Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

9/23/2020

Surat Ulu Projec: Makna Cinta dan Perjuangan

Apero Fublic.- Palembang. Aksara Ulu adalah budaya tulis pedalaman di Sumatera Selatan pada masa lalu. Sesungguhnya jenis aksara tradisional semacaman aksara ulu juga terdapat dibeberapa kawasan di Pulau Sumatera. Seperti aksara rejang, kerinci, batak dan lainnya. Khusus di Sumatera Selatan disebut dengan Aksara Ulu atau sering juga disebut aksara Kaganga.

Budaya tulis menggunakan aksara ulu di pedalaman Sumatera Selatan zaman dahulu menggunakan media tulis dari bambu (bila-bila atau ruas bambu), jenis tanduk, jenis kulit pohon (kaghas atau karas). Kaghas atau karas sejenis pohon yang sering diambil gaharunya. Kulit pohon dapat dijadikan media tulis dengan goresan benda tajam.

Kulit kaghas atau karas juga sering digunakan penduduk untuk ikatan, untuk tali keranjang (abuk), dan dinding pondok. Kaghas bahasa uluan meliputi kawasan anak Sungai Musi (Ogan, Komering) diantaranya daerah Basema dan sekitarnya. Sedangkan kata karas meliputi kawasan sepanjang Sungai Musi. Peninggalan tulisan aksara ulu dinamakan, prasasti, surat ulu dan ada juga diistilahkan naskah ulu.

Kembali menggali kebudayaan Sumatera Selatan tersebut. Pada Rabu, 21 September 2020, pukul 16.00 WIB. Komunitas Pecinta Aksara Ulu Sumatera Selatan ikut menghadiri kegiatan diskusi santai live streaming, dari Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Selatan tentang Pelestarian Adat Istiadat Dalam Mempertimbangkan Pengembalian Sistem Adat Marga, yang berlokasi di Bukit Siguntang Palembang.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh ketua Pembina adat Sumatera Selatan, Staf Khusus Gubernur Sumatera Selatan bidang Kebudayaan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Serta Bapak Ahmad Rapanie Igama selaku Pembina Komunitas Pecinta Aksara Ulu.

Di Sela-sela kegiatan tersebut, komunitas Pecinta Aksara Ulu yang berdiri sejak tahun 2018 lalu. Didirikan oleh Nuzulur Romadhona, Vixkri Mubaroq dan Kawan-kawan. Menyempatkan mempromosikan kaos aksara ulu sebagai produk dari, "Surat Ulu Project."

Merupakan bagian dari agenda komunitas Pecinta Aksara Ulu. Dalam mengenalkan aksara ulu pada masyarakat luas. Komunitas yang diketuai oleh Nuzulur Romadhona, S.Hum, wakil ketua Vixkri Mubaroq, S.Hum tersebut. Menggabungkan kreatifitas dan bisnis dengan media aksara ulu.

Dalam kegiatan tersebut, Pak Hidayat Comsu sebagai staf Gubernur dan Pak Aufa sebagai Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya kegiatan ekonomi kreatif dari komunitas Pecinta Aksara Ulu, sebagai pelaestarian budaya tulis asli Sumatera Selatan.

Begitu juga Pak Ahmad Rapani Igama selaku Pembina komunitas pecinta Aksara Ulu Sumatera Selatan. Beliau optimis bahwa aksara ulu bukan hanya ilmu pengetahuan kebudayaan. Tapi juga mampu menumbuhkan ekonomi kreatif di tengah masyarakat, khusus masyarakat Sumatera Selatan.

Karena produk surat ulu project tidak hanya kaos, tapi juga gantungan kunci, perhiasan dinding, name tag, dan lain sebagainya. Kedepannya akan dikembangkan, Seperti papan nama individu, pernikahan, Perusahaan, instansi, kartu ucapan dan lainnya.

Untuk para rekan-rekan semua. Dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi, pebisnis dan pedagang yang ingin berkontribusi dalam pelestarian aksara ulu. Dapat ikut mendukung dengan berbisnis menjadi reseler, berjualan di toko-toko atau menjadi agen dari Surat Ulu Projec. Apabila tertarik dapat menghubungi pengurus komunitas Pecinta Aksara Ulu Sumatera Selatan.

By. Pecinta Aksara Ulu.
Vixkri Mubaroq & Nuzulur Romadhona.
Editor. Selita, S.Pd.
Palembang, 23 September 2020.

Sy. Apero Fublic.

9/21/2020

Kontrak Politik: Raja Alim Raja Disembah-Raja Lalim Raja Disanggah.

Apero Fublic.- Palembang. Perjalanan Bangsa Melayu (Indonesia) sudah berlangsung ribuan tahun lalu. Telah bermunculan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dalam perjanan politik bangsa Melayu ada kontrak politik antara rakyat dan penguasa. Rakyat dan penguasa harus mematuhi kontrak politik tersebut. Kalau tidak mematuhinya, maka bencana dan malapetaka akan datang. Hukuman Tuhan akan datang untuk menghukum rakyat atau sang penguasa.

Kontrak politik bermulah pada masa lampau di negeri Melayu, Palembang. Palembang adalah peradaban awal dari Bangsa Indonesia. Di mulai dari Kedatuan Sriwijaya, adalah negara tradisional pertama Indonesia yang menyatukan Nusantara. Meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Papua, Kalimantan, Sulawesi dan Semenajung Malaysia, juga sekitarnya.

Kontrak politik pertama orang Indonesia bermulah dari kronik Demang Lebar Daun di Palembang. Perjanjian antara rakyat dan pemimpin, dilaksanakan. Sumpah setia disepakati, dan Tuhan menjadi saksi sekaligus hakim. Hukuman akan menimpa kedua belah pihak apabila melanggar sumpah setia tersebut. Yaitu, kontrak politik antara Demang Lebar Daun dengan menantunya Sang Sapurba.

Sumpa setia antara rakyat dan penguasa diikrarkan, setelah Demang Lebar Daun raja Palembang menyerahkan tahtanya pada menantunya Sang Sapurba, putra Iskandar Zulkarnain. Permintaan Demang Lebar Daun adalah; kalau anak-cucunya (rakyat) berbuat salah, hukumlah.

Kalau perlu dihukum mati sesuai salahnya. Tapi syaratnya jangan dipermalukan, yang bermakna jangan berbuat melampaui batas. Demang Lebar Daun dalam sumpah setia itu, memposisikan diri sebagai wakil rakyat.

Sedangkan Sang Sapurba meminta rakyat agar tidak menjadi rakyat yang durhaka pada rajanya. Tidak Durhaka dalam makna disini adalah menjadi rakyat yang baik, patuh dan setia pada negara dan pemerintah. Syarat Sang Sapurba diterima Demang Lebar Daun selaku wakil rakyat.

Waktu berlalu, kontrak politik berjalan dalam diam dan senyap. Bahkan para pemimpin dan rakyat sendiri sudah banyak yang lupa dan tidak tahu dengan kontrak politik ini. Kemudian terjadilah pelanggaran dari kontrak politik tersebut.
******
Pelanggaran Kontrak Politik.
Berawal dari kisah Wan Anom istri Megat Sri Rama. Dia sedang mengandung anak pertamanya. Megat Sri Rama adalah seorang Laksamana yang bertugas meronda perairan Riau. Saat sedang duduk di depan rumah. Lewatlah Penghulu Bendahari membawa talam berisi buah nangkah untuk dihidangkan pada Sultan Mahmud Syah II. Sultan saat itu sedang diperistirahatan dikawan hulubalang Sri Bija Wangsa.

Wan Anom yang sedang hamil, sangat ingin makan buah nangkah masak itu. Kemudian dia beranikan diri meminta sebiji buah nangka pada Penghulu Bendahari. Karena kasihan maka penghulu memberikan buah nangka. Betapa girangnya Wan Anom dan dimakannya dengan lahap.

Penghulu Bendahari berlalu dan masuk ke kamar Sultan. Sultan bertanya mengapa sudah ada biji diambil, tidak rata lagi pada potongannya. Penghulu Bendahari menceritakan dengan jujur. Dia tidak sampai hati pada Wan Anom yang sedang mengidam. Karena itu adalah kehendak bayi di dalam kandungan Wan Anom.

Mendengar itu, Sultan Muhmud Syah murka. Hulubalang Sri Bija Wangsa ternyata seorang penjilat dan pencari muka, dia berkata menghasut. “Pendurhaka, memberi makan Sultan makanan sisa.” Ujar Sri Bija Wangsa memanasi Sultan dan menjilat.

Bukan tanpa alasan, Sri Bija Wangsa memang sudah lama iri hati dengan Megart Sri Rama suami Wan Anom. Sultan yang dihasut dan dipanasi oleh hulubalang iri karena Megat Sri Rama yang dipercaya Sultan menjadi laksamana.

Sudah menjadi kebiasaan zaman feodal, kehormatan di simbolkan dari materi dan objek. Sultan feodal ini merasa dirinya dirinya diberi makanan sisa. Hal tersebut berkaitan dengan kehormatan dan derajad dirinya yang seorang Sultan. Mana mungkin seorang Sultan memakan sisa makanan rakyat jelata.

Sultan bersifat feodal tersebut meminta Penghulu Bendahari memanggil Wan Anom. Karena lepas kendali Sultan memerintahkan agar membelah perut Wan Anom dibelah. Dia ingin tahu apakah benar bayinya yang menginginkan makan sebiji buah nangkah tersebut. Oleh karena itu, Wan Anom dan jabang bayi mati.

Hukuman Dari Pelanggar Kontrak Politik.
Saat Megat Sri Rama pulang dari dinas yang membawa rindu pada istrinya. Dia mendapati cerita menyedihkan yang terjadi pada istrinya. Hanya gara-gara seulas buah nangka sultan tega membunuh istrinya Wan Anom dengan keji. Laksamana Megat Sri Rama bertekad menuntut balas.

Megat mengumpulkan anak buahnya, lalu melakukan konspirasi politik yang berbau kudeta. Laksamana Megat Sri Rama menemui Tun Abdul Jalil Bendahara Sultan. Megat Sri Rama bercerita dan akan menghukum raja zalim atau penguasa pendurhaka. Apabila Sultan Mahmud Syah II tewas maka Tun Abdul Jalil yang akan menjadi raja.

Laksamana Megat Sri Rama disuatu kesempatan menghadang iring-iringan Sultan. Dengan dendam membara dia menyerang sultan. Sultan tewas ditikam oleh Megat Sri Rama. Sultan Mahmud Syah II tewas terkena tikaman kerisnya. Setelah mati Sultan digelari (posthumous), “Mangkat di julang (tandu).

Hal-Hal dan Pertimbangan.
Zaman kita sekarang sudah tidak terhitung lagi pelanggaran kontrak politik oleh penguasa. Bahkan lebih dari mengerikan, tapi sudah mulai tidak manusiawi. Kemanusiaan bukan hanya dinilai dari nyawa manusia saja. Tapi prilaku berbuat sewenang-wenang, serakah, buruk dengan kebijakan dan upaya individualistis juga tidak bermoral.

Dengan demikian, apabila rakyat mulai tidak patuh, tidak menghormati, dan mulai melawan pemerintah. Sebaiknya pemerintah mulai mengevaluasi diri. Bukan hanya pemimpin poros seperti Bupati, Gubernur, Presiden, tapi juga para pemimpin lainnya. Apabila gejolak dan tikaman mulai muncul. Tidak mustahil telah terjadi kebiadaban yang mengerikan dibangsa ini.

Pepatah Melayu, “Raja Alim raja disembah, Raja lalim raja disanggah.” Sebuah kearipan lokal yang sangat perlu diperhitungkan oleh pemimpin. Bukan hanya itu, sifat neofeodalisme hendaknya dihilangkan. Agar tidak hanya mementingkan simbol kehormatan melalui materi dan bentuk objek.

Tetapi mulai dari nilai-nilai luhur sebagai seorang pemimpin yang sebenarnya. Hukum dan keadilan yang perlu ditegakkan. Bukan pencitraan dan bagaimana menggelapkan anggaran-anggaran. Atau mengutamakan jatah-jatah dari proyek-proyek. Dari Sabang sampai Merauke adalah rentang makna pepatah tersebut. Maka sebaiknya dipikirkan oleh kita semua. Sebelum hukum pelanggaran kontrak politik datang.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 22 September 2020.


Sy. Apero Fublic.

9/20/2020

UKM: Pengusaha Kerupuk Dalam Hantaman Pandemi Corona

Apero Fublic.- Musi Banyuasin. Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah ujung tombak perekonomian Indonesia. UKM menjadi penggerak garda terdepan perekonomian Indonesia. Kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia sangat tertunjang oleh UKM secara nasional.

Namun, pada masa pandemi virus corona, keberlangsungan UKM kritis dan tersendat. Akibat berbagai kebijakan pemerintah dalam mengendalikan penyebaran dan penularan virus corona.

Seperti pengrajin Kerupuk Jangek, Ibu Sumira binti Hayat Rebi (Alm). Tinggal di Jalan Praja Mukti, Sekayu, lokasi di depan TK Negeri Pembina. Dia menggeluti usaha Kerupuk Jangek sejak tahun 2010 yang lalu. Ibu Sumira adalah seorang wanita yang kuat dan tegar. Sebagai seorang wanita dia mampu mandiri secara usaha, tekun dan sabar.

Namun akhir-akhir ini, usaha yang digelutinya tidak berjalan begitu baik. Sejak dilanda bencana virus corona. Membuat omset penjualan dan orderan konsumen berkurang drastis. Ada rasa prihatin dan sedih yang menggugah jiwanya.

Karena usaha kecilnya yang menjadi harapan pemasukannya terganggu. Kadang Dia juga berkeinginan mengembangkan usahanya. Namun sudah menjadi hal yang biasa bagi pengusaha, yaitu terkendala modal. Kemudian sistem pengetahuan pasar dan manajemen juga perlu diberikan.

Apabila kita amati, usaha Ibu Sumira sangat perlu diberikan bantuan. Pada masa pandemi virus corona ini. Tentu akan sangat membantu sekali untuk ketahanan dan pengembangan usahanya. Pada pihak pemerintah agar dapat memberikan perhatian pada usaha Kerupuk Jangek ibu Sumira.

Ibu Sumira atau yang sering dipanggil Kopek Ira. Telah memiliki dua orang anak yang masih duduk dibangku sekolah, Fery dan Putri. Tetap tegar dan kuat dalam menjalankan usahanya. Semoga badai virus corona cepat berlalu. Sehingga pelaku Usaha Kecil dan Menengah dapat bernafas lega.

Oleh. Padli, S.Pd.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Sekayu, 20 September 2020.

Sy. Apero Fublic.