Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

6/15/2019

Profil Perusahaan HNI-HPAI

Apero Fublic.- PT. Herba Penawar Alwahida Indonesia (HPAI). Halal Network International (HNI), yang kemudian dikenal sebagai HNI-HPAI, merupakan salah satu perusahaan Bisnis Halal Network di Indonesia yang fokus pada  produk-produk herbal. HPAI, sesuai dengan akta pendirian Perusahaan, secara resmi berdiri pada tanggal 19 Maret 2012.

Selain itu perusahaan juga memiliki Dewan Syariah, Dewan Komisaris, dan Dewan Direksi. Agen stok sudah terdapat di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia dan Thailand. HNI-HPAI memiliki Sertifikat DSN (Dewan Syariah Nasional)- MUI Pusat, sebagai bentuk legal formal pengesahan bahwa Bisnis Halal Network-HPAI telah memenuhi prinsip-prinsip Syariah Islam.

HNI-HPAI menjual produk-produk yang dijamin 100% Halal, karena semua produk-produk HPAI diawasi langsung oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan kepahaman tentang kehalalan produk.

HNI-HPAI dibangun dari perjuangan panjang yang bertujuan menjayakan produk-produk halal dan berkualitas berazazkan Thibbunnabawi, serta dalam rangka membumikan, memajukan, dan mengaktualisasikan ekonomi Islam di Indonesia enterpreneurship. Moto perusahaan “halal is my way. Visinya menjadi referensi utama produk halal berkualitas. Misi, menjadi perusahaan jaringan pemasaran papan atas kebanggaan umat Islam.

Menjadi wadah perjuangan penyediaan Produk Halal bagi umat Islam. Menghasilkan pengusaha-pengusaha muslim yang dapat dibanggakan, baik sebagai pemasar, pembangun jaringan maupun produsen. Alamat pusat, Komplek Billy dan Moon, Jalan Kelapa Kuning IX Blok H-2 Nomor 6, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur 13450 Indonesia.


HNI-HPAI menawarkan empat jenis produk. Pertama Herbs Products. Obat herbal halal, diantaranya seperti Andrographis Centella yang berfungsi melindungi fungsi hati, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menurunkan panas, menghilangkan rasa nyeri, dan antibiotik alami, dan sebagainya.

Kedua, Healthfoods dan beverages seperti Madu Asli Multiflora yaitu madu asli tanpa bahan tambahan lain yang terjamin mutu dan keasliannya serta lebih terjaga keutuhan kandungan gizinya, dan sebagainya. Cosmetics and Home Care, jenis kosmetik halal dan aman.

Seperti beauty Day Cream berfungsi untuk membantu melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari, serta merawat kulit tetap sehat, dan jenis produk kosmetik lainnya. Fashion and Lifestyle seperti beragam HNI Hijab, HNI Mukena, Sarung HNI, dan jenis fashion lainnya.

Sy. Apero Fublic

Ade Rahmadahnia. Misteri Kehidupan


Kehidupan merupakan kesempatan kita mencurahkan potensi pada diri kita untuk orang yang kita cintai. Dari orang tua, saudara-saudara kita, kerabat, sahabat, masyarakat dan tentu seseorang spesial. Pada merekalah kita berbagi suka maupun duka dalam kehidupan ini. Kehidupan juga anugrah tuhan yang paling berharga untuk kita sebagai manusia. Maka kita manfaatkan sebaik-baiknya, terutama untuk menjadi manusia baik, bermanfaat bagi masyarakat dan membanggakan keluarga. Oleh sebab itu, tentu adanya kesempatan untuk berbuat sesuatu, jangan pernah kita sia-siakan oleh perbuatan tidak baik kita. Apalagi kita sebagai seorang yang memiliki pendidikan cukup. Tentu dapat memilah dan memilih jalan kebaikan dan terbaik.
    Hidup seperti misteri yang perlu kita kuak kerahasiaannya. Harus kita hadapi bukan kita hindari. Misteri bukan hal yang menakutkan tetapi hal yang menenangkan. Sehingga darinya kita dapat menemukan pelajaran dan pengalaman kehidupan. Aku tidak banyak bermimpi dengan kehidupan ini. Aku hanya ingin memiliki sedikit kebahagiaan dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang. Menurutku hidup tidak perlu menjadi sangat hebat. Cukup memnjadi manusia yang menyenangkan dan memberi kebaikan pada orang-orang. Hidup bukan juga tentang cinta saja, suami dan anak-anak. Tetapi lebih dari itu, ada ibadah, ada cobaan, ada derita, ada kewajiban, ada agama yang harus di taati, dan aturan-aturan. Kalau kita hanya memikirkan tentang cinta saja, alangkah egoisnya kita sebagai manusia. Misteri yang tidak berkahir selagi kita masih hidup. Jadi jangan takut, hadapilah dan terus berjuang.

KEHIDUPAN

Kehidupan itu bagai misteri
Sulit diprediksi, atau dikira
Rencana, keinginan dan harapan
Indah kita atur, Sedemikian rupa
Sempurnalah kita rancang,
Kita desain bagai tatakan arsitektur
Namun berantakan bagai diterpa badai petaka

Kemudian cacat, kadang hancur bagai kepingan kaca, jatuh.
Disanalah kelelahan kita.
Namun, kehidupan butuh mimpi
Mimpi di mana kita berada di langit
Merabah bulan, memetik bintang-bintang
Karena mimpi akan menuntun kehidupan
Walau kadang kita terlalu cepat terbangun

Kehidupan
Memulai langkah dari mimpi
Kadang menghancurkan logika.
Logika kita, logika orang-orang
Namun, selagi mimpi sempurna, baik
Bermimpilah kawan
Orang bilang, setinggi langit.
Kita bilang di atas langit

Jangan ragu dengan kenyataan mimpi
Sebab doa-doa dan usahamu menyatu
Menghantar mimpi menjadi nyata
Perjuangan mu, air matamu
Ibarat bunga menjadi buah, dan terasa manis nanti

Disanalah adah alur, bagai metamorfosis
Dalam mimpi itu, ada proses yang sulit
Bersabarlah, tawakallah
Pada masanya, matamu bercahaya
Berkelip bagai bintang
Berbinar dalam kebahagian
Diantara orang-orang yang kau sayang

Sekilas tentang penyair, Nama lengkapnya Ade Rahmadahnia. Lahir di Kota Palembang pada 6 Februari 1998. Warna kesukaannya adalah warna pink, hobi membaca dan travelling. Sedangkan untuk makanan pavorit adalah menyukai mie ayam bakso. Setelah selesai kulia dia bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha. Terutama di dunia pakaian atau fashions. Moto hidupnya Ade "Walau beribu rintangan akan ia hadapi, dan terus berjuang, berjuang, dan berjuang. Dia akrab dipanggil dengan Ade saja. Kadang ada juga yang memanggil dengan Rahma. Ade mahasiswa smester akhir di  Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, di Fakultas Syariah. Dia mengambil bidang studi Perbandingan Mahzab. Kalau mau tau lebih lanjut follow IG-nya: aderahmadahnia2663.

Oleh: Ade Rahmadahnia
Palembang, 28 Oktober 2018.
Sumber foto. Adeh Rahmadahnia
Editor: Joni Apero.
Catatan:
Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama:
Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya. Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero FublicwhatsApp: 081367739872. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

By. Apero Fublic

Adab Mengisi BBM di SPBU


Apero Fublic.- ering kita mengisi bahan bakar motor kita, di SPBU. Biasanya antrian sangat panjang bagai ular raksasa. Nah, saat antrian ini sering kali pengendara motor tidak mematikan mesin kendaraannya. Dia begitu malas menuntun atau mendorong sepeda motornya dengan kakinya.

Bau gas knalpot menerpa wajah pengantri di belakangnya, dan berbauh menusuk hidung, bahkan membuat kepala pusing. Hal seperti ini hampir terjadi di setiap SPBU. Entah mengapa mereka tidak sadar bahwa mereka membuat orang di belakang mereka pekak oleh suara kendaraannya, dan pusing oleh bauh gas knalpotnya.

Hal demikian menunjukkan keegoisan diri dan kurang memperhatikan sekitar. Serta kurangnya sikap kesantunan sosial di tengah masyarakat. Kadang ingin memberi teguran pada orang-orang seperti itu, tetapi takut disalah pahami, maka akan terjadi cekcok dan mungkin perkelahian.


Maka dari itu, ada baiknya apabila anda sedang antri mengisi bahan bakar di SPBU agar mematikan mesin kendaraan bermotor anda. Sebab begitu merepotkan bagi yang di belakang anda, lebih untung kalau dia di belakang anda, seorang dewasa, bagaimana apabila dia membawa balita, atau anak kecil, tentu akan menjadi sumber racun pada pernafasan mereka yang masih lembut.

Bayangkan apabila kita di posisi belakang seperti itu, bayangkan apabila kita yang sedang membawa anak kita. Maka, matikanlah mesin  sepeda motor saat anda mengantri di SPBU. Bersabar dan bersikap rama pada petugas, dan pengantri yang lainnya.


Adab pertama adalah mematuhi aturan pengisian di SPBU, seperti jangan menerima panggilan telpon, jangan merokok, dan matikan mesin saat mengisi bahan bakar. Yang perlu anda lakukan pertama adalah saat mengisi bahan bakar di SPBU adalah antri. Kedua saat antri matikan mesin motor anda.

Ketiga, saat mendekati pengisian, buka tangki bensin anda dan tutup terbalik agar mudah saat sampai pada tangki pengisian. Keempat, siapkan uang anda, kalau perlu uang pas karena akan mempercepat jalan antrian, sebab mungkin ada yang mau cepat karena tugas dan sebagainya. Kelima, setelah menutup tangki motor anda, majukan motor anda agar pengatri lain memajukan motornya.

Jangan anda naik, mengendarai di tempat pengisian, sebab memakan waktu dan membuat kesal orang yang antri di belakang anda. Sering sekali pengendara yang naik, lalu menstarter motornya di posisi tadi mengisi bahan bakar, sehingga yang antri lama menunggu. Demikian semoga bermanfaat bagi kita semua.


Oleh: Joni Apero.

Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 26 November 2018.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama. Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


Sy. Apero Fublic

Sinergi Aktor Pembangunan Infrastruktur Digital di Era Generasi Milenial


Apero Fublic.- Generasi milineal merupakan generasi yang paling banyak diperbincangkan. Dapat dikatakan generasi milenial adalah generasi muda masa kini yang berusia dikisaran 15–34 tahun. Secara jumlah populasi penduduk Indonesia yang berusia antara 15-34 tahun pada tahun 2018 sangat besar, yaitu sebesar 33,12 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi milenial merupakan generasi yang unik karena generasi ini merupakan generasi yang kehidupannya tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet.


Penggunaan teknologi penduduk Indonesia diyakini akan terus meningkat seiring dengan gaya hidup generasi milenial. Berdasarkan data BPS 2018, penduduk Indonesia yang mengakses internet tahun 2018 sebesar 39,90 persen meningkat 7,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya.Penggunaan telepon seluler dan komputer diyakini juga akan mengalami peningkatan, BPS mencatat penduduk Indonesia yang menggunakan telepon seluler pada tahun 2018 sebesar 73,77 persen dan komputer sebesar 19,10 persen.


Teknologi akan terus berkembang seiring dengan gaya hidup masyarakat milenial. Berdasarkan data BPS 2017, sebesar 79,13 persen pengguna internet menggunakan internet untuk mengakses media sosial. Sedangkan tujuan lainnya sebesar 65,97 persen untuk mendapatkan informasi/berita, 45,07 persen untuk hiburan, 11,45 persen untuk mendapatkan informasi/jasa, dan 8,10 persen untuk pembelian barang/jasa. Ini artinya, teknologi membuat kehidupan generasi milenial menjadi lebih praktis karena dalam satu perangkat mobile dan internet generasi milenial dapat melakukan semua aktivitas.


Lalu apakah semua generasi milenial sudah mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengakses teknologi digital? Seharusnya semua generasi milenial mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengakses teknologi digital. Namun sayangnya, belum meratanya infrastruktur digital membuat manfaat dari teknologi digital ini belum dinikmati seluruhnya oleh generasi milenial di Indonesia.


Infrastruktur digital di Indonesia

Meningkatnya penggunaan teknologi digital, membutuhkan infrastruktur digital yang mendukung. Hal ini penting karena di era serba digital pemanfaatan teknologi yang berbasis internet membutuhkan jaringan internet dengan kecepatan tinggi dan jaringan komunikasi yang baik. Salah satunya adalah ketersediaan Base Transceiver Station (BTS) yang merupakan infrastruktur utama yang mempengaruhi kekuatan sinyal telepon seluler dan kekuatan sinyal internet.


Berdasarkan hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2018, jika dilihat berdasarkan keberadaan BTS, 38 persen desa/kelurahan di Indonesia sudah mempunyai BTS, 62 persen lainnya belum mempunyai BTS. Jika ditinjau berdasarkan kekuatan sinyal telepon seluler sebesar 66 persen desa/kelurahan di Indonesia memiliki kekuatan sinyal telepon seluler yang kuat, sebesar 34 persen lainnya memiliki kekuatan sinyal telepon seluler yang lemah dan tidak ada sinyal. Berdasarkan kekuatan sinyal internet, sebesar 35 persen desa/kelurahan di Indonesia memiliki kekuatan sinyal internet 4G/LTE, sedangkan 65 persen lainnya non 4G/LTE.


Masih terjadi ketimpangan infrastruktur digital di Indonesia

Infrastruktur digital seharusnya dapat diakses dan dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk generasi milenial. Namun berdasarkan data BPS (Podes 2018), masih terdapat ketimpangan infrastruktur digital antar provinsinya. Provinsi Papua merupakan provinsi yang keberadaan infrastruktur digitalnya paling tidak memadai.


Dapat terlihat dari keberadaan BTS, hanya sebesar 6 persen desa/kelurahan di Provinsi Papua memiliki BTS, sisanya 94 persen belum memiliki BTS. Jika dilihat berdasarkan kekuatan sinyal telepon, hanya 16 persen desa/kelurahan di Provinsi Papua memiliki kekuatan sinyal telepon seluler yang kuat, sisanya 84 persen memiliki kekuatan sinyal telepon seluler yang lemah dan tidak ada sinyal. Berdasarkan kekuatan sinyal internet, sebesar 10 persen desa/kelurahan di Provinsi Papua memiliki kekuatan sinyal internet 4G/LTE, sedangkan 90 persen lainnya non 4G/LTE.


Berbeda halnya dengan Provinsi DKI Jakarta yang merupakan provinsi yang paling baik dalam keberadaan infrastruktur digitalnya. Sebesar 84 persen kelurahan di Provinsi DKI Jakarta sudah memiliki BTS, sebesar 92 persen kelurahan di Provinsi DKI Jakarta memiliki sinyal internet 4G/LTE. Bahkan sebesar 100 persen kelurahan di Provinsi DKI Jakarta sudah memiliki kekuatan sinyal telepon seluler yang kuat. Ini berarti infrastruktur digital di Provinsi DKI Jakarta sangat memadai.


Peran Aktor Pembangunan dalam SDGs

Bagaimanapun teknologi digital tidak akan dapat dinikmati manfaatnya selama masyarakat tidak memiliki akses terhadap infrastruktur digital dan perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang memadai. Oleh karena itu, pentingnya peran Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mengurangi kesenjangan di dalam pembangunan infrastruktur digital.


SDGs dirancang secara partisipatif dengan melibatkan seluruh aktor pembangunan, baik pemerintah, swasta, akademisi, dan sebagainya. Pemerintah saat ini terus mendukung pencapaian SDGs agar akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi dapat terjangkau bagi semua. Salah satu peran nyata pemerintah dalam mendukung ketersediaan akses teknologi informasi dan komunikasi lebih luas adalah dengan membuka proyek pengadaan satelit multifungsi.


Proyek ini merupakan salah satu contoh sinergi kuat berbagai elemen negeri & Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah koordinasi Kementerian Keuangan, PT PII (Penjaminan Infrastruktur Indonesia), dan PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur) untuk menyediakan internet cepat ke seluruh daerah.


Dalam proyek strategis nasional ini, PT SMI ditunjuk sebagai Lead Transaction Advisor untuk mengawal & mendampingi pemerintah dalam menjalankan perannya sebagai katalis dalam percepatan pembangunan infrastruktur nasional. Kedepannya proyek ini akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya seperti melengkapi ketersediaan akses internet di daerah pelosok, mendukung jaringan komunikasi untuk 93.900 sarana pendidikan, 47.900 kantor Pemerintah Daerah, 3.700 sarana kesehatan, dan 3.900 kantor Administrasi Pertahanan & Keamanan, serta memangkas biaya penggelaran jaringan fiber optik hingga 75%.


Program SDGs yang sedang digencarkan pemerintah saat ini juga membutuhkan peran dari generasi milenial. Karena generasi milenial inilah yang nantinya akan menjadi motor penggerak dari program pembangunan berkelanjutan. Peran generasi milenial dapat kita terapkan mulai dari hal yang sederhana di dalam kehidupan sehari-hari. Seperti memanfaatkan akses internet yang sudah disediakan pemerintah dengan bijak. Internet dapat dijadikan ajang belajar yang dapat menambah ilmu pengetahuan dan informasi pendidikan yang bemutu.

Selain itu, dengan adanya internet, kita bisa mengakses tutorial yang bisa mengembangkan keterampilan khususnya di bidang IT. Generasi mienial juga harus bijak dalam penggunaan sosial media dengan menangkal informasi-informasi hoaks yang beredar di tengah masyarakat. Di era yang serba digital, generasi milenial harus lebih kreatif dan inovatif sehingga mendorong jiwa kewirausahaan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi yang lain.


Dengan adanya sinergi antara aktor pembangunan baik dari pihak pemerintah maupun generasi milenial dapat mendukung percepatan pencapaian SDGs khususnya dalam rangka mengurangi ketimpangan infrastruktur digital, menyediakan pendidikan bermutu, dan mengurangi kemiskinan di Indonesia. Sehingga harapannya Indonesia dapat lebih baik lagi. Semoga.
Foto Ibu Sri Mulyani Menteri Keuangan Republik Indonesia. Memberikan hadia pada para pemenang lomba menulis. Beliau sudah dipercaya menjadi menteri keuangan sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kemudian juga dipercaya oleh Bapar Presiden Jokowidodo sebagai Mentri Keuangan Indonesia.

Oleh. Ade Rahma Dahnia.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 18 Maret 2019.
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.(Dipublikasikan Apero Fublic).

Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

6/14/2019

Kisah Cinta Yang Hilang


Apero Fublic.- Aku akan bercerita tentang kisah saat pertama kali aku mengenal rasa cinta. Waktu itu aku belum mengerti apa-apa tentang cinta. Aku belum tahu dan belum menyadari bahwa aku jatuh cinta. Kisa ini berawal dari pertemuan yang tidak terduga dengan seseorang.

Hari itu, aku berkunjung kerumah salah seorang kerabat di sebuah Talang (kampung), Talang Seribu Bambu namanya. Letaknya tidak begitu jauh dari Talang ku, Talang Durian Rimba. Durian rimbah adalah nama jenis buah-buahan. Durian rimbah varian berbeda dengan durian biasa. Bentuk duri durian rimbah panjang-panjang lancip sekitar 10 sampai 15 cm. Cara membuka isinya juga berbeda dengan durian biasa.

Kalau durian biasa membela memanjang, durian rimbah memotong dua pada pertengahan buah. Tetapi rasa dan baunya, biji, warna isi tetap sama dengan durian biasa. Sekarang durian rimbah sudah mulai punah bahkan mungkin sudah punah, semoga ada ahli botani yang mau menyelamatkan durian rimbah. Kisa ini terjadi pada tahun 2004 silam, waktu itu aku baru berumur 13 tahun.

Di pedalaman sebuah kecamatan di Kabupaten Musi Banyuasin terdapat kawasan yang di lalui jalan perusahaan minyak negara, pertamina. Di sepanjang jalan itu, terbentuklah puluhan pemukiman kecil masyarakat yang mereka namai dengan Talang. Talang sama artinya dengan kampung.

Setiap Talang dihuni 30 sampai 40 keluarga yang hidup dari bertani dan berkebun. Talang di pimpin oleh seorang Kepala Dusun atau disebut Kadus. Rumah-rumah penduduk masih sederhana, beratap seng, daun rumbia, dan daun nipa. Tetapi sudah banyak juga bangunan rumah yang sudah bagus seperti ruma di desa-desa, bentuk gedung atau rumah panggung besar.

Dalam waktu sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, talang-talang ini akan menjadi pedesaan juga. Hari itu, cerah dan indah. Langit membiru dengan awan yang putih bersih. Berarak bagai iringan pawai para dewa-dewa memantau kehidupan bumi.

Beburung terbang menikmati alam yang damai. Seekor kucing berlari-lari mengejar tikus diantara semak-semak dipinggiran Talang Seribu Bambu. Dinamakan Talang Seribu Bambu karena banyaknya bambu yang tumbuh disekitar Talang. Konon orang pertama yang membuka pemukiman Talang, pada awalnya menebang banyak rumpun bambu untuk lokasi talang.

Suatu hari, seorang gadis seumuran dengan ku, berjalan menyusuri jalan di tengah Talang Seribu Bambu. Aku dapat melihat dengan jelas, alangkah cantiknya pikir ku gadis ini. Berhijab syariah, kulitnya putih bersih tercermin dari jemari tangan dan wajahnya, dan harum sekali saat ia berlalu. Ia berjalan menuntun adiknya yang baru berumur enam tahun.

Wajahnya yang putih alami bersemu merah terkena cahaya matahari sore. Aku tertegun melihatnya, dan ia melihat ku sambil melempar senyuman manis. Setelah tersenyum ia kembali menole adiknya, dan menuntunya. Aku yang mematung di pinggir jalan begitu kesal karena tidak membalas senyumnya. hampir terlepas barang belanjaan ku.

Sampai si gadis berlalu dan jauh, hingga tak terlihat lagi. Aku menyaksikan itu dengan penuh harap, kalau si gadis kembali berbalik melewati di depan ku. Namun ia semakin jauh berjalan. Tanpa menole ke belakang sedikit pun, lalu menghilang di kelok jalan. Tinggallah burung dan angin yang berlalu, menyapa ku seakan mereka hendak mengganti keindahan itu. Aku kembali ke rumah paman, dan memberikan belanja kepada bibik, sembako.

Soreh itu berlalu, panen singkong paman selesai. Aku pulang ke kampungku bersepeda dan keranjang penuh dengan singkong yang diberikan oleh paman. Sebab aku yang sudah membantunya, kebetulan ibu juga mau bikin keripik singkong. Bagiku singkong goreng sudah enak, kok. Waktu berlalu, aku sudah tidak memikirkan gadis cantik yang aku lihat saat pulang dari warung itu.

Suatu hari aku kembali ke Talang Seribu Bambu, kerumah paman. Ia juga meminta aku membantunya untuk membetulkan geteng rumahnya. Sesunggunya paman meminta ayah untuk datang, tetapi ayah sibuk, maka aku yang menggantikan ayah. Dengan bersepeda aku menyusuri jalan, naik dan turun bukit.

Karena memang pola permukaan tanah berbukit-bukit. Waktu itu pukul sepuluh pagi. Tetapi cuaca tidak begitu bagus, suara guntur, angin dan mendung. Hal seperti ini biasa di wilayah tropis. Setengah jam bersepeda aku sampai di Talang Seribu Bambu. Tetapi hari tidak tahan lagi sepertinya, hujan segera turun dengan deras.

Beruntung di pinggir jalan Talang Seribu Bambu ada pos jaga warga, yang berbentuk rumah kecil persegi empat. Beratap seng, ada bangku  papan memanjang, pos jaga berdinding setengah sehingga dapat melihat kesekeliling. Aku menyandarkan sepeda, dan berlari masuk kedalam pos jaga warga. Ternyata di dalam pos jaga itu ada dua orang gadis seusia dengan aku, dan seorang anak kecil berseragam sekolah dasar.

“Assalamualaikum.
“Waalaikumsalam. Jawab mereka.
“Alhamdullah hujan juga, lagi. Guman ku. Aku memperhatikan dua gadis kecil itu, mereka berdua sumuran denganku. Adik laki-laki sibuk bermain mobil-mobilnya. Aku diam karena tidak tahu hendak berbicara apa. Aku memutar otak mencari alasan untuk berbicara. Dengan pertanyaan sederhana sekali. Apabila di ingat sekarang alangkah lugunya aku.

“Siapa nama adik-nya?
“Azzam, kak. Jawab si gadis yang aku lihat beberapa minggu lalu. Ia rapi cantik sekali dengan hijab hitam itu, penilaian ku. Ternyata aku mata keranjang juga waktu remaja. Sementara si gadis satunya membisu, dan sesekali ia merapikan hijabnya berwar hijau muda. Kadang ia juga ikut menimpali dan bercanda. Kami kedinganan juga karena suasana hujan dan angin.

“Kelas berapa?
“Baru kelas satu SD. Si adik kecil cuma tersenyum malu, dan terus bermain mobil-mobilnya. Ia ingin sekali bermain air hujan, tetapi kakaknya yang cantik melarangnya. Lama berbincang, sampai aku menanyakan aktifitasnya di malam hari, kepo juga dulu yah.
“Kalau malam, apa kegiatan adik berdua?
“Adik, mengaji di mushollah Al-Muhajirin, Uwa Ibrahim gurunya.
Aku melirik si cewek satunya, ia seakan mengerti dan berkata, tepat seperti yang aku pikirkan.
"Saya juga, selain mengaji kami juga bantu Uwa Ibrahim mengajar iqra adik-adik yang baru belajar.

Begitulah kira-kira perbincangan sederhana yang kaku itu. Sementara hujan terus turun bertambah lebatnya. Air hujan mengalir deras menyusuri selokan, dan lekuk-lekuk tanah bagai sungai-sungai kecil. Cuaca dingin sekali apalagi saat angin berhembus.

Aku banyak bertanya sekadarnya, tentang kerja, letak rumah, berapa beradik. Mereka bilang kalau mereka itu adalah sepupuan. Kadang kami tertawa, atau tersenyum. Sepertinya dalam waktu sebentar kami bertiga mulai akrab, begitupun dengan adik kecil sudah mulai memanggil aku kakak. aku juga belajar gombal loh, tetapi aku pura-pura tidak gombal.

“Oh, alangkah elok adik, ni. Sudah cantik, pandai mengaji lagi. Beruntunglah lelaki yang berjodoh dengan adik nanti.
“Ah, jangalah memuji kak, biasa saja. Wanita muslim memang wajib pandai mengaji. Sebab ia adalah madrasa pertama anak-anaknya nanti.

"Gombal, sifat kaum lelaki tulen. jawab sepupunya.
“Kakak, tak memuji, hanya berbicara apa adanya. Tetapi mereka tidak meladeni kelakar aku ini. Mala balik bertanya tujuan ku.
“Kakak mau kemana?
“Kakak hendak kerumah paman dik. 
“Siapa nama paman kakak?
“Sulaiman, istrinya Hamida.
“Oh, ke tempat paman Sulaiman.
“adik kenal?
“Iya kenal, kan talang saya. Sesungunya, bibik Hamidah masih kerabat ibu saya juga.
“Oh. Bibik tak pernah cerita kalau punya kerabat cantik?
"Ya, karena bibik kakak tahu, kakak itu calon cowok gombal. Menurut saya hidup kakak akan penuh dengan kata-kata cantik. Kemudian kami tertawa bersama.
"Tempat mengajinya di mana dik?

Aku bertanya lagi, lupa atau grogi yah. Atau memang aku yang tidak pandai berkata-kata, dasar aku memang berantakan. Tetapi mereka tetap menjawab dan menjelaskan.

"Di mushollah Al-Muhajirin. Jawab sepupunya, dan di jelaskan oleh si cantik kata saya tadi.
“Di ujung jalan sana, lihat dari sini, yang ada pohon kelapa di halaman depan, kak. Menjawab sambil menunjuk.

“Iya Dik. Jawab ku tanda mengerti, sambil tersenyum simpul. Hujan pun sudah redah, bahkan rintik tidak ada lagi. Langit kembali biru, dan bersih. Burung kembali beterbangan, bersuara merdu. Beberapa orang warga sudah berlalu di jalan-jalan becek. Mungkin sekitar dua jam lamanya hujan turun.
“Kak, mohon diri dulu yah. Hujan sudah redah. Assalamualikum.
“iya, silakan. Waalaikumsalam.

Gadis cantik, berkerudung hitam itu melangkah setengah berlari. Ia menggendong adiknya, di pundaknya, sebab jalan masih becek. Sepupunya mengikuti dari belakang. Satu sesalku adalah, aku tidak menanyakan namanya. Kembali aku menyesali kebodohan luar biasa.

Waktu kembali berlalu dengan cepat. Walau aku sering teringat sedikit-sedikit dengan si gadis itu, tetapi aku tidak begitu peduli dengan daya ingat itu. Suatu ketika, aku bermain dengan tiga orang temanku ke Talang Seribu Bambu, Azhari, Muzzaki, dan Parsah. Menghadiri sekaligus membantu persiapan acara pernikahan seorang kerabat bibik Hamidah. Disanalah awal keakraban aku dan gadis cantik, yang sering lewat bersama adiknya.

Gadis yang bertemu tidak sengaja saat bertedu dari hujan lebat. Hujan memang membawa rahmat, selain memberi kehidupan di dunia, hujan juga menjadi sebab pertemuan insan-insan. Di tempat pengantin itu, kami bercerita sambil mengerjakan persipan resepsi, seperti melipat tissue, membuat janur kuning, atau menata perlengkapan. Kami gembira dan bahagia sekali, lupa waktu.

Disini tanpa berkenalan akhirnya kami saling mengenal nama, saat orang-orang yang kenal memanggil namaku dan memanggil nama Fadiyah. Aku akui aku memang grogi loh, tanya nama. Tapi jangan bilang sama orang-orang yah, rahasia lelaki. Dalam percakapan sambil melipat tissue untuk resepsi. Ternyata namanya indah sekali, Asilah Fadiyah, dipanggil Fadiyah, dan nama sepupunya Askana Havika, dipanggil Kana.

“kenapa tak perna bermain di bukit?. Tanyaku beberapa saat kemudian. Bukit nama tempat, di dekat sebuah telaga terletak di tengah Talang. Di sana remaja-remaja sering nongkrong menghabiskan waktu senggang.

“aku sering main di bukit, tetapi hanya hari Minggu  saja kak. Karena hari minggu adik ku tidak bersekolah. Ayah dan ibu juga tidak bekerja. Dari itu banyak waktu senggang untuk bersantai.
“oh. Jadi hari minggu, adik dan sahabat-sahabat bermain di sana.
“iya. Kakak dan teman-teman tinggal di mana?
“kakak dan teman-teman kakak tinggal di Talang Durian.

Sejak keakraban itu, beberapa hari selalu bertemu dan bersama, aku menjadi aneh. Aku selalu ingin bertemu dan bercerita dengan Fadiyah. Teman-teman ku kesal semuanya, sebab mereka kecapean terus menemani aku bermain di Talang Seribu Bambu.  Aku selalu datang ketempat pengajiannya. Anehnya walau gelap dan malam melintasi jalan kiri-kanan hutan aku tidak takut sedikit pun.

Dahulu, sudah memasuki magrib saja tidak berani lagi lewat jalan yang dikiri kanan hutan seperti itu. Apalagi ada mitos hantu harimau yang begitu menakutkan. Tetapi sekarang sudah berbalik, sepertinya hantu siluman yang takut padaku, walau gelap hanya dengan senter batre aku lewat tidak sekalipun diganggu hantu, aneh kan.

Tempat pengajian Fadiyah di musholla Al-Muhajirin, jadi aku datang untuk magrib dan isyah berjamaah. Setelah itu aku bergabung ikut mengaji. Aku selalu mengantar Fadiyah pulang, dengan membawa obor bambu kami berjalan beriringan.

Di mata ku, sungguh cantik wajah Fadiyah dalam balutan busana muslim Melayu itu. Ia mengenakan kain sepinggang yang sampai menutup mata kakinya, berbaju kurung berwarna putih lengan panjang, dengan berhijab selendang yang ia kerudungkan di kepala. Lalu di lingkar-lingkari ke lehernya. Aku tidak mengerti mode pakaian wanita, tapi indah dan damai aku memandangnya.

Al-Quran ia pangku di tangan kanannya. Banyak anak-anak kecil yang berlarian di jalanan, mereka begitu senang pulang dari mengaji. Aku mencuri kesempatan untuk berbicara dengan Fadiyah. Aku yang pendiam selalu habis alasan dan cerita, sehingga nampak kaku dalam perbincangan kami. Tetapi walau begitu Fadiyah merasa senang dan sabar. Ia tetap meladeni perkataan ku, terkadang karena aku lama terdiam, ia yang memulainya.

Aku benar-benar lupa waktu dan mungkin lupa daratan juga, ya. Mungkin lupa diri juga. Aku menjadi sering bermain ke Talang Seribu Bambu. Paman cuma dapat memaklumi dan geleng-geleng kepala saja. Walau jaraknya sampai lima kilo meter, dan sekedar mengantar Fadiyah pulang mengaji aku sudah bahagia sekali. Dalam percakapan malam waktu pulang mengaji, kami berjanji akan bertemu setiap hari minggu di bukit kecil di tengah Talang Seribu Bambu.

Di bukit kecil ada sebatang pohon akasia yang rindang menjadi peneduh. Maka aku dan Fadiyah, teman-teman, dan pemuda-pemudi lainnya sering bermain di sana. Tak banyak yang kami ceritakan, hanya sebatas senda gurau dan percakapan biasa. Tiada kata-kata cinta, kata rayuan, atau kata-kata gombal. Aku hanya tahu bahwa aku ingin berjumpa, setelah itu berbincang, seakan akan dunia ini akan diceritakan semua.

Aku merasa aneh, karena aku selalu mengingat wajah Fadiyah saat jauh darinya. Aku sering bermimpi bertemu Fadiyah. Entah mengapa semua terasa indah bagiku saat aku mengenal Fadiyah. Aku belum mengerti kenapa aku begini. Yang paling membuat aku bahagia Fadiyah selalu menepati janji, dan kami selalu satu rasa yaitu, sama-sama ingin bertemu.

Mengapa, aku juga belum mengerti. Apa mau kami, mau dibawa kemana hubungan kami ini, tidak tahu. Aku begitu bodoh dan belum mengerti suatu cita-cita bersama antara laki-laki dan wanita. Aku hanya merasakan, aku bahagia, aku ingin bertemu, aku ingat wajahnya, ia baik, ia cantik, ia solehah. Tapi mau diapakan kalau ia begitu sempurnah bagiku. Aku bahagia bersamanya, dan aku marah apabila ada lelaki di dekatnya.

Pernah ada seorang pemuda berusaha mendekati Fadiyah, ia anak orang kaya dari Talang Rawa, tetapi aku terharu sekali, sebab Fadiyah tetap ingin di dekat ku. Maka ada rasa bangga dan sesuatu yang bertambah di dalam hati, dengan sikapnya itu. Setahun berlalu, begitulah yang kami jalani bersama, tanpa tahu apa hubungan kami. Dengan bertemu kami sudah cukup, dan dunia ini sudah tidak ada artinya apabila sudah bertemu.

Suatu hari aku dan Fadiyah berjalan menyusuri tepian telaga. Telaga yang terbentuk dari pembangunan jalan oleh Perusahaan Negara Pertaminah, begitu jernih airnya. Banyak teratai dan ikan-ikan kecil-kecil yang kami lihat. Sehingga muncul ide, mengajak semua teman-teman untuk membakar ikan bersama-sama di tepian telaga.

Membawa kecap manis, cabai, garam, alat panggang, dan lainnya. Kami berbagi tugas, Aku, Azhari, Muzzaki, dan Parsah membuat api unggun, tentu mencari kayu bakar. Fadiyah, Askana, Sadidah, Bahirah, Badrina, Mufida, Nadirah, dan Rukayyah, mereka mempersiapkan bumbu-bumbu dan wadah-wadah.

Sementara teman-teman laki-laki kami lainnya menebar jaring dan kail, Abrisam, Komar, Ramadan, Sodri, dan Mahmud. Setelah ikan terkumpul cukup banyak, mulailah kami membakar ikan bersama-sama. Kebersamaan dalam kesederhanaan itu begitu melekat dalam ingatan kami. Beberapa ibu-ibu yang sedang mandi di telaga memperingatkan agar kami jangan terlalu sore pulang.

Singkatnya, aku dan Fadiyah selalu bersama dan berdekatan. Ia memberikan aku ikan panggangannya, dan kami makan berdua sambil bercerita. Walau disekeliling banyak teman kami anggap mereka patung saja, sebab kami berbincang berdua saja dan tidak membiarkan mereka masuk kedalam perbincangan kami. Kami tetap menjaga adat dan sopan santun sebagai orang Melayu dan sebagai Muslim.

Pergaulan kami hanya sebatas percakapan dan cerita-cerita, tidak lebih. Angin telaga membuat hijab mereka berkibar-kibar diterpa angin. Air telaga beriak bergelombang kecil. Memandangi telaga yang jerni itu, di mata aku dan di mata Fadiyah berubah menjadi surga. Itulah sedikit kenangan aku bersama Fadiyah, kenangan terindah. sudah lama sekali masa berlalu, sekarang aku sudah selesai kulia.

Suatu hari ibu dan adik-adikku datang dari desa, dan adik perempuanku berhenti sekolah. Kami tidak punya mata pencaharian di desa. Karena itulah kami sampai tinggal jauh di Talang Durian. Sehingga keluarga kami morat marit sekali. Mendengar ini, sadar pada kenyataan hidup aku menjadi sedih sekali, beberapa waktu aku merenung. Timbul pertanyaanku, mau kemana nasip keluarga ku, adik-adikku, apabila tidak bersekolah di zaman modern ini.

Aku juga putus sekolah setahun yang lalu, berarti akupun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Pendidikan agama ku, hanya dapat dari buku tuntunan salat lengkap lima waktu, yang aku beli di pasar minggu. Sedangkan pendidikan dalam membaca Al-Quran hanya aku dapat dari guru-guru mengaji biasa, tajwidnya saja aku tidak faham. begitupun pendidikan umum hanya sebatas kelas dua Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.

Mengapa keadaan keluarga ku begitu buruk, apakah tidak ada jalan lagi dalam merubah semua penderitaan dan kemalangan dalam keluarga ku. bagiku tidak berpendidikan berarti tidak ada peluang untuk maju atau sukses, sebab aku begitu bodoh dan terbelakang, miskin ilmu dan miskin harta. Apa yang aku harapkan dalam kehidupan ini, apa tujuanku.

Suatu hari aku duduk dibawa sebatang pohon akasia di pinggiran Talang Durian. Sebuah telaga terbentang di depanku, dan beberapa pohon-pohon tumbuh subur disisi telaga. Dari sini aku dapat melihat semuanya, seisi Talang Durian, pondok-pondok warga. Pondok ada yang beratap daun rumbia, daun nipa, dan seng. Jalan tanah merah yang berkerikil, saat hujan lengket berlumpur.

Disini tidak ada sekolah, sarana kesehatan, dan tempat belajar mengaji. Diseberang telaga, tumbuh subur pepohonan akasia yang berbunga lebat. Beberapa burung beterbangan mandi dan minum ditepian telaga. Seperti biasa, ketiga adik-adikku bermain di pekarangan pondok kami. Aku melihat keceriaan mereka, kegembiraan mereka dalam bermain.

Wajah-wajah polos itu, memberikan suatu pertannyaan besar dalam hidup ku. Mereka gembira dalam bermain hari ini, tetapi mereka tidak mengerti hari esok. Mereka masih anak-anak, pikir ku.  Mereka masih anak-anak, bagaimana mungkin mereka dapat memikirkan masa depan. Maka aku harus berbuat sesuatu untuk keluarga ku. Akankah semua berakhir cerita keluaraga ku di Talang Durian yang terpencil ini.

Akankah semua terbenam oleh egoku yang tidak mau pulang ke desa karena malu aku putus sekolah. Pertanyaan itu berulang-ulang dari hatiku, dan jiwaku. Umur ku belum cukup berpikir banyak waktu itu. seberapa bijak anak yang baru berumur tiga belas tahun. Aku berkata dalam hatiku, bahwa aku harus melakukan sesuatu untuk merubah keadaan keluarga ku yang tidak beruntung ini.

Biarlah akan banyak pengorbanan dan penderitaan dalam hidup ku. Aku akan sendiri dalam kurun waktu yang lama. Sampai aku bersupah bahwa aku tidak akan menggauli wanita sampai aku menikah. Aku ingin menjaga kesucian ku, sebab nafsulah yang pertama mendorong pernikahan. Aku akan berpisa dengan Fadiyah, meninggalkan kekasih hati ku. Aku akan melupakan indahnya hidup berkeluarga dengan orang yang aku cintai itu. Aku akan memulai perjalanan panjang, dimana adik-adik ku harus mau sekolah. Hanya satu tekadku, sekolah, sekolah, sekolah itu kataku.

Dahulu, aku pernah di nasihati oleh seorang tua, “seorang kakak, yang terbaik dari perilakunya adalah memberi pengaruh baik untuk adik-adiknya, sehingga adik-adiknya akan mengikuti sipat baiknya. Tidak perlu banyak kata atau harta, yang perlu dilakukan adalah menjaga mereka dengan kebaikan budimu.” Perlahan air mataku menetes, dan mengalir sedih mengenang nasip kehidupan yang buruk ini. Sejak itu aku mulai bertekad untuk kembali ke desa dimana ada sarana pendidikan, dan kehidupan yang mantap.

Setelah memutuskan itu, aku berbicara dengan ayah dan ibu, bahwa aku ingin pulang ke desa dan semua adik-adik harus kembali ke bangku sekolah. Di desa aku akan hidup seadanya dan berusaha agar kehidupan keluarga lebih baik. Aku tidak perduli dengan keadaan apapun dengan hidupku, hatiku, dan kehidupan orang lain. Yang harus dilakukan adalah, semua harus sekolah dan belajar dengan baik. Semua ini harus di akhiri, hanya satu jalannya adalah pendidikan. Maka aku menunggu hari minggu, aku ingin berjumpa untuk yang terakhir kalinya dengan Fadiyah.

Minggu sore, aku pergi ke Talang Seribu Bambu untuk bertemu dengan Fadiyah. Satu hal yang aku inginkan katakan adalah, aku ingin menceritakan seluruh yang aku rasakan, lalu aku ingin bertanya perasaan apakah itu, benarkah cinta. Satu pelajaran saat mengenang ini, adalah apabila kita mendapati perasaan seperti itu hendaklah secepatnya di ungkapkan pada orangnya. Sebab tidak tahu kapan kita akan berpisah, kesakitan cinta yang di hianati belum terlalu dibanding penyesalan cinta yang tak di ungkapkan.

Lama aku menunggu di bukit kecil itu, sendiri. Dengan sabar aku menanti, kadang melempar kerikil kedalam telaga. Waktu terasa lama sekali berputar. Berganti-ganti penduduk lewat dan menyapaku, yang aku balas dengan senyum getir. Namun Fadiyah tidak pernah datang sampai menjelang magrib. Terasa aneh bagiku hari ini, keadaan begitu sepi di Talang Seribu Bambu.

Aku ingin pergi kerumah Fadiyah tetapi sungkan sebab aku takut dengan ayahnya. Orang bilang ayah Fadiyah bengis, dan aliran keras. Maka aku hanya menunggu saja sampai Fadiyah datang. Matahari terbenam, yang menyisakan mega merah senja. Aku berdiri mematung menatap keujung jalan. Jalan yang tadi terang perlahan berubah menjadi temaram. Kunang-kunang mulai beterbangan bagai lampu alam yang ajaib. Aku menarik napas dalam dan mulai menyerah.

Aku meraih sepedaku dan mulai memutar arah sepedah, pulang. Sekali lagi aku melihat jalanan dan memandang sekeliling, namun tidak ada seseorang pun. Akhirnya aku mengayu sepeda tua ku, pulang menyusuri jalan tanah yang berdebu. Temaram suasana mengiring malam yang gelap, bagai warna hatiku yang kelabu dan pilu. Sambil mengayuh sepedah aku meracau syair ku, yang aku luapkan dari perasaan terdalam ku.

TITIP PADA REMANG SENJA

Wahai temaram malam, gelap
Mengisi ruang nan senduh dalam harapan
Terbuai oleh cerita yang aneh
Memagut hati yang buta
Aku tidak mengerti dengan ini
Mungkin kah cinta
Mungkinkah kasih asmara

Ku kayu sepeda di perbukitan tanah
Berkali lobang melompatkan putaran roda-roda
Sebuah kerikil terlindas
Mental bagai peluru, hilang dibalik semak
Bagai hatiku yang terbuang jauh
Menyisikan segala rasa yang biru

Mengapa gerangan kau tak datang, tanyaku?
Marahkah dirimu, atau salahkah aku
Bukan secerita kita, dalam hidup
Kita ingin selalu bertemu, disana
Di bukit kecil yang ranum
Di bawa pohon akasia

Dik, aku ingin pergi, Jauh.
Jalan ku begitu berliku, dan panjang.
Wahai engaku yang baik hati
Aku inginkau tahu, aku cinta akan engkau
Namun, cinta ini belum tersurat
Tetapi cinta ini untuk dikenang

Mungkin tuhan berbaik hati padaku
Kita tak dijumpakan di hari janji kita
Mungkin Tuhan hindarkan aku
Melihat air matamu
Sunggu hati ini, takkan mampu meninggalkan mu
Bilah hati mu, berkata dengan air mata.
Maka Aku titipkan pada remang senjah,
Pesan ku, sampaikan
Dik, Selamat tinggal.
Aku cinta kamu.

Talang Seribu Bambu, April 2004
               
Sejak minggu itu, sampai sekarang aku telah selesai kulia di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Aku tidak pernah lagi bertemu dengan Fadiyah. Aku pernah mendengar kabar bahwa hari minggu waktu aku menunggunya, ternyata Fadiyah bersama keluarganya pergi ke Kota Palembang, karena adik yang sering ia jemput dari sekolah sakit keras sehingga harus dirawat, dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Mohammad Husen Palembang.

Seorang sahabat Fadiyah bertemu aku diperjalanan ke Kota Sekayu.  Ia menceritakan Fadiyah juga selalu menunggu aku dihari minggu ditempat kami sering bertemu. Selama satu tahun lebih Fadiyah setia menunggu. Ia sering menangis dan bersedih, menyesali takut aku kecewa, sebab minggu itu, ia tidak dapat menemui aku. Keadaan yang genting sebab sakitnya adiknya ia tidak sempat berkirim pesan. Ia menyalakan dirinya, dan menyesali kejadian itu.

Mendengar itu, perlahan air mataku jatuh dengan sendirinya, baru aku tahu beginilah kisa cinta pertama ku. Hanya aku katakan pada desa angin di suatu malam sepih.

“Fadiyah, aku mencintaimu, sebagaimana kau mencintai aku. Bukan hari dimana kita hidup bersama yang menjadi harapan, tetapi saat kita saling mengenang bahwa kita saling mencintai. Seandainya kita jodoh kita akan bertemu lagi, dan apabila kita tidak berjodoh kita akan bahagia satu sama lain. Ingatlah bahwa kita pernah saling menyayangi. Mungkin kita ditakdirkan bertemu, lalu menyadari bahwa cinta itu ada, dan kita akan mengerti. Fadiyah, semoga kau bahagia, dan sebelum kita dipanggil tuhan pulang nanti, aku berharap kita dapat berjumpa saling mengucap maaf dan bertanya kabar. Fadiyah, ingatkah waktu kita pulang mengaji, dan aku membawa obor menerangi jalan mu, menjagamu agar tidak jatu kedalam becekan jalan, dan aku melirik wajahmu, kulihat senyum manismu saat itu. Terima kasih telah hadir dalam hidupku yang penuh penderitaan ini.

Setelah bus sampai di Kota Sekayu, sahabat Fadiyah meneruskan perjalanannya. Untuk mengenang Fadiyah aku menulis syair sambil memandangi Sungai Musi.

CINTA YANG TAK BERAKHIR

Ku dengar ceritamu, dik Fadiyah
Kau peretas pertama tali kasih di hatiku
Dik Fadiyah.
Terasa gugur jantung ku
Darah ku tumpah, mengalir deras.
Seperti aliran Sungai Musi ini.

Kemanakah kiranya pujangga
Sehingga tiada lagi, Syair-syair.
Merapalkan kata-kata pujangga
Kepada si molek dunia
Mengapa berlari, memburu waktu dikalah bertemu
Kini karam oleh gelombang waktu
Yang menyisakan kenangan sahaja.

Masih ingat, senyum dikau dibalik cahaya obor
Malam itu, aku jemput engkau pulang mengaji
Berjalan berdampingan, diriingi bayang-bayang
Tetapi bagi kita, bagai berdua saja
Ingatkah engkau, di bukit kecil itu
Saat berburu kupu-kupu

Aku dan dirimu teman kepompong
Saat sayap kita tumbuh
Kita terbang ditaman yang berbeda
Bahkan aku, tersesat diantara belantara hidup
Tetapi, Kenangan itu terus benyanyi
Untuk mu, adindah peri.
Yang hidup dalam hati,
Di dunia imaji, dunia cinta ku.

Kota Sekayu, September 2006.

Awan memang mendung waktu itu. Aliran Sungai Musi seakan berhenti. Rona-rona senyum Fadiyah menari di mataku. Suara gemerisik perahu motor seakan berubah seperti tawa renyah Fadiyah. Angin sungai yang berhembus kencang membelai tubuh dan rambutku. Aku merasakan bahwa itu sentuhan hati Fadiyah yang suci.

Waktu telah berlalu, dan jauh tertinggal oleh detik-detik jam. Satu dalam dawai hatiku, aku memang telah mencintai. Entah kapan akan aku temukan kembali rasa ini. Jalan takdir telah memisahkan dua hati yang saling mencintai. Kini aku, berjanji akan mulai melupakan semua, sebab banyak hal yang harus aku selesaikan. Selamat jalan orang yang aku kasihi. @Kisaku.

Oleh: Joni Apero
Editor. Selita.
Foto. Dadang Saputra.
Palembang, 28 Oktobor 2018.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum dipublikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman sepenuhnya tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic