11/04/2021

MARI BUDAYAKAN LITERASI INFORMASI DI KALANGAN MASYARAKAT

APERO FUBLIC.- Gerakan literasi menjadi kegiatan yang sedang marak di Indonesia. Bermunculan para penggiat literasi mencoba menyebar virus literasi informasi. Beragam kegiatan di gemakan guna menyadarkan masyarakat guna pentingnya budaya literasi. Suatu budaya yang ditandai dengan indikator utama kegemaran membaca dan menulis.

Agar literasi daapat dikuasai secara maksimal sehingga mampu membantu manusia mencapai tujuan-tujuan mereka, budaya literasi perlu dilaksanakan. Seperti apakah budaya literasi itu? Secara sederhana, literasi atau literer istilah lain dari melek huruf secara fungsional adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara serta kemampuan mengidentifikasikan, mengurai dan memahami suatu masalah.

Budaya literasi merupakan salah satu aspek penting yang harus diterapkan di lembaga-lembaga sekolah guna memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri mereka. Apalagi saat ini indonesia masih menghadapi sindrom buta huruf yang kerap kali menjadi penghambat kemajuan pendidikan nasional sehingga di butuhkan strategi laternatif yang bisa dilakukan untk menopang peningkatan kualutas sumber daya manusia Indonesia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, literasi adalah kemampuan menulis dan membaca. Sesuatu yang dibaca dapat dikatakan sebagai “teks”. Teks tidak selamanya harus berbentuk tulisan. Teks dapat pula dalam bentuk (audio) dan pandang-dengar (audio-visual).

Dalam paradigma berpikir modern literasi juga bisa diartikan sebagai kemampuan nalar manusia untuk mengartikulasikan segala fenomena spsial dengan huruf dan tulisan. Bahkan menurut Kirsch dan Jungeblut (1993) dalam bukunya Literacy: Profiles of America’s Young adult, literasi kontemporer merupakan kemampuan seseorang dalan memanfaatkan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat luas.

Namun sebagaimana kita cermati di kalangan masyarakat sekarang dalam kehidupan sehari-hari budaya lisan sudah menjadi darah daging atau sudah melekat hampir setiap stratifikasi sosial sehingga mengalahkan budaya literasi. Proses transfer budaya lebih cenderung lewar dari mulut ke mulut seperti bercerita dibandingkan tulisan. Budaya lisan semakin menguat dengan hadirnya media elektronik seperti radio, televisi dan internet. Jelas dengan kondisi seperti ini, menciptakan budaya literer secara menyeluruh akan semakin sulut terwujud.

Mirisnya di Indonesia salah satu tantangan terbesar dalam pemberdayaan bangsa ini adalah meninggalkan tradisi lisan untuk memasuki tradiso baca tulis (Suroso, 2007:11). Padahal era teknologi informasi telah menciptakan ruang yang luas terhadap tumbuh kembangnya media baca tulis.Rendahnya budaya literasi Indonesia, salah satu penyebabnya karena pejabat dan birokrat pendidikan tidak paham tentang literasi itu sendiri.

Akibatnya, literasi tidak menjadi bagian dari kurikulum termasuk dalam Kurikulum 2013. Memang hal ini menjadi  masalah yang sangat kompleks ketika minat baca orang Indonesia baik di kalangan pejabat Indonesia sudah sangat rendah dan berkurang sebagaimana dicatat dalam penelitian UNESCO.

Berdasarkan studi Most Littered Nation In the Word yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia tepat berada di bawah Thailand yang berada di peringkat ke-59 dan di atas Bostwana yang berada di peringkat ke-61.

Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Penilaian berdasarkan komponen infrastruktur indonesia ada di urutan ke-34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan.

Menurut data dari The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia. Bagaimana membangun budaya membaca (literasi ) di era digital saat ini? Hampir semua orang selalu menyalahkan teknologi sebagai penyebab anak tidak mau membaca, apalagi menulis.

Apakah memang seperti itu kondisinya? Teknologi tidak sepenuhnya menjadi penyebab rendahnya literasi di Indonesia. Beberapa penyebab lainnya antara lain belum terbiasa, belum termotivasi, dan sarana yang minim. Akan tetapi, hal tersebut semestinya tidak menjadi persoalan jika diimbangi dengan usaha untuk membangun budaya literasi.

Menumbuhkan kesadaran membaca dapat dimulai dari keluarga. Misalnya, orang tua menyediakan buku bacaan di rumah. Hal tersebut tentu saja diimbangi dengan kerelaanorang tua menyisihkan uang untuk membeli buku. Di sinilah peran orang tua sangat diperlukan untuk membangun budaya literasi.

Untuk membangun budaya literasi diperlukan beberapa langkah kongkrit yaitu; menumbuhkan kesadaran pentingnya membaca, membudayakan membaca di sekolah, mengoptimalkan peran perpustakaan, membentuk komunitas baca.

Untuk menggairahkan program literasi ini tentu diperlukan kerjasama semua elemen. baik itu pemerintah, dinas terkait, sekolah, guru maupun masyarakat.Selain itu, gerakan literasi ini harus dimulai dari keluarga, sekolah sampai lingkup yang lebih besar. Semoga generasi muda kita yang terdiri dari siswa maupun mahasiswa benar- benar mampu berliterasi di tengah arus modernisasi saat ini.

Upaya pemerintah dalam meminimalisir rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yakni dengan mengeluarkan suatu kebijakan seperti yang tertuang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, menggunakan 15 menit waktu sebelum pembelajaran dimulai untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Hal tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang menjadi salah satu langkah pemerintah dalam menanamkan serta menumbuhkan minat baca. GLS selain bertujuan untuk membangun karakter peserta didik juga bertujuan untuk menjadikan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajar sepanjang hayat dengan membudayakan membaca dan menulis (literasi). Kebijakan mengenai GLS telah banyak diimplementasikan di dunia pendidikan kita saat ini.

Tanpa melakukan upaya perbaikan terhadap tingkat pendidikan baik di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK harus lebih serius lagi. Dan tingkat literasi akan sangat sulit bagi Indonesia untuk dapat menurunkan angka kemiskinan dan menurunkan tingkat kesenjangan.Oleh karena itu kunci dalam meningkatkan produktivitas bangsa dan menurunkan angka kemiskinan serta menurunkan tingkat kesenjangan terletak pada keberhasilan kita dalam meningkatkan literasi itu sendiri.

Oleh: Risma Ayunita Pratiwi.
Editor. Melly
Tatafoto. Ahmad, RE.
Palembang, 4 November 2021.
Mahasiswi Universitas Islam Negeri, Raden Fatah Palembang, Fakultas Adab dan Humaniora, Jurusan Ilmu Perpustakaan.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment