dan adil.
Taklik syara’ baliq dan aqil.
Segala lawannya jangan diambil.
Nisacaya ib’ad boleh menggapil.
 
32.Tertib wali sudah berjangka.
Seperti tertib mengambil pusaka.
Tiadalah banyak lagi direka.
Menuntut ilmu janganlah leka.
 
33.Syarat saksi pula dijalan.
Merdeheka laki-laki adil handalan.
Islam taklif bukan balalan.
Berkata mendengar melihat pengenalan.
 
34.Hendaklah dua orang saksi itu.
Jangan sekali dikurangkan satu.
Jika lebih terlebih tentu.
Di dalam hukum tersebut begitu.

Arti Qarna’.

75.Adapun qarna’ ampunya arti.
Faraj tersempal tulang dililihati.
Gendalanya besar nyatalah pasti.
Hendak mudik jadi terhenti.

76.Nilah penyakit yang amat sukar.
Dukun tiada dapat membongkar.
Apalagi berubi berakar.
Tiadalah boleh diganti dan tukar.

77.Pada laki-laki puntung kemaluan.
Atau mati tidak melawan.
Tiada berguna pada perempuan.
Meskipun dia kaya hartawan.

78.Tetapi jikalau sedikit melintuk.
Tatkala berdekat tidak mematuk.
Atau karena bersin dan batuk.
Atau terkadang patahnya bentuk.

79.Sekedar demikian tiadalah sesak.
Makan sedikit air madu masak.
Dengan telur setengahnya masak.
Insya Allah boleh menggasak.

Itulah sedikit cuplikan dari naskah Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai karya Raja Ali Haji dari Kesultanan Riau-Lingga. Bagi Anda yang memiliki sedikit permasalahan dalam hubungan seks bersama istri. Pada bait 78 dan 79 merupakan saran untuk menguatkan kemaluan Anda.

Untuk para pecinta sastra, penulis, novelis, akademisi atau para peneliti kesastraan (mahasiswa-mahasiswi). Dapat menjumpai naskah tersebut di Perpustakaan Inderasakti di Pulau Penyengat Provinsi Riau sekarang.

Atau anda ingin lebih tahu tentang buku transliterasi dari Naskah Syair Hukum Nikah atau Syair Suluh Pegawai dapat menjumpai di Perpustakaan Daerah atau Perpustakaan Nasional Pusat di Jakarta. Buku diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Terdiri dari 164 halaman, pada tahun 1990 dengan tim pengkaji; UU. Hamidy, Hasan Junus, R. Hamzah Yunus, dan Ahmad Yunus.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 24 Oktober 2020.
Sumber: UU. Hamidy, Dkk. Syair Suluh Pegawai (Hukum Nikah). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.

Sy. Apero Fublic.

10/22/2020

10/20/2020

Mengenal Regalia: Pusaka Penobatan Sultan Riau-Lingga dan Daerah Taklukannya.

foto hanya ilustrasi
Apero Fublic.- Kesultanan Riau-Lingga adalah kelanjutan dari dinasti Melayu, dari Kesultanan Malaka. Setelah Malaka di Rebut Portugis tahun 1511, keturunan sultan menebar dan membangun kesultanan-kesultanan baru.

Salah satunya adalah terebentuknya Kesultanan Riau dan kemudian pindah ke Lingga. Maka dikenal dengan Kesultanan Riau-Lingga dengan sultan pertama Sultan Abdul Rahman Muazam Syah I, pada 1819/1824-1832.

Kesultanan Riau-Lingga dalam melantik sultan harus memakai alat nobat kebesaran pusaka kerajaan. Alat kebesaran meliputi Cogan bernama “Sirih Besar” yang bentuknya seperti daun siri dan tulang daun dari perak. Selain cogan perlengkapan nobat juga terdapat, gendang nobat, sebuah pedang emas berhulu panjang dan rantai sayap sandang, juga sekalian pusaka turun temurun lainnya. Semua perlengkapan tersebut dinamakan regalia.

Menurut Hasan Junus makna frasa kata cogan adalah; Yaitu nama bagi kebesaran Melayu, yaitu mas yang dibuat seperti daun-daun kayu dan tersurat nama sultan di sana. Apabila raja berangkat atau berjalan cogan itulah yang berjalan dahulu.

Simbol cogan memiliki arti kebesaran dimana emas sebagai alatnya. Emas adalah logam mulia yang mahal menyimbolkan kebesaran dan kemewahan. Sedangkan daun menyimbolkan pepohonan yang besar dan rindang. Lalu tumbuh dan berakar meneduhkan serta berbuah dan berkembang biak.

Pusaka kerajaan tersebut sangat penting untuk penobatan seorang sultan di Kesultanan Riau-Lingga. Pada tahun 1722, pusaka kerajaan (regalia-cogan) diambil dari Siak. Karena sebelumnya pusaka kerajaan diambil Raja Kecik (Sultan). Setelah Raja Kecil digulingkan oleh Tengku Sulaiman dan lima Upu Bugis. Untuk menobatkan Tengku Sulaiman menjadi Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I. Menunggu datangnya pusaka kerajaan dari Siak.

Pada cogan yang berbentuk daun sirih besar tertulis dalam aksara Arab Melayu yang berbunyi. “Hua-hua, bismillah al-rahman al-rahim bahwa inilah raja yang diketurunan dari Bukit Siguntang asalnya daripada baginda Sultan Iskandar Zulkarnain dan ialah raja yang adil lagi berdaulat yang mempunyai takhta kerajaan serta kebesaran dan kemuliaan kepada segala negeri yang di dalam daerah tanah Melayu dan kurnia Tuhan rabbul ‘arsil’azim atasnya dan dikekalkan Allah subhanahu wa ta’ala di atas kerajaannya ditambahi Allah pangkatnya yang kebesaran serta derajahnya yang kemuliaan di dalam daulat sa’adati Allahi wa akhlada allahumma mulkahu wa sultanaha wa abdaha ‘adlahu wa insanahu bijahi al-nabi sayyidi al-mursalina wa’alihi wa shahbihi ajma’in amin alahumma amin, tamat.”

Apabila kita cermati dari kata-kata yang tertulis pada cogan berbentuk daun siri tersebut. Menyatakan kalau kesultanan Riau-Lingga adalah keturunan raja-raja dari kerajaan Sriwijaya dan asal usul Melayu dari Bukit Siguntang di Palembang. Memang di Sumatera Selatan dan pulau sumatera lainnya adalah kawasan kebudayaan Melayu.

Pada tahun 1822 adanya misi ke Betawi atau Batavia menemui Gubernur Jendral Belanda A.G.Ph. van der Capellen. Menurut Hasan Junus membicarakan pengembalian regalia dan pusaka kerajaan lainnya yang saat itu masih disimpan Engku Putri Raja Hamidah kepada Sultan Abdul Rahman.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 20 Oktober 2020.

Ahmad Dahlan. Sejarah Melayu. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2014.
Husni Rahim. Sistem Otoritas & Administrasi Islam. Jakarta: Logos, 1998.

Sy. Apero Fublic.