5/22/2022

Meninjau Keadaan Islam di Lombok pada Abad ke-19.

APERO FUBLIC.- Pulau Lombok tidak begitu luas, terletak diantara Pulau Sumbawa dan Pulau Bali. Di pulau ini tinggal sekelompok masyarakat Melayu Sasak yang beragama Islam. Orang Sasak adalah masyarakat yang kuat dan tangguh, terutama dalam memegang agama Islam. Hal demikian terbukti pada masa Pulau Lombok dikuasai Kerajaan Mataram. Di kawasan lain di Nusantara umat Islam tidak ada yang mendapat tekanan penguasa sebagaimana di Pulau Lombok. Keadaan umat Islam sangat memprihatikan dan menderita. Begitulah keadaan umat Islam apabila dalam penguasaan yang bukan Islam.

Tekanan-tekanan oleh penguasa seperti diskriminasi antara rakyat beragama Hindu dengan umat Islam. Pertama adalah usaha-usaha mengaburkan ajaran Islam yang murni dengan cara memasukkan dan memaksakan sinkretisme Hindu dan Islam. Hal demikian cukup berhasil dimana kita sekarang masih mengenal adanya aliran Islam yang tidak sesuai dengan syariat Islam di Lombok. Kedua, merusak akidah umat Islam dimana judi-judi dipaksakan. Setiap pemimpin orang Sasak mengadakan judi di desa-desa mereka. Selain itu, penguasa Mataram juga mendapat pajak judi.

Ketiga, menyingkirkan para haji atau ulama yang berpengaruh. Penyingkiran dengan cara difitna akan memberontak kemudian dibunuh dengan kejam. Seperti yang terjadi pada tahun 1855. Namun orang Sasak tetap teguh memegang agamanya. Pada tahun 1856 sebanyak 400 keluarga pergi menyeberang meninggalkan Pulau Sumbawa. Mereka menghindari penindasan dan menyelamatkan agama mereka.

Keempat, dalam hal kewajiban negara. Penguasa Mataram membedakan perlakuan antara yang beragama Hindu dan beragama Islam. Undang-undang negara menetapkan kalau orang yang beragama Hindu bebas dari membayar pajak dan tidak terkena bekerja paksa untuk penguasa Mataram. Sedangkan orang Islam membayar pajak dan mendapat kewajiban kerja paksa yang dinamakan, ngayah. Tapi akan bebas dari membayar pajak dan tidak lagi kerja rodi kalau keluar dari agama Islam.

Kelima, setiap wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki Hindu wajib mengikut agama suaminya. Semua anak-anaknya juga harus ikut agama suaminya. Keenam, penguasa Mataram menekan jumlah orang yang naik haji. Sehingga orang yang naik haji sangat sedikit. Mereka tidak mau umat Islam menjadi pintar dan dakwa berkembang baik. Ketujuh, di Lombok Barat orang Islam yang menjalankan ibada Shalat di buru dan dihina-hinakan. Sehingga mereka shalat bersembunyi-sembunyi. Hal demikian kemungkinan menimbulkan aliran Islam yang lain di Lombok.

Demikianlah keadaan umat Islam di Lombok pada abad ke sembilan belas. Semua dapat direbut dan dikuasai oleh orang Mataram. Tapi mereka tidak dapat merebut agama yang ada di dalam hati orang Lombok Islam. Dalam pada itu, membuat usaha-usaha setiap orang Islam Lombok berusaha membebaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Mataram. Sehingga terus terjadi pemberontakan dan perlawanan-perlawanan terus menerus dan membuat suasana Lombok panas terus menerus. Hal demikian membuat keresahan di hati Raja Mataram.

Raja Mataram A.A. Gede Ngurah Karangasem berusaha mencari jalan keluarnya. Agar Kerajaannya tentram dan lepas dari kekacauan. Raja juga memikirkan politik jangka panjangnya diamana dia berkuasa di pulau yang dihuni hampir semuanya umat Islam. Kemudian Raja Mataram tersebut menikahi seorang muslima bernama Dinda Aminah seorang putri Sasak anak Dea Guru dari daerah Kalijaga. Dinda Aminah setelah menikah dengan raja Mataram namanya diganti menjadi Dinda Nawangsasih. Pernikahan tersebut juga dikarenakan raja Mataram pernah bermimpi kejatuhan bulan. Dalam petunjuk mimpi raja harus menikahi seorang putri sasak agar mendamaikan kerajaannya.

Walau menikah dengan laki-laki hindu, Dinda Aminah tetap teguh memegang agamanya. Dia menggunakan pengaruhnya dan raja menyetujui untuk memperbaiki keadaan rakyat yang beragama Islam. Di Ampenan raja mengizinkan berdirinya sebuah masjid. Di pusat pemerintahan Cakranegara juga dibangun masjid. Salah seorang cucu raja bernama Imam Sumantri memeluk agama Islam. Di istana juga diadakan pelajaran membaca Al-Quran untuk anak-anak orang Islam. Atas saran Dinda Aminah setiap orang diperbolehkan naik haji. Bahkan raja Mataram memberikan uang pada orang-orang yang akan berangkat haji. Sejak itu, keadaan Kerajaan Mataram beransur-ansur membaik dan damai. Raja sangat menyadari apabilah umat Islam ditekan terus menerus akan membahayakan kedudukan mereka. Pemikiran raja terbukti saat terjadi perang Praya II, dan berlanjut keruntuhan Kerajaan Mataram pada tahun 1894.

Namun tindakan raja Mataram A.A. Gede Ngura Karangasem tidak disukai oleh anaknya bernama A.A. Made Karangasem. Sewaktu pengaruh Islam muali naik, mereka khawatir. Karena itu, dia mulai mencari teman bersekongkol untuk menghancurkan pengaruh Islam. A.A. Made mulai mengatur untuk menyingkirkan pemimpin-pemimpin orang sasak, memfitnah lalu membunuhnya. Perbuatan A.A. Made Karangasem sangat bertolak belakang dengan kebijakan ayahnya, Raja Mataram.

Tidak hanya disitu, A.A. Made menggerakkan orang Sasak untuk membangun tempat-tempat pemujaan. Mereka dipaksa, bekerja tidak di bayar dan anak istri mereka terlantar. Perbuatan A.A. Made yang sewenang-wenang telah menyebabkan kekacauan di Mataram. Raja kemudian mengetahui sifat buruk anaknya. Namun dia sudah sangat terlambat mengatasi permasalahan. Selain kesalahan perbuatan A.A. Made, juga adanya tekanan dari Belanda untuk menghukum A.A. Made. Raja kemudian memutuskan untuk menghukum sendiri anaknya, lalu mayatnya dibuang ke laut tanpa upacara keagamaan.

Keadaan umat Islam di Lombok berbeda dengan keadaan umat Islam di Kerajaan Sumbawa, Dompu, Bima, dan Sanggar dimana Islam maju dengan pesatnya. Ditambah lagi saat Gunung Tambora meletus pada 1815 memusnakan pemukiman, sawah, ternak, kebun dan ladang. Membuat umat Islam sadar kehidupan dunia hanya sementara dan Allah akan mencabut nikmatnya kalau manusia hidup dengan baik, dan beribadah.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 23 Mei 2022.
Sumber: Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977/1978.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment