Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

12/28/2019

Asal Usul Masyarakat Desa Gajah Mati Tidak Mau Makan Ikan Kedak (Ikan Sidepak)

Apero Fublic.- Terjadi kudeta di Kedatuan Sriwijaya di Kota Sriwijaya (Palembang). Sri Indrawarman raja Kedatuan Sriwijaya yang telah menjadi Muslim. Terbunuh pada tahun 728 Masehi. Oleh kelompok panatisme agama Budha. Keluarga dan rakyat yang telah memeluk Islam pergi mengungsi ke pedalaman Pulau Sumatera. Ada keluarga Sri Indawarman pergi ke Minangkabau dan mendirikan negeri baru yang Islami. Selain itu rakyat biasa yang telah memeluk Islam juga banyak mengungsi ke hutan pedalaman Sumatera Selatan.

Banyak juga yang melarikan diri dibeberapa wilayah lain di pulau Sumatera. Ke Bengkulu, Pedalaman Jambi, Riau, Pasai. Mereka membawa Islam dan membuat komunitas baru. Di pedalaman Sumatera Selatan pengungsi muslim pengikut raja, berperahu kehulu Sungai Musi. Masuk ke anak-anak Sungai Musi, seperti Sungai Ogan, Sungai Komering. Diantaranya ada yang masuk Sungai Keruh dan sampai di Dataran Negeri Bukit Pendape.

Dari para pelarian itulah cikal bakal Islam terbentuk di Dunia Melayu. Sehingga adat istiadat orang Melayu sangat kental dengan Islam. Konon penduduk Palembang telah mayoritas Islam saat Majapahit menempatkan Aryo Damar sebagai Bupati Palembang. Agar dia diterimah penduduk Palembang yang Islam. Maka Aryo Damar akhirnya masuk Islam.


Hampir semua Talang penduduk terletak di pinggir sungai. Karena sungai sebagai jalur transportasi masa itu. Beberapa puluh keluarga pengungsi itu sampai di Talang Gajah Mati. Mereka meminta izin untuk membangun pemukiman baru dan menjadi warga Talang Gajah Mati. Mereka memilih membangun pemukiman di bagian seberang Talang Gajah Mati. Sampai sekarang bekas pemukiman mereka masih ada.

Masyarakat Desa Gajah Mati menyebut bekas pemukiman lama itu dengan Padang. Karena bekas pemukiman itu hanya tinggal berupa tanah terbuka yang ditumbuhi rerumputan (Padang Rumput). Seratus lima puluh tahun kemudian. Pemukiman yang awalnya hanya terdiri lima puluhan keluarga pengungsi. Telah berkembang menjadi tiga ratus keluarga. Talang Gajah Mati waktu itu menjadi Talang terbesar di Dataran Negeri Bukit Pendape.

******

Talang Gajah Mati di seberang. Terdiri dari rumah-rumah panggung berbaris padat, mengelompok. Pohon pisang tumbuh di sisi dapur. Selain buah, daun pisang berguna untuk membuat kue, atau untuk wadah bekal berpergian. Pohon kelapa tumbuh subur di sisi dan di belakang rumah-rumah penduduk. Semua rumah berbentuk panggung dengan tipologi rumah panggung basepat. Atap rumah terbuat dari sirap bambu atau kayu. Ada juga dari daun rumbia, dan ijuk. Halaman rumah berupa lapangan hijau membentang di sekitar pemukiman. Banyak hewan ternak merumput dan anak-anak bermain.


Sebuah rumah yang paling besar berhalaman luas. Itulah rumah Puyang Muhammad. Dia baik dan berbudi luhur, sehingga dia digelari dengan Puyang Pengasih. Hidup bersama istri dan anak-anaknya. Dia diangkat menjadi Datu Kampung. Kalau sekarang disebut kepala dusun (KADUS). Puyang Pengasih memiliki delapan anak. Anak pertama bernama Angkura, Umara, Maulana, Sulaiman, Putri Sidepak, Marara, Ruruna, dan Kandapu. Nama istri beliau Fatimah, itulah mengapa nama Fatimah sangat kental dengan nama wanita Melayu.


Kehidupan penduduk diwaktu pagi berangkat ke ladang, pulang menjelang soreh. Gadis-gadis perawan bekerja mengurus rumah, memasak dan mencuci. Sore itu, Puyang Pengasih pulang dari ladang. Menuntun kerbaunya membawa padi yang sudah siap tumbuk. Setiap soreh suara aluh menumbuk padi terdengar bertalu-talu. Menjelang malam anak-anak muda berlatih ilmu silat, atau kuntau. Puyang pengasih dan beberapa tetua melatih langsung para pemuda. Para gadis berlatih silat diwaktu petang. Pelatih juga pesilat wanita, diantaranya istri Puyang Pengasih. Setelah latihan gadis-gadis pulang dan siap berangkat mandi di Sungai Keruh.


Putri Sidepak baru berumur enam belas tahun. Dia gadis yang sangat cantik. Kulit putih, rambut panjang sepinggang, tubuh semampai, wajah ratah dengan alis tebal. Ada lesung pipit dikedua belah pipinya. Selain cantik, Putri Sidepak juga dikenal gadis perawan yang baik budi dan halus tutur katanya. Siapa pun laki-lakinya akan jatuh cinta padanya. Putri Sidepak bukan hanya cantik fisiknya, tapi juga cantik ahklaknya. Berita kecantikan Putri Sidepak tersiar kemana-mana di Dataran Negeri Bukit Pendape. Bahkan Puyang Pedatuan, juga berniat marasan Putri Sidepak untuk jadi menantunya kelak kalau Putri Sidepak sudah dewasa.

******

Pagarepa seorang datu sakti yang tinggal dikaki Bukit Batu Delapan. Dinamakan Bukit Batu Delapan karena terdapat delapan batu berdiri berbaris, disebut menhir. Ada sebuah batu persegi empat tempat persembahan. Daerah bukit ini wilayah kekuasaan Pagarepa. Berwatak sombong, ponga, ambisius dan licik. Pagarepa menyukai bilangan delapan. Dia punya istri delapan orang, rumah delapan, memiliki delapan gajah peliharaan, delapan bubu, delapan Pibang, delapan ladang. Memiliki ilmu sihir yang dapat berubah menjadi delapan hewan. Dapat berubah menjadi harimau, gajah, rusa, kijang, macan tutul, burung elang, kera, dan kadal. Hampir semua yang dia miliki berjumlah delapan. Oleh karena itu, Pagerepa dijuluki Datu Delapan Panjang.


Pagarepa tinggal di Talang Punti. Seisi talang tunduk pada Pagarepa. Di Talang Punti tidak ada musyawara dan pemilihan Datu. Seperti di talang-talang lain. Hukum sesuai dengan kehendak Pagarepa. Dia selalu ingin jadi nomor satu. Kemauannya tidak bisa ditolak. Selain itu, dia juga merasa sangat hebat. Bahkan Puyang pemimpin Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape tidak dia hormati. Semua laki-laki, terutama para pemuda dia jadikan prajuritnya. Sehingga Pagarepa atau Datu Delapan Panjang memiliki banyak prajurit.


Suatu hari dia mendengar percakapan warganya berbincang-bincang. Mereka membicarakan kecantikan seorang gadis di Talang Gajah Mati. Mendengar itu, Pagarepa menjadi penasaran dan terus memikirkan tentang gadis cantik Talang Gajah Mati, yang cantik luar biasa itu. Bukan hanya cantik, tapi dia gadis yang shalehah, berbudi luhur, Menutup aurat setiap kali keluar rumah, jujur dan terhormat. Membuat banyak pemuda tergila-gila pada Putri Sidepak. Suatu hari, Pagarepa pergi mencari tahu tentang gadis yang sangat cantik itu. Dengan menggunakan ilmu sihirnya dia berubah wujud menjadi burung elang. Terbang menuju Talang Gajah Mati.


Pertama datang Pagarepa atau Datu Delapan Panjang masuk Talang Gajah Mati di Tanjung Sungai Keruh. Lama dia memperhatikan sekitar tapi tidak menemukan gadis yang cantik tersebut. Kemudian dia terbang lagi melintas diatas jembatan penghubung keseberang kearah Kampung Puyang Pengasih. Berputar-putar mengeliling sekitar pemukiman itu.


Hinggap di dahan pohonan rengas yang tumbuh subur di tebing Sungai Keruh. Waktu menjelang soreh. Ada serombongan gadis-gadis remaja pergi mandi. Berkain songket, berkerudung tenun songket, dan berbaju kurung. Puyang Delapan Panjang menyangka kalau dia dapat mengintip gadis-gadis mandi dengan menyamar jadi elang. Tapi dia kecewa sebab gadis-gadis itu mandi dengan Talesan.

Talesan berarti pakaian khusus untuk mandi atau basahan saat mandi di ruang terbuka. Setiap akan berganti pakaian teman-temannya mengerubungi dengan kain sehingga tidak sedikitpun aurat mereka terlihat walau mandi di tepian sungai. Pagarepa memperhatikan semuanys dan menemukan gadis yang sangat cantik itu. "Benar kata orang-orang. Guman Pagarepa saat dia melihat Putri Sidepak.


“Sidepak, Muanah, Aisyah, dan semuanya. Besok bertandanglah kerumahku, kita makan-makan rujak.” Ujar Anina, gadis cantik berkulit kuning langsat.


“Waa, bolehlah. Sudah lama tak rujakan.” Jawab Muanah.

“Rujak apa, Anina?.” Tanya Putri Sidepak.

“Buah raman muda. Kemarin ibu banyak memetik di kebun. Jawab Anina. Perawan-perawan cantik itu pulang dengan riang. Gadis memang suka merujak apalagi pedas-pedas. Sementara elang jelmaan Datu Delapan Panjang tahu kalau nama gadis yang terkenal akan kecantikannya. Juga terkenal atas keluhuran budinya, bernama Sidepak. Elang hitam itu terbang menghilang dibelantara hutan.


Datu Delapan Panjang terpesona dengan kecantikan dan keluhuran budi Putri Sidepak. Bunga Talang Gajah Mati. Pikirannya selalu terganggu dan dia mulai menghayal nafsu yang dia terjemahkan dengan cinta. Hari demi hari nafsu semakin besar pada Sidepak. Dia membayangkan bagaimana kalau menikah dengan Sidepak. Alangkah indahnya menurut hayalan Datu Delapan Panjang. Suatu hari, terdengar kabar kalau keluarga Datu Talang Kertajaya melamar Putri Sidepak untuk putranya, Kamaru. Pemuda tampan dan berbudi luhur. Puyang Pengasih ayah Putri Sidepak belum menerimah.


“Kakanda Datu Kertajaya. Bukan saya menolak akan adat merasan ini. Tapi karena anak saya, Putri Sidepak masih sangat muda. Dia baru berumur enam belas tahun. Kalau Kakanda tidak berkecil hati. Datanglah dua tahun lagi. Umur anak saya akan cukup dewasa, sembilan belas tahun.” Kata Puyang Pengasih.


Alasan yang baik dan masuk akal. Keluarga Datu Kertajaya pulang. Meminta Kamaru agar bersabar sedikit. Kabar adat marasan terdengar oleh Datu Delapan Panjang. Dia berlega hati mengetahui adat marasan belum di laksanakan. Dia mulai khawatir nanti Putri Sidepak di lamar orang dan diterima Puyang Pengasih. Oleh karena itu, Datu Delapan Panjang mengirim utusan untuk melaksanakan adat marasan ke Puyang Pengasih. Utusan itu, dua tokoh adat, seorang hulubalang pasukan Datu Delapan Panjang. Diiringi dua puluh prajurit. Mereka membawa tepak sirih, membawa satu buah pibang bergagang dan bersarung emas. Sebagai tanda pelaksaan adat marasan.


Menyadari Datu Delapan Panjang yang sudah tua seumuran dengannya. Memiliki delapan orang istri. Puyang Pengasih menolak langsung adat marasan yang mereka sampaikan. Sebab tidak sesuai dan tidak masuk akal. Pagarepa atau Datu Delapan Panjang marah dan gusar. Watak aslinya mulai keluar. Tapi dia masih bersabar. Kembali utusan dia kirim. Mereka membawa emas delapan keranjang, perak delapan keranjang, pibang delapan bilah, delapan kerbau, delapan sapi, dan delapan kabing. Tapi tetap saja ditolak oleh Puyang Pengasih.


“Walau pun dunia ini diberikan padaku. Aku tidak akan pernah merestui anak perawanku menikah dengan orang yang sesuai menjadi besanku, bukan menantu. Pagarepa memang manusia tidak tahu malu, serakah dan juga angkuh.” Kata Puyang Pengasih pada utusan. Pulanglah utusan itu, lalu menceritakan semua. Saat melapor para utusan itu juga menghasut. Mereka menambah-nambah perkataan sehingga membuat mendidih api amarah Datu Delapan Panjang.


Puyang Pengasih mengirim utusan pada Datu Kertajaya. Agar adat marasan segerah dilaksakan tidak perlu menunggu dua tahun lagi. Karena khawatir dengan perbuatan buruk Datu Delapan Panjang yang jahat. Datu Kertajaya, anaknya Kamaru, beberapa orang tetua Talang Kertajaya, dan dua puluh prajurit langsung berangkat ke Talang Gajah Mati. Mereka menggunakan perahu cepat atau perahu bidar. Menyusuri Sungai Sake menuju Sungai Keruh. Ada sepuluh perahu yang penuh dengan hadiah lamaran.


Kamaru merasa bahagia sekali lamaran akan diterimah. Dua temannya, Samsul dan Samsi terus menggoda. Sehingga tidak terasa penat mengayu perahu karena gembira. Mendekati muara Sungai Sake, Datu Kertajaya mendapat pirasat aneh. Dia hanya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Saat melewati sebuah tanjung mereka semua terkejut. Ada dua puluhan perahu bidar besar penuh dengan laki-laki memegang pibang. Semuanya menghalangi jalan dan menatap tidak bersahabat.


“Datu Delapan Panjang, ada apa kalian menghalangi perjalanan kami?.” Tanya Datu Kertajaya.

“Aku hanya meminta, agar membatalkan pelaksanaan adat marasan Putri Sidepak. Karena dia akan menjadi istrku yang ke sembilan. Kalau kalian keras kepala, maka tahu sendiri akibatnya.” Ujar Datu Delapan Panjang.


“Kita sama-sama orang Melayu, Orang Sekayu, Rakyat Sriwijaya. Apakah pernah ada orang Sekayu takut mati.” Kata Datu Kertajaya dengan nada dingin. Semuanya berdiri dan mencabut pibang masing-masing. Termasuk tetua yang sudah berumur enampuluhan tahun. Tak ayal lagi, pertarungan tidak seimbang terjadi. Datu Kertajaya dan Datu Delapan Panjang berhadapan. Selama setengah hari bereka bertempur saling serang. Perahu-perahu telah tenggelam. Ratusan prajurit Datu Delapan Panjang tewas. Begitupun rombongan Datu Kertajaya. Satu demi satu roboh dan gugur. Kamaru sekarang sudah terluka parah. Dilindungi Samsul dan Samsi dia diminta berlari menuju Talang Gajah Mati. Untuk memberi tahu Puyang Pengasih.


Sesengguhnya Datu Kertajaya hampir mengalakan Datu Delapan Panjang. Tapi dengan tipuan licik, pura-pura menyerah. Pagarepa membuat Datu Kertajaya lengah dan terluka. Kemudian Datu Kertajaya kalah dan wafat membelah kehormatan dirinya dan keluarganya.

*****

“Puyang, maafkan kami. Kami diserang Datu Delapan Panjang. Segerah bawak pergi Putri Sidepak. Dan sampaikan salam terakhirku pada putri.” Kemudian Kamaru mengucap dua kalimat syahadat. Waktu itu hanya syahadat dan keyakinan satu tuhan saja yang diketahui mereka. Sebab saat nenek moyang masuk Islam belum sempat belajar banyak tentang memeluk Islam. Mereka harus pergi karena terjadi kudeta di Kedatuan Sriwijaya. Kamaru menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Puyang Pengasih. Semua mulai marah, kakak-kakak Putri Sidepak mulai bersiap. Ibu dan Putri Sidepak menangis, sedangkan tiga adik sidepak di perintahkan naik ke langit-langit rumah.


Puyang Pengasih juga bersiap. Dia menyelipkan pibangnya di pinggang. Dia berkata pada Putri Sidepak jangan khawatir dan takut. Tapi tetap saja semuanya jadi khawatir. Semuanya berpelukan dan mereka akan menghadapi Datu Delapan Panjang bersama-sama. Panah dan tombak telah disiapkan.


Dari langit timur muncul kabut berarak lalu terbang menyebar keseluruh Talang Gajah Mati. Di kampung seberang dan di kampung Puyang Pengasih. Semua yang terhirup kabut tipis itu tertidur sangat pulas seperti orang pingsan. Walau pun penduduk sedang di jalan, di halaman rumah, dan dimanapun. Jatuh lunglai dan tertidur. Begitupun dengan tetangga-tetangga Puyang Pengasih. Mereka tertidur tanpa sadarkan diri. Tidak lama kemudian, muncul Datu Delapan Panjang dan prajuritnya. Tampak ada yang terluka, dan berdarah-darah. Menandakan kalau mereka baru selesai bertempur.

“Puyang pengasih, kau pilih mati atau menjadi mertuaku.” Kata Datu Delapan Panjang, angkuh sekali.


“Hidup mati diatur oleh Allah, Pagarepa. Mati adalah teman terdekat manusia. Jadi apa yang harus ditakutkan. Dengan memegang pibang, apakah itu tandanya aku akan tunduk. Apakah kau lupa pepatah lama orang Sekayu (Melayu). Mati, ya sudah, asal hidup tidak terhina. Mati ya sudah, takkan tunduk pada orang jahat. Mati sudah, kalau tidak hari ini, ya besok juga mati.” Jawab Puyang Pengasih.

Datu Delapan Panjang memerintahkan prajuritnya menyerang. Terjadilah pertarungan sengit. Datu Delapan Panjang berhadapan dengan Puyang Pengasih. Seperti tadi, Datu Delapan Panjang hampir mati. Dia meminta ampun dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, dan segerah pulang. Kembali kelicikan dia lakukan. Satu genggam pasir dia lemparkan ke wajah Puyang Pengasih. Membuat mata terpejam dan tidak dapat melihat apa-apa. Bersamaan juga lemparan pisau menancap di dada dan mengenai jantung. Puyang Pengasih meninggal seketika.


Sementara ibu dan empat orang kakak Putri Sidepak juga telah lemah. Tubuh mereka berlima telah luka-luka disana-sini. Darah mengalir terus dan tubuh semakin lemah. Membuat gerakan mereka melambat. Mereka telah menewaskan seratus lima puluh prajurit Datu Delapan Panjang. Akhirnya, pasukan panah menyerbu dan mereka wafat. Ada lemparan tombak menembus tubuh mereka.

Datu Delapan Panjang memegang dadanya, tulang iganya patah. Dia menghapus darah menetes dari bibirnya. Dia melihat pasukannya tinggal lima puluh orang saja. Datu Delapan Panjang mulai menyadari kalau orang baik sulit dikalahkan. Bagaimana kalau keluarga besar mereka, dan warga Talang Gajah Mati tidak dia sihir tertidur dengan kabut tadi. Pasti dia sudah kalah dan tewas pikirnya.

*****
Sementara itu, selama pertarungan berlangsung. Putri Sidepak menangis sedih. Dia menyaksikan pertarungan yang mengerikan itu. Satu demi satu keluarganya gugur membelah kehormatan dirinya. Bagi orang Melayu (Sekayu), keluarga wanita adalah kehormatan. Berani mengganggu keluarga perempuan mereka. Maka pertarunganlah yang akan terjadi.


“Dari pada aku menikah dengan Datu Delapan Panjang. Lebih baik aku menjadi kadal penghuni hutan rimba. Atau menjadi ikan penghuni sungai.” Sumpah Putri Sidepak.


“Kakak, jangan suka berkata-kata yang buruk. Sebab manusia diberikan sang pencipta hari-hari dimana kata-katanya akan dikabulkan. Manusia diberikan waktu-waktu dimana ucapannya akan menjadi kenyataan.” Ujar Nanri sambil memeluk Putri Sidepak. Nanri sepupu Putri Sidepak. Dia kebetulan sedang bermain dirumah Putri Sidepak. Putri Sidepak kemudian mengambil bunang dan menarik Nanri kesudut ruangan rumah. Lalu tubuh nanri dia tungkam dengan bunang. Pagarepa memerintahkan prajuritnya mengepung rumah. Dia sendiri melompat ke dalam rumah Sidepak.


“Kalau kau menurut kehendakku. Tidak mungkin semua kehancuran ini terjadi, Sidepak. Seakarang kau mau kemana lagi. Ayah, ibu dan kakak-kakakmu sudah tewas. Tinggal kau seorang diri dan tidak ada lagi yang membelah dan melindungimu.


“Datu Delapan Panjang, manusia terburuk dimuka bumi ini. Kau dengarkan kata-kataku. Atas nama penguasa alam raya ini. Seandainya tuhan yang maha esa memang ada. Tentu akan mengutuk semua kebiadabanmu. Demi Allah, daripada aku menjadi istrimu. Tidak sudih tubuhku sedikitpun kau sentuh. Lebih baik aku menjadi seekor hewan melata seperti kadal penunggu hutan rimba. Atau menjadi ikan penghuni sungai.


“Hanya kata-kata yang tidak ada gunanya. Akulah datu yang sangat sakti. Maka turutilah aku, aku berjanji akan membuat hidupmu sangat bahagia. Seperti seorang ratu istri-istri Raja Kedatuan Sriwijaya. Aku akan memberikan emas, uang, rumah yang besar, pelayan dan pesuruh-pesuruh yang patuh.


“Aku bukan wanita rendah seperti itu. Aku gadis terhormat dan diriku tidak dapat dibeli atau ditukar kekayaan. Aku masih suci dan menjaga kesucianku. Hanya pernikahan yang sah yang aku relakan. Aku bukan penghianat. Ayah, ibu, kakak-kakakku telah berkorban demi aku. Maka aku tidak akan pernah mengecewakan mereka.


Di langit bagian utara Talang Gajah Mati tampak mendung. Ada petir-petir dan kilat yang menyambar. Angin berhembus deras dan terdengar suara menderu-deru. Pucuk-pucuk pepohonan bergoyang hebat. Cuaca berubah menjadi buruk. Prajurit Datu Delapan Panjang mencari tempat berteduh. Kilat tiba-tiba menjadi sangat aktif. Kemudian petir menyambar-nyambar. Prajurit Datu Delapan Panjang ketakutan saat petir menyambar-nyambar. Beberapa pucuk pohon kelapa terbakar dan putus. Kemudian ada sambaran keras bersamaan. Suara yang sangat keras dan menggelegar. Semua pohon disekitar rumah Putri Sidepak tersambar petir.


Asap membumbung bercampur air hujan. Hujan perlahan redah dan cuaca kembali cerah seakan tidak pernah hujan dan tidak pernah ada badai petir.


Entah mengapa, Datu Delapan panjang tampak khawatir dengan keadaan cuaca. Sementara Sidepak diam memandang langit yang perlahan berubah cerah dari jendela rumah. Datu Delapan Panjang melangkah mendekati Sidepak. Tapi Sidepak tidak bergerak dan tetap berdiri memandangi langit. Datu Delapan Panjang berpikir kalau Sidepak sudah pasrah padanya. Berdiri tepat dibelakang Sidepak. Dengan kurang ajar tangan Datu tua itu meraih bahu Sidepak. Dia ingin menarik, sekaligus membalik arah Sidepak menghadapnya.


“Wuussss. Plukkkk.” Suara pakaian Sidepak jatu. Tubuh Putri Sidepak telah hilang entah kemana. Datu Delapan Panjang terkejut bukan kepalang. Dia mundur dua langkah ke belakang. Matanya terbelalak lebar penuh keanehan dan rasa tidak percaya. Lama dia memperhatikan pakaian Sidepak yang tergeletak. Tiba-tiba matanya melihat sesuatu yang bergerak-gerak dari dalam tumpukan pakaian. Mata Datu Delapan Panjang menatap tidak berkedip. Sementara di atas langit-langit rumah. Ruruna, Marara dan Kandapu juga melihat semua kejadian itu. Begitupun Nanri yang dari tadi menahan tangis di dalam keranjang bunang, mengintip.


Muncul seekor hewan melata dari balik tumpukan pakaian Sidepak, yaitu Kadal. Kadal itu berjalan cepat menuju pintu dan terus sampai ke tanah. Datu Delapan Panjang masih belum percaya dengan kejadian itu. Dia membolak-balik pakaian Sidepak dan tidak menemukan apa-apa. Kemudian dia mengejar dan mencari-cari kadal tadi. Datu Delapan Panjang gusar sekali. Dia juga baru sadar kalau semua prajuritnya telah mati semuanya tersambar petir. Pasti semua ini ilmu sihir pikirnya.


“Sidepak, kau tidak akan lolos dari tanganku. Ini hanya ilmu sihirmu yang murahan. Kau pikir aku tidak punya ilmu sihir seperti ini. Kecil bagiku!!!. Kecilll.” Kata Datu Delapan Panjang sambil marah-marah. Dia merasa sia-sia, dia sudah susah payah untuk mendapatkan Sidepak.


Dia mencari-cari disekitar rumah Sidepak. Dengan ilmu kesakiannya dia dapat menemukan kadal jelmaan Sidepak. Kemudian Datu Delapan Panjang duduk bersilah dan memejamkan matanya. Lalu dia membaca mantera sihir berubah wujudnya. Beberapa saat kemudian ada angin kencang dan muncul kabut menutupi tubuh Datu Delapan Panjang. Saat kabut hilang, seekor kadal besar merayap. Kadal jelmaan Datu Delapan Panjang berlari menuju semak-semak. Di kepala kadal jelmaan Pagarepa ada menempel mutiara. Mirip mutiara yang menempel diikat kepala Datu Delapan Panjang.


Sementara itu, Nanri jatuh pingsan. Dia ingat sumpah Putri Sidepak tadi. Sedangkan Marara, Ruruna, dan Kandapu sudah turun dari atas langit-langit rumah. Mereka mengintip keluar dan mata mereka terbelalak. Mayat prajurit Datu Delapan Panjang bergelimpangan tersambar petir, dan terbunuh. Mereka melihat jenazah ayah, ibu, dan kakak-kakak mereka. Mereka juga menyaksikan semua perbuatan Datu Delapan Panjang. Termasuk saat dia berubah menjadi kadal besar. Ruruna, Marara dan Kandapu sepakat untuk membantu Sidepak. Mereka mengambil senjata yang tergeletak didekat mayat-mayat prajurit Datu Delapan Panjang.


“Kita harus membalaskan kematian Ayah, ibu, dan Kakak-Kakak kita. Kita cari kadal jelmaan Datu Delapan panjang. Sebelum dia kembali menjadi manusia.” Kata Marara. Mereka mencari kadal besar yang berciri, ada batu permata di kepalanya.

*****

Sementara itu, kadal jelmaan Sidepak terus berlari diantara sarap dan semak-semak. Dia harus lari jauh menghindari Datu Delapan Panjang. Kadal jelmaan Datu Delapan Panjang dengan susa paya akhirnya menemukan kadal jelmaan Sidepak. Kadal jelmaan Sidepak kaget melihat ada kadal besar menghadang di jalannya. Lidah kadal besar tampak menjulur-julur.

Membuat takut kadal jelmaan Sidepak. Kemudian dia berlari ke sisi kanan. Kadal jelmaan Datu Delapan Panjang mengejar. Sampailah di tebing Sungai Keruh yang lebar. Di tanah agak lapang itu. Kadal jelmaan Sidepak benar-benar tidak dapat berlari lagi. Maju dia akan jatuh ke Sungai Keruh. Mundur dia akan tertangkap oleh kadal besar itu.


“Kalau kau tidak menjadi istriku sebagai manusia. Kau akan menjadi istriku sebagai hewan.” Kata kadal jelmaan Datu Delapan Panjang. Lama kadal jelmaan Sidepak tidak bergerak. Mungkin dia sedang berdoa pada yang maha kuasa. Kadal jelmaan Datu Delapan Panjang mendekat perlahan-lahan. Lidanya terus dijulur-julurkan dan sorot mata tajam. Kadal jelmaan Sidepak tiba-tiba berlari menuju tebing sungai dengan cepat. Lalu tubuhnya meluncur ke dalam Sungai Keruh. Tidak ampun lagi tubuh kadal jelmaan Sidepak lenyap didalam air. Terdengar suara tubuh kadal jatuh ke air. Tampak gelombang dipermukaan air sungai disaksikan kadal jelmaan Datu Delapan Panjang.


Kadal jelmaan Datu Delapan Panjang hanya menatap lesuh menyaksikan itu. Dia merasa putus asa dan sia-sia. Kemudian dia berbalik hendak meninggalkan tebing sungai. Saat kadal itu berbalik. Tidak menyangkah tiga orang anak-anak menghunus Pibang di tangannya. Lalu mengayunkan pibang membabat kearah kadal jelmaan Datu Delapan Panjang. Tidak ampun lagi, kadal besar itu terpotong tiga. Satu mata pibang memotong leher, satu memotong tengah, dan satu mata pibang memotong ekor. Kadal jelmaan Datu Delapan Panjang tewas seketika. Pagarepa atau Datu Delapan Panjang tidak lagi terdengar cerinya sampai sekarang. Tewas di tangan anak-anak.

*****

Marara, Ruruna, dan Kandapu berdiri disisi tebing sungai. Mereka berharap menemukan kadal jelmaan dari Sidepak sang kakak. Namun apa daya, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Duduk di tebing Sungai Keruh memandang permukaan air yang berwarna kekuningan mirip keruh itu.


“Kak. kakak dimana?.” Itulah kata mereka berkali-kali sambil menangis.


Dalam kesedihan itu, tiba-tiba di permukaan air sungai muncul seekor ikan. Ukurannya sebesar lengan tangan orang dewasa. Ikannya besisik, mirip ikan ruan (gabus). Tapi bukan ikan ruan. Melompat-lompat dipermukaan air dihadapan mereka. Ketiganya merasa aneh dengan ikan itu. Namun ikan terus melompat riang. Berenang kesana kemari seakan mengajak ketiganya bermain.

Menjelang malam ikan itu mendekati tebing sungai. Lalu membuka mulutnya, ada kilauan emas. Ruruna mengambil benda itu dari mulut ikan. Saat mereka perhatikan ternyata itu sebuah cincin. Yang paling membuat mereka terkejut saat mengenali, itu cincin Sidepak. Mereka bertiga menangis dan menjerit-jerit. Kakak mereka yang menjelma menjadi kadal, sekarang telah menjadi seekor ikan. Rupanya doa sebelum kadal jelmaan Sidepak melompat ke air. Dia meminta untuk menjadi ikan pada yang maha kuasa.

Sejak saat itu, Marara, Ruruna, dan Kandapu selalu bermain ditepian Sungai Keruh di sisi Talang Gajah Mati. Mereka menangkap belalang, mencari serangga dan memberikannya pada ikan Sidepak. Ikan sidepak juga tidak pernah pergi jauh. Selalu di sekitar tepian mandi mereka. Saat mereka mandi ikan Sidepak datang bermain menemani. Membuat Marara, Ruruna, dan Kandapu menjadi terhibur walau mereka telah menjadi yatim piatu. Penduduk Talang Gajah Mati akhirnya juga tahu dari cerita mereka bertiga. Mereka menjadi yakin saat diajak ketepian sungai.


Ketiganya memanggi Ikan Sidepak. Ikan Sidepak muncul di hadapan mereka. Penduduk semuanya menangis bersedih melihat keadaan Sidepak. Gadis yang sangat cantik, shalehah, baik, suci, dan berbudi luhur. Harus menjalankan takdir yang sangat berat. Namun itu semua adalah kehormatan bagi seorang wanita.

Apapun yang terjadi seorang gadis harus membelah kehormatannya dan kehormatan keluarganya. Bertahun-tahun kemudian ikan Sidepak hidup bersama penduduk. Saat mandi mereka selalu memanggil-manggil Ikan Sidepak. Ikan Sidepak muncul dipermukaan dan bermain. Terobatilah rindu keluarga, teman, sahabat, dan semua warga, pada Putri Sidepak.


Ikan Sidepak juga bertelur akhirnya. Anaknya banyak bertebaran di Sungai Keruh. Penduduk mengenali akan keturunan dari Ikan Sidepak. Sehingga saat penduduk memancing, memasang bubu, apabila mendapatkan anak ikan Sidepak mereka melepaskan kembali.

Penduduk Talang Gajah Mati tidak mau memakan anak keturunan Ikan Sidepak. Karena Ikan Sidepak dari jelmaan seorang manusia. Seiring waktu cerita Ikan Sidepak hanya diingat sedikit saja oleh masyarakat. Bahwa ikan Sidepak itu dari kadal. Itulah yang populer ditengah masyarakat.


Nama Ikan Sidepak seribu tahun kemudian beransur-ansur berubah dengan sendirinya. Kata Sidepak akhirnya bergeser menjadi kata Kedak. Nama Ikan Sidepak menjadi Ikan Kedak pada akhrinya sampai sekarang. Itulah mengapa masyarakat Desa Gajah Mati dan sekitarnya tidak mau makan Ikan Kedak (Sidepak).

Kepercayaan mitos ini sampai sekarang masih bertahan pada masyarakat Desa Gajah Mati dan desa-desa lain di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Bahkan berkembang lebih jauh ke daerah-daerah lain. “Ikan Kedak, asalnya dari kadal. Itulah yang akan anda dengar dari masyarakat Desa Gajah Mari.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S. Pd.
Palembang, 24 Desember 2019.

Arti kata:Puyang: Pemimpin yang dipilih masyarakat bukan keturunan bangsawan. Adat marasan: sama seperti taaruf, tapi ditambah syarat-syarat adat. Lama pelaksanaan adat marasan tiga bulan. Pibang: Senjata tradisional masyarakat Dataran Negeri Bukit Pendape yang berbentuk pedang pendek. Bunang: Keranjang besar untuk mengangkut dan menyimpan bulir padi.

Dataran Negeri Bukit Pendape nama kawasan tradisional masyarakat. Sekarang terdiri dari Kecamatan Sungai Keruh, Kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Palakat Tinggi, dan sebagian dari wilayah-wilayah kecamatan lain. Perbatasan, berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten PALI dan tebing Sungai Musi. Sarap: Tumpukan daun-daun kering di atas permukaan tanah atau di dalam sungai.

Sy. Apero Fublic

12/27/2019

Mengenal Fungsi dan Manfaat Pohon Rengas

Apero Fublic.- Pohon rengas adalah pohon yang unik. Pohon ini mampu hidup di rawa-rawa, tebing sungai, tepian paya, tepian lebung, tepian danau atau dimanapun terdapat sumber air. Pohon rengas tumbuh di Madagaskar, India, Burma, Andaman, Indocina, Tiongkok, Thailand, Malaisya dan Indonesia.

Klasifikasi ilmia pohon rengas adalah termasuk kedalam jenis pohon-pohon anggota marga Gluta, bersuku Anacardiaceae. Habitat pohon rengas hidup di kawasan tanah yang dijangkau air. Kalau istilah masyarakat Melayu menyebutnya kawasan renah.

Tinggi pokok pohon terkadsng mencapai limah puluh meter dari atas permukaan tanah. Akar kuat dan berdaun lebat dengan dahan-dahan kokoh. Lingkar batang pohon terus membesar seiring pertumbuhan. Cara berkembang biak, dengan buah. Buah pohon rengas masak di musim penghujan. Kemudian buahnya jatuh di permukaan air sungai atau air sedang banjir, hanyut. Sehingga buah pohon rengas tersebar di seluruh kawasan tanah renah atau rawa-rawa.

Buah rengas yang terbawa air akan tergeletak di suatu tempat. Saat banjir surut atau buah tersebut tersangkut. Kemudian tumbuh di tempat tersebut. Itulah mengapa kita dapat menemukan pohon rengas tumbuh tersebar di dekat sumber air, rawa-rawa, dan di seluruh kawasan tanah renah.

Pohon rengas yang tumbuh di tepian sumber air akarnya akan bergulung besar untuk pernapasan saat air naik. Tapi pendapat ini perlu didukung penelitian ilmiah lebih lanjut. Ada pun manfaat pohon rengas secara kasat mata diantara sebagai berikut.

1. Penguat Tebing Sungai.
Akar pohon rengas yang bergulung-gulung besar dan kuat disekeliling batang pohonnya. Selain itu, pohon rengas juga memiliki jenis akar seperti gambut. Dari akar pohon rengas tersebut membuat tebing sungai menjadi kuat.

Sehingga tidak mudah longsor atau terkikis oleh arus air. Pohon rengas ada jenis yang berakar biasa tapi tetap kuat menahan tebing sungai. Semakin besar pohon rengas di tebing sungai semakin kuat tebing sungai. Pohon rengas dapat dibudidayakan untuk kelestarian lingkungan sumber air.

Dengan cara menanam 15 atau 20 meter satu pohon di sepanjang tebing sungai atau tebing sumber air lainnya. Dengan ukuran itu, akar pohon rengas akan berpadu. Sehingga tercipta beton alami di tebing sungai atau tebing sumber air lainnya.

2. Akar Sebagai Rumah Hewan Sungai.
Coba kita perhatikan pohon rengas yang besar tumbuh di tebing sungai. Akar-akar yang besar dan bergulung-gulung menjadi sarang hewan sungai. Mulai dari sarang ikan, keong, jenis labi-labi, kepiting, udang dan siput.  Bertelur dan bersarang di akar-akar pohon rengas.

Di sekitar pohon rengas kemudian menjadi habitat menyenangkan hewan-hewan. Badan sungai menjadi dalam, air menjadi ulak (tenang). Hewan berdatangan untuk tinggal. Suasana sekitar menjadi tedu dan sejuk. Penduduk sering datang menangkap ikan. Seperti memancing atau menjalah ikan disekitar akar pohon rengas. Karena selalu lebih mudah mendapatkan ikan.

3. Dahan Pohon Sebagai Rumah Hewan.
Dahan pohon rengas yang kokoh, rapat dan berdaun lebat. Membuat suatu tempat yang baik untuk hewan bersarang. Yang sering ditemui bersarang diatas pohon rengas jenis unggas. Burung elang dan burung besar lainnya. Jenis hewan primata, seperti kera, orang hutan, jenis tupai besar. Hewan mamalia seperti beruang.

Pohon rengas yang sudah besar dan dahannya sudah kokok melandai. Menjadi tempat lebah hutan membangun sarang. Sehingga pohon rengas sering dijadikan pohon sialang oleh penduduk. Pohon sialang adalah istilah pohon yang dijadikan tempat lebah hutan bersarang. Penduduk dapat memanen madu lebah diwaktu-waktu tertentu.

4. Sumber Oksigen.
Kita semua tahu, kalau pohon mengeluarkan oksigen dan pohon menghisap panas (CO2). Semakin besar pohon semakin banyak oksigen yang dikeluarkan. Oksigen dihirup oleh paru-paru hewan dan manusia.

Membuat bumi menjadi sejuk dan membantu mengatasi pemanasan global. Jangan menganggap remeh oksigen dan pohon. Pohon sama saja dengan nyawa manusia. Kalau tidak ada pohon lagi di dunia ini. Kita sebagai manusia akan mati. Karena pohonlah yang memproduksi oksigen untuk pernafasan kita, manusia.

Pohon rengas yang berkembang biak dengan buah. Akan terancam puna kalau ada penebangan masal pada pohon induk atau pohon yang telah berbuah. Oleh karena itu, jangan menebang pohon rengas untuk kepentingan pribadi.

Mari kita jaga pohon rengas yang tumbuh di dekat sumber-sumber air. Kemudian kita membudidayakan bibit pohon rengas. Lalu menanam di tebing sungai di dekat perkebunan kita. Begitupun dengan perusahaan perkebunan agar memperhatikan pohon rengas dan sumber air.

Kalau disepanjang tebing sungai dan danau ditumbuhi pohon rengas dengan jarak limabelas meter atau dua puluh meter. Maka tebing sungai akan terjaga dari longsor dan abrasi. Semakin banyak pohon rengas yang berakar besar bergulung-gulung itu. Semakin banyak sarang hewan sungai.

Berarti ikan, udang, keong akan berlimpa. Semoga pemerintah, masyarakat, aktivis lingkungan hidup, memberikan perhatian pada pohon rengas ini. Untuk pelestarian lingkungan dan pelestarian  sumber air. Pohon rengas dijadikan pohon yang dilindungi undang-undang.
Foto pohon rengas yang masih muda ditebang oleh penduduk saat membuka hutan untuk perkebunan. Hal demikian tidak boleh dilakukan. Karena akan membuat tebing sungai longsor.

Bukan hanya penduduk, perusahaan hutan industri baik perusahaan negara atau swasta tidak boleh menebang pohon rengas di dekat sumber air. Serta menjaga semua pohon-pohon yang tumbuh di tebing sungai.

Buat ukuran lima meter dari tebing sungai dimana tumbuhan dan pohon dibiarkan tetap tumbuh alami. Sehingga ada keseimbangan perkebunan dan kelestarian lingkungan hidup. #Salam lestari, selamatkan bumi.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 27 Desember 2019.

Sy. Apero Fublic

12/26/2019

Sudut Pandang. Wacana MONPERA dan Jiwa Kepemimpinan

Apero Fublic.- Menjadi seorang aktivis dan memperjuangkan suara rakyat bukanlah hal mudah. Menghabiskan waktu dan tenaga. Namun bagi aktivis sejati, tersampainya suara rakyat, hadirnya keadilan di tengah masyarakat adalah hal paling diutamakan. Kelelahan dan kepenatan adalah hal biasa sebagai bentuk ibadah, dan kepedulian nyata dalam kebermanfaatan hidup di tengah masyarakat. Intinya, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Sudut pandang kali ini, akan mengulas wacana-wacana yang  berkembang di tengah masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh. Salah satu wacana hangat adalah tentang pembangunan Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA),  di Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin. Untuk masalah ini Apero Fublic mengkonfirmasi seorang Aktis Muda dari Kecamatan Sungai Keruh, Pak Sujarnik (27/12). Dia aktivis yang sangat aktif dalam memperjuangkan suara rakyat. Melebihi dari seorang anggota legislatif atau eksekutif di Kabupaten Musi Banyuasin.

Menurut Pak Sujarnik, tentang wacana pembangunan MONPERA di Kecamatan Sungai Keruh. Dia sangat mendukung dan akan membantu menyuarakannya di tingkat PEMDA Kabupaten Musi Banyuasin. Selain itu dia juga akan mempelajari tentang hal ini lebih mendalam. Pak Sujarnik mengingatkan dengan mengutif perkataan Presiden Soekarno.

“Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Kemudian dia menambahkan lagi. “Pembangunan MONPERA untuk masyarakat, akan membangkitkan jiwa nasionalisme yang tinggi pada masyarakat tersebut. Sebab masyarakat akan terketuk hatinya, apabila pemerintah menghargai jasa para pahlawan tersebut.

Apa lagi yang berjuang dan yang gugur adalah kakek-kakek mereka semua. Karena para pejuang, bukan orang yang mati konyol atau orang bodoh. Anak cucu dan keturunan mereka, keluarga mereka, akan bangga pada mereka semua. Sehingga bertambah cintalah rakyat Kecamatan Sungai Keruh pada negara ini. Pungkasnya.
Aktivis muda yang sangat dekat dengan masyarakat. Selalu terjun langsung dalam menyuarakan perjuangan rakyat dalam mencari keadilan. Suatu ketika, Pak Sujarnik membantu mantan karyawan GPI Plasma Desa Gajah Mati. Memperjuangkan pesangon setelah mereka tidak lagi bekerja. Pernah membantu masyarakat memperjuangkan hak mereka di PT. ITA, Musi Banyuasin.

Dari kiprahnya yang  aktif ditengah masyarakat. Saya  bertanya, "apakah tanggapannya, seandainya masyarakat mengamanahkan kepemimpinan padanya. Dia menjawab santai, “bukan janji, tapi bukti dalam dunia kepemimpinan. Karena saya tidak pandai berjanji seperti kaum munafiq." Maksud Pak Sujarnik dia tidak mau banyak berjanji. Tapi dia akan membuktikan dengan tindakan nyata. Dalam dunia kepemimpinan.

Percakapan dilanjutkan, “apakah tertarik mengabdi di tanah kelahiran, Desa Gajah Mati. Ikut dalam pencalonan sebagai Kepala Desa?. “Kalau masyarakat mendukung, saya akan siap maju dan berjuang untuk kemajuan Desa Gajah Mati. Sekaligus membangun di tanah kelahiran sendiri. Daerah lain saja di perjuangkan!!, apalagi tanah kelahiran sendiri. Berdosa mengabaikan amanat masyarakat.” Ujar Pak Sujarnik dengan tegas dan mantap.

Kembali saya mengkorek keterangan darinya. “Omong punya omong, "Apa saja yang akan Pak Sujarnik programkan seandainya terpilih menjadi Kepala Desa di Desa Gajah Mati. Dia sepertinya kaget dengan pertanyaan tidak terduga ini. Dengan berat hati dia menjawab. “Beberapa hal yang paling mendasar dari pengamatan selama ini. Yaitu membangun pemandian umum, beserta pasilatas WC Umum. Untuk kesejahteraan masyarakat di sekitar sungai dan Sungai Keruh.

Membangun penguat tebing Sungai Keruh di sepanjang tebing Sungai Keruh di Kampung Laut, agar tanah tidak terus longsor (cor beton). Lalu membangun tepian mandi yang baik dengan konsep ramah lingkuangan. Menyuarakan kebersihan sungai-sungai kecil, mengeruk agar tidak dangkal untuk menanggulangi banjir musim hujan (Galumbang). Sehingga terbentuk juga konsep tempat rekreasi untuk masyarakat nantinya di sekitar tempat tersebut. Agar tidak menjadi tempat pembuangan sampah seperti selama ini." Jelasnya.

Ketika ditanyakan dibidang sosial dari programnya seandainya terpilih menjadi Kepala Desa. Sedikit bocoran dari programnya. Pak Sujarnik membuat program pengaktifkan bantuan untuk orang-orang tua yang sudah tidak bekerja (lansia). Menggerakkan pemuda dan pemudi mencintai kebudayaan sendiri, kebudayaan Melayu. Memajukan dunia olah raga, dunia seni, Ikatan Remaja Masjid (IRMA). Semua akan dikuatkan dan didampingi langsung olehnya. Sebagai pemimpin sekaligus sebagai saudara. Tandas beliau.

“Ah, sudah!!, tadi membahas wacana tentang pembangunan MONPERA di Kecamatan Sungai Keruh.” Kata Pak Sujarnik mengingatkan. Sadar kalau dia telah terjebak oleh perbincangan. "Kalau berbicara dengan orang media, nanti tersebar kilahnya." Kami pun tertawa dan mengalihkan pembicaraan kembali tentang wacana pembangunan MONPERA. Untuk mengenang masa-masa perjuangan masyarakat dahulu, di Kecamatan Sungai Keruh.


Waktu berlalu, karena masih ada kesibukan masing-masing. Maka kami mengakhiri perbincangan. "Maaf wawancara, wacananya agak terpeleset ke politik sedikit kataku, sebelum mengucap salam dan menutup sambungan henpon. Kita doakan bersama, semoga pemerintah kita terbuka mata hatinya. Mendengar suara masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh. Brapo untuk Pak Sujarnik, atas perjuangannya.
Foto kenangan Pak Sujarnik bersama Brigjen Polisi Bapak Mulyono di MABES POLRI. Pak Sujarnik Aktivis yang memiliki pergaulan luas. Dari masyarakat kecil sampai tingkat para pemimpin.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 27 Desember 2019.
Sumber dan sumber foto: Sujarnik.

Catatan: PT. Media Apero Fublic membuka jasa pengembangan karir politik, kepopuleran provesi, populer produk dan bisnis. Jasa penulisan e-Biografi dan publikasi karya tulis masyarakat. kontak: fublicapero@gmail.com.

Sy. Apero Fublic

Wacana Pembangunan MONPERA di Kecamatan Sungai Keruh. Musi Banyuasin


Apero Fublic.- Bangsa Indonesia adalah bangsa besar. Bangsa yang lahir dari pejuang-pejuang tangguh. Dari nenek moyang, sampai masa pergerakan kemerdekaan. Bangsa Indonesia terhitung bangsa yang tidak pernah mau tunduk pada penjajah (Belanda, Inggris, Jepang). Api perjuangan tidak pernah padam dari generasi ke generasi.

Sebut saja misalnya, seperti perlawanan Teuku Umar dari Aceh, Sultan Mahmud Badaruddin II, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Nuku Sultan Papua, dan banyak lagi lainnya. Kemudian pada masa pergerakan sampai masa perang mempertahankan kemerdekaan dari tangan Kolonial Belanda pada tahun 1946 sampai 1949, mereka datang ingin menjajah kembali.

Apabila kita nengingat semua pejuang-pejuang bangsa kita. Benarlah, bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang. Presiden Soekarno pernah berkata. Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya.

Peperangan mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia. Juga terjadi di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Mulai dari peperangan melawan Jepang, sampai dengan peperangan melawan Belanda.

Banyak korban jiwa, gugur dan hilang. Kerugian materil dan penderitaan kaum perempuan dan anak-anak. Mereka selalu siap siaga mengungsi kehutan-hutan. Sewaktu kecil aku pernah diceritakan oleh almarhum kakek tentang seorang pemuda di Desa Rantau Sialang. Pemuda tersebut menembak iring-iringan tentara Belanda yang melalui jalan di tengah desa.

Dari balik tiang-tiang, tumpukan kayu bakar, di bawah rumah seorang penduduk. Pemuda itu mengintip dengan senjata api tradisonal, kecepek. Lalu dia menembak dan mengenai seorang tentara belanda. Ada yang bilang tentara Belanda yang tertembak hanya terluka, ada juga yang bilang tewas.

Senjata api kecepek hanya sekali menembak. Sehingga dia harus lari menghindar. Tapi berondongan senjata otomatis membuat dia tertembak dan gugur. Sayangnya waktu itu aku belum mengerti. Sehingga aku tidak bertanya dengan detail, tidak mencatat cerita dan nama pemuda pemberani itu. Pemuda itu tidak dimakamkan di taman makam pahlawan.

Padahal dia seorang pahlawan dan telah menunjukkan jiwa perlawanan dan perjuangan. Dengan demikian, Belanda tahu kalau mereka bukan hanya berhadapan dengan tentara Indonesia saja. Tapi berhadapan dengan seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaannya, bagaimana kita menghargai jasa-jasa mereka. Salah satu cara adalah dengan membangun Monumen Perjuangan Rakyat atau MONPERA di Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Semasa perang, setelah Kecamatan Sungai Keruh dikuasai Belanda. Mereka melakukan pembersihan masyarakat yang ikut berjuang. Desa Tebing Bulang adalah sasaran pertama karena disekeliling markas Belanda di Kecamatan Sungai Keruh. Pada tanggal 7 September 1947. Terdapat 25 orang yang berhasil Belanda tangkap, diantaranya:

1. Benih bin Benah (Tebing Bulang)
2. Daud bin Benih (Tebing Bulang)
3. Badri bin Djahamad (Tebing Bulang)
4. Nurdin bin H. Aman (Tebing Bulang)
5. Rahusin bin Sein (Tebing Bulang)
6. Sahunil bin H. Siin (Tebing Bulang)
7. Syamsuddin bin Kerun (Tebing Bulang)
8. Duwi bin Mail (Tebing Bulang)
9. Ropal bin Ali Arab (Tebing Bulang)
10. Utjin bin Akim (Tebing Bulang)
11. Soleh bin Jabal (Tebing Bulang)
12. Nurdin bin Soleh (Tebing Bulang)
13. Aso bin Remah (Tebing Bulang)
14. Malik bin Deris (Tebing Bulang)
15. Bahrun bin Bahri (Tebing Bulang)
16. Asis bin Unang (Tebing Bulang)
17. Su’un bin Musa (Tebing Bulang)
18. Nurdin bin Marsup (Tebing Bulang)
19. Suro (Gajah Mati)
20. Yusup Keria Kertajaya (Kertajaya)
21. H. Zainal bin Sayip (Asal Sekayu)
22. Basri bin Ujud (Asal Sekayu)
23. Malik bin Samiun (Asal Sekayu)
24. Ayub bin Djasam (Tebing Bulang)
25. Nunsi bin Rahman (Tebing Bulang).[1]

Mengenang tentang Haji. Zainal bin Sayip yang diperlakukan dengan biadab oleh tentara Belanda. Badannya diikat lalu ditarik dengan mobil. Di lehernya digantung tulisan yang berbunyi, “orang yang membakar jerambah.” Waktu kecil dahulu aku mendengar orang-orang tua barisan kakekku bercerita tentang Kakek Suro yang ditangkap Belanda.

Mendengar itu, hampir semua laki-laki yang ikut membantu peperangan atau ikut berperang bersembunyi ke hutan. Hanya Kakek Suro yang tertinggal informasi dan dia tertangkap oleh Belanda. Semua yang ditangkap dibawa ke Pabel, daerah Kabupaten PALI. Kemudian mereka dimasukkan kedalam satu lubang dan dieksekusi mati.

Daftar pembantaian tersebut jumlah korban satu hari saja. Belum korban yang tidak tercatat dan kejadian diluar sepengetahuan saksi sejarah. Misalnya ada kontak langsung masyarakat diluar masa perang frontal. Banyak rumah dan pemukiman masyarakat yang dibakar.

Ada juga yang tewas oleh tembakan membabi buta tentara Belanda ke pemukiman. Di Desa Pagarkaya terhitung tujuh puluhan rumah dibakar tentara Jepang. Korban sejumlah itu, korban besar untuk daerah kecil seperti di Kecamatan Sungai Keruh. Karena jumlah penduduk belum sebanyak sekarang.

Dengan demikian, kita yang hidup damai pada masa sekarang. Ada baiknya mengenang dan menghargai jasa-jasa para pejuang dahulu. Tidak salah kalau Pemerinta Republik Indonesia, melalui Pementah Daerah menghargai perjuangan masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh. 

Perang telah dimulai dari masa perebutan senjata tentara Jepang, sampai dengan peperangan dengan pasukan Belanda. Telah menelan banyak korban, kerugian materil, dan penderitaan rakyat. Hampir semua potensi daerah kecil ini bergerak. Penduduk yang punya padi menyumbang padi, hasil ladang. Ada penduduk yang membuat senjata kecepek, Luin dari Desa Kertayu.

Pemerintah seharusnya membangun sebuah Monumen Perjuangan Rakyat atau MONPERA di Kecamatan Sungai Keruh. Sebagai bentuk penghargaan pada perjuangan rakyat. MONPERA ini akan menjadi kebanggaan masyarakat Sungai Keruh. Serta membangun jiwa patriotisme generasi penerus yang lahir di kecamatan ini. Perang ini bersamaan dengan perang fron Langkan. Dimana front Langkan sudah dibangun MONPERA.

Lokasi yang tepat pembangunan MONPERA, di desa atau di sekitar Desa Tebing Bulang. Karena lokasinya di tengah kecamatan, sekaligus ibu kota kecamatan. MONPERA juga untuk mengenang 25 orang warga sipil yang bantai tentara Belanda.

Sekaligus semua yang telah gugur diketahui atau tidak ketahui. Yang dimakamkan di taman makam pahlawan atau yang dikebumikan di belakang rumah-rumah penduduk. Tidak terkecuali yang hilang dan sampai sekarang tidak di temukan jasadnya. Alfatihah untuk mereka semua.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 26 Desember 2019.
Sumber: Yusman Haris. Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin. 2010.

[1]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin, h. 117.
Sy. Apero Fublic