5/21/2022

KISAH NYATA: Tujuh Kesatria dalam Perang Praya II (1891-1894)

APERO FUBLIC.- Kisah tujuh kesatria Praya bukan legenda atau sastra lisan, tetapi kisah nyata yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada masa akhir abad ke sembilanbelas. Peristiwa terjadi pada saat perang Praya II pecah. Perang Praya bentuk perlawanan masyarakat Melayu Islam di Lombok terhadap kezaliman Kerajaan Mataram di Lombok.

Sasak adalah nama salah satu kelompok masyarakat Melayu Nusantara yang mendiami Pulau Lombok. Pada abad ke sembilanbelas Lombok dikuasai oleh Kerajaan Mataram Hindu. Penduduk Lombok hampir semuanya orang Islam. Hukum mereka adalah hukum Islam yang dipadukan dengan hukum adat. Hukum demikian sama seperti hukum masyarakat di Nusantara kala itu, seperti masyarakat Melayu Palembang, Melayu Riau, Melayu Minang, Melayu Aceh dan berbagai tempat lainnya di Nusantara. Dengan demikian kekuatan Islam di Lombok sangat teguh di hati masyarakatnya, dan sampai sekarang. Hal demikian membuat resah penguasa Mataram.

*****

Perang Praya II dipimpin oleh Lalu Ismail atau Guru Bangkol dan Mamiq Srinata meletus pada tanggal 8 Agustus 1891. Awal perang Praya II terjadi karena pemerintah Kerajaan Mataram terus berbuat sewenang-wenang. Kemudian dendam atas perbuatan kejam Mataram saat perang Praya I. Ketiga karena terbunuhnya seorang ulama bernama Guru Ayang oleh seorang Perbekel Bali di Praya tanpa kesalahan yang nyata.

Satu hal yang paling membuat masyarakat Sasak marah adalah karena pembunuhan Guru Ayang. Saat mereka meminta keadilan pada raja Mataram tidak ditanggapi. Maka, jalan terakhir adalah dengan mengangkat senjata. Lebih-lebih mendapat janji dari seorang Arab yang mengaku bernama Tuan Syarif, mengatak kalau Syayid Abdullah dan Datu Pangeran telah siap di Cakranegara. Begitu juga desa-desa lain siap membantu. Namun kenyataanya hanya dua desa yang telah dihubungi, yaitu Desa Penujak dan Desa Puyung. Kemudian Desa Puyung berkhianat pada Praya dan memihak Mataram. Akibat laporan orang Desa Puyung, pasukan Praya diserang pasukan Mataram di Penenteng Aik. Dalam pertempuran itu, pasukan Mataran terdesak dan beberapa waktu kemudian datang pasukan bantuan dari Mataram. Pasukan Praya mundur dan Pasukan Mataram mengejar lalu mereka bermarkas di Desa Puyung. Disana dipimpin langsung oleh Anak Agung Made putra mahkota Mataram dan para panglimanya.

Keadaan Desa Praya menjadi sepi karena di tinggal oleh penduduknya mengungsi ke hutan. Hanya tujuh orang yang masih tinggal mempertahankan Desa Praya. Yaitu, Guru Bangkol, Mamiq Sapian, Haji Yasin, Mamiq Diraja, Amaq Lembain, Amaq Tombok, dan Amaq Gewar. Mereka bertahan di dalam masjid.

Untuk menipu pasukan Mataram disekeliling mereka tanam bumbung bambu. Lalu di belakang diikatkan tombak yang diikat satu sama lain. Saat tali penghubung ditarik maka tombak-tombak dapat bergerak bersamaan. Saat dilihat dari luar tampak ada ratusan orang menggerakkan tombak-tombak siap berperang. Masjid di kepung oleh pasukan Mataram, dan tidak dapat mendekati masjid. Ketujuh orang secara bergiliran menyusup keluar masjid lalu mengamuk menghabisi satu demi satu pasukan Mataram. Setiap hari masjid ditembak dengan senapan dan meriam. Tapi tidak ada kerugian jiwa karena memang tidak ada pasukan selain ketujuh satria itu.

Sementara itu, orang Desa Praya yang mengungsi ke hutan kembali masuk desa dan mulai membantu tujuh kesatria melakukan perang fisabilillah itu. Semangat yang tinggi tumbuh dan kekuatan mereka bersatu. A.A. Made berusaha sekeras mungkin untuk menjatuhkan Praya. Namun mereka tidak dapat menembus pertahanan Praya.

Benteng pertahanan dan sarang meriam Pasukan Mataram di Ruak diserang dan bahan-bahan beserta senjatanya diangkut pasukan Praya dalam satu malam saja. Kemudian A.A. Made berencana membuat benteng stelsel mengelilingi Praya. Benteng dibuat sepanjang dua setengah kilo meter di barat Praya. Dia berusaha mencegah orang Praya yang keluar untuk mencari makan. Benteng itu diserang pasukan Praya pada suatu malam. Beratus-ratus pasukan mataram tewas dan senapan, bahan makanan, dan alat-alat diangkut oleh pasukan Praya juga selesai dalam satu malam itu juga. A.A. Made menjadi sangat gusar, ditambah lagi desakan ayahnya raja Mataram untuk menyelesaikan perang secepatnya.

Pasukan bantuan kembali didatangkan ke Praya dipimpin oleh A.A. Ketut. Namun pasukan Mataram masih tidak dapat menembus pertahanan Praya yang semakin kuat. Bahkan mereka terus menderita kerugian terutama korban jiwa. A.A. Made dan A.A. Ketut mencurigai kalau pasukannya dari orang Melayu Sasak berperang tidak sungguh-sungguh. Untuk itu, pemimpin orang Sasak, Mamiq Wirata dan anaknya dilucuti lalu dikirim ke Cakranegara. Di sana keduanya dibunuh dengan kejam. Selanjutnya, pemimpin orang Sasak bernama Haji Ali dan Mamiq Nursasih dari Sakra akan disingkirkan juga oleh A.A. Made. Keduanya masih sempat melarikan diri bersama pengikutnya kembali ke Sakra. Dari Sakra keduanya menyerukan dan mengobarkan perang fisabilillah yang disambut oleh semua desa di Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Mereka menceritakan kekejaman A.A. Made yang telah menangkap empat ratus lima puluh orang sasak yang ikut memerangi Praya dan membunuh Mamiq Wirata bersama anaknya. A.A. Made juga berencana akan membunuh semua haji-haji di Lombok.

Dalam beberapa hari perang fisabilillah diumumkan. Semua desa-desa di Lombok Tengah dan Timur berbalik menyerang kedudukan Mataram. Sehingga semua orang Mataram disapu bersih. Diantara orang Mataram yang berusaha bertahan segerah terbunuh.

Pemimpin masyarakat Sasak waktu itu yang bersatu menjadi satu kekuatan. Yaitu, Mamiq Mustiaji dari Kopang, Mamiq Nursasi dan Haji Ali dari Sakra, Guru Bangkol dari Praya, Raden Wiranom daro Pringgabaya, Raden Ratmawa dari Rarang, Raden Melaya dari Masbagik, Raden Umas dari Jonggat. Setelah kekuatan Mataram di Lombok Timur jatuh, kemudian kekuatan ditujukan menyerbu desa-desa yang dipertahankan Mataram di sebelah barat Sungai Babak.

Semua masyarakat bergabung dan membentuk kesatuan-kesatuan menurut kelompok mereka. Dalam pertempuran di Pringgarata tempat pesanggrahan A.A. Made dia terpukul mundur ke Sintung. Di Sintung pasukan Mataram di hancurkan, bahkan A.A. Made hampir tewas kalau tidak segerah dilarikan anak buahnya. Bahkan tandu A.A. Made dirampas dan dihancurkan pasukan Mamiq Mustiaji.

Kedudukan pasukan Mataram di Desa Puyung penghianat yang dipimpin A.A. Ketut juga mendapat giliran serbuan masyarakat Sasak. Lalu A.A. Ketut dan sisa pasukan melarikan diri ke Kediri. Tidak berapa lama Kediri dan menyusul daerah Bengkel juga direbut orang Sasak. Sampai akhirnya wilayah kerajaan tinggal di Kota Mataram, Cakranegara dan Narmada.

Tapi Mataram belum putus asa untuk memenangkan peperangan dengan orang Islam Melayu Sasak. Pertahanan mereka kuat dan mereka menggunakan waktu dalam waktu tiga tahun antara perang dan damai Mataram untuk mengumpulkan kekuatan. Kerajaan Mataram membeli dua buah kapal dari Singapura untuk patroli laut disekitar Pulau Lombok. Selain itu, Mataram membeli senjata api terbaru juga dari Singapura. Setelah perang Bali selesai bantuan dari Karangasem didatangkan dibawa pimpinan A.A. Gede Jelantik. Belanda memberi nasihat agar tidak terlalu kejam dalam menumpas perlawanan masyarakat Sasak. Namun nasihat tersebut hanya dianggap angin lalu saja oleh Mataram.

Pasukan Mataram dibagi menjadi dua bagian, fron timur bermarkas di Kotaraja dan fron selatan bermarkas di Mujur. Masyarakat Sasak juga membagi pasukan mereka dua fron untuk menghadapi pasukan Mataram. Sejak perang masyarakat di Lombok meninggalkan pertanian sehingga kelaparan mengancam mereka. Melalui orang Melayu Bugis, Belanda menyelidiki keadaan masyarakat Melayu Sasak.

Pemimpin Sasak mengirim surat permohonan bantuan pada Gubernur Belanda pada 20 Februari 1894. Pada 3 Maret 1894 utusan gubernur yaitu Liefrinch menuju Lombok dan berlabu di Tanjung Luar kemudian menuju Sakra. Setelah berunding dengan pemimpin rakyat, Liefrinch kembali ke Buleleng. Beberapa hari kemudian Liefrinch kembali lagi dengan beberapa kapal perang. Mereka bermusyawarah dan menurunkan bahan makanan. Masa itu, perang sedang meredah walau tidak ada perdamaian.

*****

Belanda sudah lama tertarik dengan Lombok dan sekitarnya. Namun peperangan diberbagai daerah di Nusantara menyibukkan Belanda. Sehingga mereka untuk sementara mengabaikan Kerajaan Mataram. Lombok sangat kaya akan hasil beras, sejak berabad-abad lalu sudah diekspor ke luar negeri, seperti ke  Australia, Borbon, Manila, dan Cina. Sehingga sangat menarik bagi Kolonial Belanda untuk memenuhi suplai beras.

Selain itu, Belanda juga tidak ingin Inggris menancapkan pengaruhnya di Mataram. Berbekal kekhawatiran akan kekuasaan Inggris di sana, Belanda mengambil tindakan pencegahan dengan cara menaklukkan Kerajaan Mataram. Untuk itu, mereka mau membantu masyarakat Sasak dalam menghadapi Mataram. Bagi Belanda, Kerajaan Mataram tidak begitu kuat dari sisi taktik perang zaman itu. Sebab orang Lombok dimana kekuasaan Mataram penduduknya hampir semuanya beragama Islam. Belanda juga tahu bagaimana kelakuan orang Mataram pada masyarakat di Lombok. Maka dengan dalih menyelamatkan masyarakat Melayu Sasak, Belanda campur tangan dan menyerang Mataram bersama masyarakat Lombok. Namun penyerangan juga atas penghianatan Mataram pada perjanjian yang telah disepakati. Entah benar atau tidak memang pada dasarnya cara memerintah Kerajaan Mataram memang tidak baik. Sehingga menimbulkan kebencian dan dendam yang tersimpan bagaikan bara api di dalam jiwa setiap orang Lombok pada Mataram.

*****

Karena berbagai tuntutan tidak dihiraukan pihak Mataram. Maka Belanda melalui Surabaya memulai ekspedisi ke Lombok pada 3 Juli 1894. Bersamaan dengan itu, dibuat peraturan memperketat impor dan ekspor serta penyaluran kebutuhan perang ke Lombok. Selain itu, pencegahan mendatangkan bantuan perang dari Karangasem dan mencegah A.A. Made melarikan diri keluar Lombok. Anak Agung Made dianggap anak raja yang paling jahat selama ini. Dia mengancam seusai perang akan membunuh semua pemimpin masyarakat Sasak dan para haji agar tidak ada lagi pemberontakan.

Ekspedisi berkekuatan lima kapal, yaitu Prins Hendrik, Koningin Emma, Trom, Sumatra dan Borneo. Seratus tujuh orang perwira, seribu tiga ratus dua puluh orang prajurit Eropa, sembilan ratus empat puluh delapan orang prajurit bumiputra, tiga ratus delapan puluh enam ekor kuda, tiga puluh tujuh ekor keledai, dua ratus enam belas orang pembantu, enam puluh empat orang mandor, seribu tujuh ratus delapan belas orang narapidana, dan beberapa orang pegawai sipil. Panglima ekspedisi Mayor Jenderal J.A. Vetter, wakil panglima Mayjen P.P.H. Van Ham. Tiba di Ampenan pada 5 Juli 1894, kemudian langsung mengirim ultimatum disampaikan pada raja Mataram dan harus disetujui sebelum matahari terbit keesokan harinya (6 Juli 1894).

1.Raja harus tunduk seluruhnya di bawah Pemerintah Kolonial Belanda.
2. Raja harus meminta maaf atas semua kesalahan-kesalahannya selama ini.
3.A.A. Made harus diserahkan kepada Belanda.

Pada Tanggal 11 Juli 1894 baru saja pasukan akan diberangkatkan menyerbu istana Mataram. Datang utusan bahwa menyetuji menyerahkan A.A. Made, tapi dengan syarat rajalah yang akan membuang A.A. Made. Sehingga diminta untuk mengirim panitia yang menyaksikan A.A.Made yang akan bunuh diri. Maka dikirmlah Liefrinck dan dua punggawa Buleleng yang sudah mengenal A.A. Made. Sekembali dari Mataram Liefrinck menceritakan pada J.A. Vetter kalau A.A. Made bunuh diri atau dibunuh sesaat sebelum dia datang. Buktinya saat dia tiba mayatnya masih menggelepar. Orang-orang menduga kalau A.A. Made dibunuh atas perintah raja karena dia telah berbuat maksiat bersama anak gadis saudara laki-lakinya. Mayat keduanya kemudian dibuang ke laut atas perintah raja.

*****

Setelah peristiwa itu, perang tidak terjadi. Maka Belanda menjadi pasukan sahabat. J.A. Vetter membangun pos-pos militer antara Mataram dan Karangjongkong berhadapan dengan Puri Raja. Panglima Belanda dan wakilnya tinggal di Puri Gusti Gede Jelantik. Kemudian diadakan perundingan-perundingan antara masyarakat Sasak dengan pihak Kerajaan Mataram.

1.Masyarakat Melayu Sasak akan membentuk pemerintahan sendiri yang otonom sederajad dengan pemerintahan Mataram dibawah pengawasan Pemerintah Belanda.

2.Kerajaan Mataram diwajibkan membayar biaya perang sebesar satu juta fonsterling sebelum ekspedisi meninggalkan Lombok.

3.Setiap tahun Mataram dibebani kewajiban menyumbang 25.000 fonsterling untuk biayah Pemerintah Belanda di Lombok.

Karena semua syarat di terima Mataram dan masyarakat Sasak. Maka Vetter memerintahkan menghancurkan semua benteng-benteng pertahanan kedua belah pihak sebelum dia meninggalkan Lombok. Untuk memastikan dikirim pasukan ke pedalaman memastikan perjanjian ditepati semuanya.

*****

Tidak berapa lama Raja Mataram mulai menghianati perjanjian tersebut atas anjuran dari orang Rusia, bernama Malingin. Dia mengusulkan agar pasukan Mataram menyergap pasukan Belanda saat akan menyebarang. Rencana penyergapan dilaporkan oleh Kapten Infanteri Schmidhamer kepada Vetter. Laporan itu, sebelumnya disampaikan oleh seorang penduduk yang mendengar rencana tersebut bernama Amaq Amat dari Sukaraja. Pihak Belanda berusaha mengecek kebenaran itu, dengan bersurat pada A.A. Ketut. Tapi dia tidak tahu menahu. Vetter kemudian tenang-tenang saja dan menambah kekuatan pasukannya di Cakra, Vetter dan wakilnya Van Ham tidur diantara prajuritnya. Menjelang tengah malam terdengar letusan senjata terus menerus. Sehingga terjadilah perang antara pasukan Mataram dan pasukan Belanda, pada 25 Agustus 1894.

Keesokan harinya Vetter dibawah hujan peluru terus menerus berhasil meloloskan diri menuju pasukan induknya di Ampenan. Sedangkan Van Ham tertembak di perutnya dan kemudian meninggal dunia. Sementara Raja Mataram menyalahkan penyerangan itu pada Gusti Ketut Gusa yang memimpin penyerangan malam itu. Sehingga dia melarikan diri ke Praya dengan dalih akan masuk Islam. Tapi masyarakat Sasak tidak percaya lagi pada orang Mataram. Kemudian Gusti Ketut Gusa dan dua orang utusan raja di penggal, lalu kepala mereka di serahkan pada Jenderal Vetter di Ampenan, 18 September 1894.

*****

Sudah sejak tanggal 30 Agustus 1894 Mataram sudah dibombardir Belanda. Seluruh pantai barat dan utara pulau Lombok dijaga ketat sehingga tidak mungkin Mataram mendapat bantuan dari Bali. Sebelumnya pada 7 Agustus 1894 Gusti Gede Jelantik telah meninggalkan pulau Lombok dari Kombal menuju Karangasem, Bali.

Pihak Mataram mulai bermain politik untuk menghadapi Belanda. Mereka memberikan janji-janji muluk pada orang Sasak untuk berperang bersama mereka untuk melawan Belanda. Memberikan banyak uang dan menyerahkan Datu Pangeran, dan A.A. Ketut yang beragama Islam pada Guru Bongkol di Praya. Namun luka yang dibuat orang Mataram terlalu dalam sehingga tidak mungkin bagi mereka membantu Mataram. Sementara itu, orang-orang di Lombok Tengah dan Lombok Timur telah dipersenjatai untuk menggempur Kerajaan Mataram.

Belanda bersama masyarakat Lombok mengepung pertahan terkuat Mataram di Pagesangan dan Pagutan. Pada 17 September tempat itu jatuh. Di sana ikut tewas anak laki-laki almarhum A.A. Made bernama Gusti Luki. Pada malam tanggal 20 September pasukan Mataram mencoba merebut Pagutan tapi dicegat pasukan rakyat Sasak. Bahkan mereka berhasil menangkap bekas pemimpin Pagutan, Ida Nyoman Kosong dan diserahkan pada jenderal Vetter.

Kota Mataram mulai diserang dari tanggal 27 September 1894. Di bawah pimpinan Jenderal M. Segov meriam-meriam gunung Belanda membombardir kota Mataram. Pada tanggal 29 September 1894 tiga setengah batalyon menyerbu kota Mataram dari semua penjuru. Serangan Belanda dipimpin langsung Vetter, dan pihak Mataram dipimpin Putra Mahkota. Putra mahkota bertahan mati-matian di dalam puri raja. Korban berjatuhan dikedua belah pihak. Termasuk putra mahkota dan sejumlah keluarga dan pembesar kerajaan. Sisanya mengungsi ke Cakranegara dan menyerah. Puri Mataram dibakar dan diratakan dengan tanah, menggunakan mesin, dinamit, linggis dan sekop. Kota Mataram jatuh dan penduduknya mengungsi ke gunung atau meminta perlindungan pada masyarakat Sasak.

*****

Pada 15 November 1894 bantuan pihak Belanda kembali datang dari Ampenan. Tiga hari kemudian Jenderal Vetter memimpin menyerang Cakranegara. Sebelumnya Cakranegara telah di bom berhari-hari. Pertempuran dimulai dari subuh sampai menjelang soreh. Pasukan Belanda mendapat perlawanan sengait, mereka ditembaki dari setiap sudut dan dari atas pagar dan pepohonan. Pasukan Belanda merangsek masuk ke sekitar Puri. Tapi saat mendekati petak penyimpanan harta benda pasukan Belanda terpukul mundur. Jenderal Vetter menunda pembersihan sampai esok hari. Kesempatan itu digunakan raja untuk melarikan diri ke Sasari di tengah malam. Puri ditinggalkan kosong dan tidak ada seorangpun. Menjelang subuh petak yang dipertahankan mati-matian itu telah dipenuh oleh orang Sasak. Mereka mengambil harta benda, uang dan lainnya. Belanda menemukan 230 kilogram emas, 3.180 kilogram uang perak. Sebuah naskah Keropak Negarakertagama berhasil diselamatkan Brandes seorang ahli bahasa yang ikut ekspedisi. Naska tersebut menceritakan tentang Kerajaan Majapahit.

*****

Sesungguhnya orang-orang Melayu Islam di Lombok sangat kuat dan pemberani. Namun yang menjadi kelemahannya adalah mereka tidak bersatu. Kalau mereka bersatu Kerajaan Mataram tidak akan dapat bertahan lama. Sebagai contoh bentuk tidak bersatunya masyarakat Lombok saat terjadinya perang Kalijaga.

Dea Guru dan Dea Meraja berani menolak lamaran raja Mataram. Karena sebelumnya Raden Amir dan Raden Kardiyu menjanjikan bantuan kalau Kalijaga diserang Mataram. Namun dalam perjalanan perang rahasia mereka dibocorkan oleh seorang pengikut Kalijaga bernama Pe Sriyaman. Kemudian Raden Amir dan Raden Kardiyu juga berbelok menyerang Kalijaga hanya karena janji dari raja Mataram agar mereka diampuni.

Kemudian pada perang Praya I, dimana Mataram ingin menguasai seluruh Pulau Lombok. Mataram melakukan politik pecah belah diantara desa-desa otonom atau yang mempunyai pemimpin sendiri. Mataram yang ingin menguasai Lombok juga menggunakan siasat halus. Dengan cara melamar seorang Putri Raden Wiracandra di tolak oleh Praya. Untuk menyerang Praya Mataram menghasut desa-desa tetangga Praya, seperti Kopang, Batukliang, Rarang dan Sakra agar memusuhi Praya. Akibat hasutan seolah-olah Kopang dan Batukliang musuh utama dari Praya. Kemudian terjadi persengketaan batas wilayah antara Praya dan Batukliang dan Kopang. Praya kemudian menyerang Batukliang dan Kopang, lalu Mataram datang membantu. Mataram mengirim Ratu Gede Wanasara yang di dampingi Ida Made Rai dan Gusti Made Kaler. Praya di kepung selama satu setengah tahun membuat kelaparan, kemudian diakhir perang Raden Wiracandra  dan semua pembantunya bertekad untuk mati fisabilillah. Begitu juga pasukan Haji Umar juga menjalani perang fisabilillah. Keluarga Raden Wiracandra banyak yang ditawan, dibunuh, dibuang. Hanya Raden Tunggul putra Raden Wiracandra yang berhasil meloloskan diri ke Sumbawa dan berlayar ke Bugis.

Hancurnya Praya membuat kebanggaan bagi Batukliang dan Kopang. Namun kebaikan Mataram pada kedua desa itu hanyalah siasat melemahkan dan bagian dari politik adu domba. Lima bulan setelah Kopang dihancurkan Mataram. Berlanjut dengan kehancuran Batukliang. Satu tahun kemudian tiba giliran Raden Amir dari Mamben dan Raden Kardiyu dari Korleko, yang sebelumnya menghianati Dea Meraja dan Dea Guru. Lalu Kalijaga dan Penguasa Kalijaga Raden Meraja juga dihancurkan Mataram.

Karena tidak bersatunya orang-orang Sasak di Lombok membuat mereka lemah. Mudahnya diadudomba sehingga masyarakat Melayu Sasak selalu rusuh dan bertikai satu sama lainnya. Sehingga mereka tidak dapat mengalahkan Kerajaan Mataram yang kecil menjajah mereka. Kalau mereka dapat bermusyawarah dan mengedepankan persatuan umat dan Islam, pastilah mereka sangat kuat. Sebagaimana saat terjadi perang Praya II yang dimulai dari tujuh kesatria Praya. Dalam waktu singkat Mataram hampir jatuh.

Dunia berputar dan zaman berubah-ubah. Kezaliman Mataram yang memerintah dengan tangan besi dan sewenang-wenang juga akhirnya berakhir. Perang Lombok terjadi masyarakat Lombok dan Belanda berhasil menghancurkan Mataram. Kalau sebelumnya Mataram yang melakukan pembunuhan, pembersihan keluarga musuh-musuhnya, menawan, membuang, dan melarikan diri. Saat terjadi perang antara tahun 1891-1894 giliran keluarga Raja Mataram, orang Mataram dan pembesar Mataram yang menerima hukum karma. Mereka juga yang terbunuh, dibuang, dan melarikan diri tanpa tahu arah.

Kekalahan Mataram adalah pelajaran bagi penguasa dan kita semua. Kesewenangan dan kekejaman pada rakyat hanya melemahkan kekuatan negara. Kesombongan dan keserakahan A.A. Made Karangasem membuat penderitaan dan luka bagi rakyat Sasak. Sehingga dia dibenci oleh orang Lombok. Maka dalam serbuan Belanda masyarakat Sasak tidak mau membantu Mataram dan justru membantu Belanda untuk meruntuhkan Mataram. Mataram runtuh pada tahun 1894. A.A. Made yang selalu meneror haji atau ulama yang menyebabkan kemarahan rakyat Sasak Islam. Juga mati terhina sebagaimana perlakuannya pada orang Sasak.

Kita dapat melihat bagaimana pemerasan pada rakyat dan akhirnya harta yang terkumpul juga dirampas rakyat. Tembok-tembok istana yang dibangun atas jerih payah rakyat juga akhirnya dibongkar rakyat. Lalu apa yang dihasilakan sebuah pemerintahan demikian selain kelelahan dan penderitaan orang banyak. Oleh karena itu, hal yang menjadi pelajaran bagi kita adalah ahlak, adab, kebaikan dan kemanusiaanlah yang perlu kita perjuangankan, bukan nafsu dan keserakahan materialisme. Sebuah peradaban seperti tumbuhan yang tumbuh, berkembang dan mati. Tetapi setiap kehancuran dinasti atau pemerintahan semuanya disebabkan dari dalam terutama rusaknya moral pemimpin dan pembesarnya itu sendiri.

Disusun: Tim Apero Fublic.
Editor. Joni Apero.
Palembang, 21 Mei 2022.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Sumber: Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977/1978.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment