11/01/2020

Mengenal Pahlawan Nasional: CUT NYAK DIN

Apero Fublic.- Cut Nyak Din adalah menjadi Pahlawan nasional Indonesia. Dia salah satu wanita terbaik Bangsa Indonesia. Lahir di Kampung Lampadang masuk dalam administrasi Mukim IV, terletak di pantai utara bagian barat Aceh Besar. Tidak jauh dari Pelabuhan Uleele. Selain itu, diantara Tanjung Pantai terdapat sebuah danau yang tenang yang dapat dilabuhi kapal dan perahu.

Di bagian timur wilayah tersebut terdapat Kampung Bitae dan Lamjamu serta berbatasan dengan Meuraksa. Sebelah selatan dan barat daerah tersebut dipagari oleh Pegunungan Ngalau Ngarai Beradin.

Di dekat pantai terdapat Kampung Lamtengah, tanah kelahiran penyair Aceh Dulkarim atau Abdul Karim. Di kampung Lampagar terdapat makam Sultan Sulaiman dan Lamtah yang dihancurkan oleh Belanda saat menyerang daerah itu pada tahun 1875 Masehi.

 Cut Nyak Din lahir sekitar tahun 1850 Masehi. Ayah beliau bernama Nanta Muda Seutia seorang Uleebalang wilayah Mukim IV. Nanta Muda Seutia masih ada keturunan dari Makhdum Sati seorang perantau dari Melayu Minangkabau ke Melayu Aceh. Ibunya keturunan Bangsawan terpandang dari Kampung Lampagar. Perantauan tersebut karena pada abad ke-17 kekuasaan Kesultanan Aceh sudah sampai di sebagian wilayah Sumatera Barat.

Cut Nyak Din lahir pada masa perang saudara antara masyarakyat Mukim IV dan masyarakat Meuraksa. Sampai Cut Nyak Din dewasa pertikaian dua saudara antara Mukim IV dan Meuraksa masih terus terjadi. Permasalahan kedua kawasan itu bermula saat sahabat ayah Cut Nyak Din, Haji Said tewas ditikam oleh seorang pemuda kurang waras dari Meuraksa. Sehingga pecah perang yang berkelanjutan.

Cut Nyak Dien tumbuh menjadi gadis yang cantik wajahnya dan akhlaknya. Mendapat didikan yang baik ditengah keluarga bangsawan. Serta menguasai ilmu-ilmu agama Islam, terutama dapat membaca Al-Quran dan menulis dengan aksara Arab. Karena itu, Cut Nyak Dien menjadi gadis yang paling disenangi oleh pemuda-pemuda.

Oleh karena itu, banyak datang lamaran untuk Cut Nyak Din. Dari sekian banyak lamaran, yang diterima oleh ayah Cut Nyak Din adalah lamaran dari Teuku Cik Ibrahim Lamnga. Anak dari Teuku Abbas dari Ujung Aron. Teuku Abbas adalah seorang Uleebalang  yang gagah menguasai daerah Pantai Utara. Menerima kedudukan langsung dari Sultan Aceh. Teuku Abbas juga sekutu dari Ayah Cut Nyak Din saat menghadapi Meuraksa. Karena Cut Nyak Din belum cukup umur maka keduanya kawin gantung terlebih dahulu. Pada umur 12 tahun Cut Nyak Din dinikahkan dengan Teuku Cik Ibrahim Lamnga.

Masa berikutnya perang Aceh meletus pada tahun 1873. Serang Belanda telah merebut istanah Kesultanan Aceh. Membuat bangkit seluruh rakyat Melayu Aceh bersatu pada melawan kekuatan Penjajah Belanda. Para komado selain para ulama, juga para Uleebalang termasuk ayah Cut Nyak Din. Teuku Ibrahim suami Cut Nyak Din memimpin perang melawan Belanda di garis depan (jihad fisabilillah).

Karena wilayah Mukim IV adalah salah satu basis pendukung Kesultanan. Maka Belanda sangat ingin menguasai dan menundukkan wilayah Mukim IV. Oleh karena itu, pada 28 Desember 1875 Teuku Cik Ibrahim memerintahkan Cut Nyak Din dan masyarakatnya mengungsi. Di kawal oleh 70 orang pasukan sekaligus pembawa bekal mereka menuju Mukim VI. Teuku Cik Ibrahim terus menghadapi serangan Belanda.

Selama perang tersebut pasukan Belanda memusnakan kampung-kampung dengan membakar dan membantai rakyat tidak berdosa seperti, ibu-ibu, anak-anak dan orang tua. Kemudian memperkosa apabila menemukan wanita-wanita. Lalu mereka berfoto diantara tumpukan mayat dengan tersenyum bangga.

Mukim IV yang sebelumnya telah dikuasai Belanda. Kemudian diserang kembali oleh pasukan Aceh dipimpin oleh Habib Abdurrahman. Untuk mencegah antisipasi serangan balasan Belanda. Teuku Cik Ibrahim bersama 200 orang pasukan terlatih menjaga jalan masuk di Ngalau Ngarai Beradin.

Walau mendapatkan korban yang sangat banyak, tetapi pasukan Belanda terus maju. Senapan mesin mereka terus menembaki dan membuat pasukan Teuku Cik Ibrahim mundur ke perbukitan.

Sementara itu, Mukim IV kembali direbut Belanda dan Habib Abdurrahman berhasil meloloskan diri. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, keadaan pasukan tidak terorganisasi. Sehingga berusaha mengabungkan diri kembali ke Habib Abdurrahman. Dalam perjalanan naik turun gunung dan kelaparan membuat Teuku Cik Ibrahim dan pasukannya tertidur pulas disebuah hutan.

Tanpa diketahui sepasukan Belanda telah mengikuti jejak mereka dan mengepung posisi mereka. Keadaan kacau balau dan akhirnya Teuku Cik Ibrahim Lamnga tertembak bersama adiknya Teuku Ajat. Karena ingin menyelamatkan adiknya membuat dia tertembak di kepala.

*****

Kabar duka sampai ke Cut Nyak Din. Membuat rasa sedih dan tangisan pilu. Anaknya masih kecil sedangkan ayahnya Nanta Muda Seutia Raja semakin tua. Kemana dia hendak bergantung dan kemana arah masa depan. Kondisi waktu dalam suasana perang dan ekonomi sulit. Waktu berlalu, Cut Nyak Din mulai menjalani kehidupan dengan tabah. Duka pun mulai terkikis waktu.

Teuku Umar datang berkunjung ke Muntasik tempat kediaman Cut Nyak Din dan keluarganya. Mendatangi keluarga dan sekaligus mencari tahu dan menimbah ilmu pada Nanta Muda Seutia pengalaman perjuangan. Teuku Umar kemudian melamar Cut Nyak Din, dan direstui oleh ayah Cut Nyak Din.

Penjajah Belanda mendengar berita pernikahan Cut Nyak Din dan Teuku Umar. Uleebalang Mukim IV yang memihak Belanda menjadi takut dan khawatir. Teuku Umar hanyalah pemuda biasa yang suka berpetualang.

Pertama dia menikah dengan Nyak Sopiah anak Uleebalang Geulumpang. Kemudian menikah lagi dengan Nyak Mahligai anak Panglima Sagi Mukim XXV. Setelah menikah dengan Cut Nyak Din Teuku Umar semakin terkenal.

Belanda membangun jalan dari Kotaraja ke Mukim IV. Rakyat diwajibkan bekerja pada pemerintah. Di Mukim IV Belanda mengangkat Teuku Nek. Ekonomi juga berjalan dengan baik membuat kehidupan ekonomi meningkat. Namun, rakyat risau karena Belanda mengangkat Teuku Nek yang tidak disenangi rakyat. Yang hidup seenaknya dan bertabiat buruk.

Pada 1884 Sultan Muhammad Daud Syah telah dewasa. Dalam bimbingan Tuanku Hasyim Banta Muda dan Teuku Cik Ditiro. Lalu aktif menjalankan tugas sebagai Sultan Aceh di Keumala. Kemudian memerintahkan rakyat Aceh untuk kembali melawan Penjajah Kolonial Belanda.

Waktu berikutnya dari perjuangan Teuku Umar membuat daerah Mukim IV kembali dikuasai. Untuk mengelabui Belanda rakyat mengangkat Cut Rayut adik Cut Nyak Din sebagai Uleebalang Mukim IV. Cut Nyak Din kembali membangun kehidupan rumah tangga di Lampisang.

Teuku Umar melakukan manuver cerdas, dimana dia berpura-pura bergabung dipihak Belanda. Teuku Umar melakukan perang-perangan dengan pasukan pejuang dimana dia ditugaskan belanda untuk menumpasnya. Sebelum menyerang Teuku Umar memberikan arahan pada pihak yang akan dia serang, menembak ke atas dan berlari.

Pada akhir sandiwaranya 29 Maret 1986 Teuku Umar membawa pergi 800 pucuk senjata, 2000 butir peluru, 500 kilogram amunisi, 500 kilogram timah, serta uang 18.000 dollar dari Belanda. Kemudian dia memusatkan kekuatannya di Barat Laut Aceh Raya. Untuk menghadapi pemberontakan Teuku Umar.

Gubernur Militer Belanda di Aceh mengirim surat ke Batavia meminta bantuan. Maka dikirim JA. Veter Panglima Angkatan Darat Hindia Belanda. Pada tanggal 23 Mei 1896 pasukan Belanda di pimpin Van Heutsz dan Van Daalen menyerang daerah Mukim IV dari empat jurusan.

Dalam serangan itu, pejuang aceh bertahan dengan mati-matian. Kekalahan teknologi senjata membuat pasukan Aceh mundur. Teuku Umar dan Cut Nyak Din mengungsi dan hidup berpindah-pindah tempat.

Dalam keadaan hidup susah dan kepayahan Teuku Umar meminta Cut Nyak Din untuk tinggal disuatu tempat yang tidak diketahui musuh. Namun apa kata Cut Nyak Din dengan berapi-api sambil mengangkat rencong. Rencong senjata tradisional Aceh.

“Hanya ujung peluru kafir yang dapat menghambat aku. Jangan dirisaukan aku. Aku tidak bersediah berpisah dengan kau. Aku relah menderita melanjutkan perjuangan yang suci ini. Saya terima semua ini. Oleh sebab itu harapan saya, teruskanlah perjuangan ini. Saya tetap setia mendampingimu.” Mendengar itu, Teuku Umar tidak dapat berkata lagi menjawab perkataan istrinya yang berhati singa.

Pada tanggal 25 Juli 1989 Teuku Umar diangkat menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Aceh. Di daerah Kade Malu serta surat keputusan dengan Cap Sembilan. Acara pelantikan Teuku Umar menjadi Panglima Perang Aceh disaksikan oleh para ulama, para uleebalang. Teuku Umar bertanggung jawab langsung pada Kesultanan, Bangsa dan Agama Islam.

Teuku Umar gugur dalam usahanya menyerang kota Meulaboh. Penghianat didalam pasukanya memberi informasi pada Van Heutsz. Sehingga sebelum mencapai Kota Meulaboh tepat di Ujung Kala. Pasukan Teuku Umar yang berjumlah 800 orang dicegat pasukan Belanda.

Teuku umar gugur terkena tembakan gencar senjata otomatis pasukan Belanda. Teuku Umar dimakamkan di Desa Mugo. Belanda berusaha mencari jasad Teuku Umar namun tidak menemukannya. Konon untuk menjaga keamanan jasad teuku Umar jenazah dipindahkan ke Beutung Atas.

****

Gugurnya Teuku Umar membuat Cut Nyak Din berduka kedua kalinya. Walau bersedih tapi dia Cut Nyak Din tidak patah. Justru semakin kuat dan tegak berdiri. Maka dia kemudian mengambil tongkat komando perjuangan. Di hadapan pasukannya dia berjanji tidak akan menyerah dan akan terus berjuang sampai dia mati.

Perjuangan terus berlanjut Cut Nyak Din kemudian menjadi buruan Belanda. Pasukan khusus Marsose Belanda dimana-mana mengejar. Cut Nyak Din membentuk pasukan gerak cepat dengan taktik selalu berpindah-pindah. Sehingga pasukan Belanda selalu gagal menemukan Cut Nyak Din.

Sementara itu, di daerah lain di Aceh perperangan terus dikobarkan oleh Sultan Muhammad Daud Syah, Panglima Polim, Tuanku Raja Keumala, dan para uleebalang-ulebalang lainnya. Belanda dengan Orientalis andalan mereka Snouck Hurgronje dan Van Heuhsz berbuat tidak satria. Mereka kalah taktik dan kehabisan moral dan akal sehatnya. Snouck Hurgronje meminta Van Heuhsz menawan keluarga dan anak istri pejuang Aceh.

Kalau mereka tidak menyerah maka keluarga, anak dan istri mereka yang dihukum. Maka banyak pejuang yang menyerahkan diri untuk menebus keluarga mereka. Belanda menemukan persembunyian istri sultan di Peute Raja daerah Peusangan.

Kemudian menangkap istri sultan Cut Meurong dan putranya, Tuanku Raja Ibrahim. Setelah berhasil menangkap anak istri sultan, Belanda mengancam dalam waktu tiga bulan apabila sultan tidak menyerah. Maka anak dan istrinya yang akan dibuang.

Sultan dengan pertimbangannya akhirnya menyerahkan diri untuk membebaskan anak istrinya pada 15 Januari 1903. Kemudian diikuti oleh Panglima Polim, Tuanku Raja Keumala, para uleebalang dan pejuang lainnya. Belanda berharap perlawanan rakyat Aceh berhenti dengan menyerahnya Sultan. Namun perkiraan Belanda meleset, perlawanan rakyat Aceh terus berlangsung.

Sementara itu, Cut Nyak Din masih tetap berjuang bergerilya. Dia terus menyemangati pasukan dan rakyat Aceh. Bagaimanapun orang kafir Belanda harus angkat kaki dari Aceh, katanya. Bertahun-tahun Cut Nyak Din hidup mengembara bersama pasukannya. Pakaiannya compang-camping dan kadang ditandu atau digendong oleh pasukannya.

Siang hari mereka tidak menyalahkan api. Pondok darurat yang dapat dibuat dan dibongkar dalam waktu cepat. Jejak yang dikamuplase dan penjagaan disekitar yang ketat dan bergiliran. Perjuangan terus tanpa henti dan membimbing pasukannnya. Sekarang sudah enam tahun Cut Nyak Din bergerilya di hutan. Melintasi kaki Bukit Barisan bersama pasukannya.

Seorang pasukan Cut Nyak Din yang menyayanginya, Pang Laut. Dia merasa kasihan dan sangat prihatin dengan keadaan Cut Nyak Din. Penderitaan dalam pengembaraan dan ditambah penyakit tua yaitu rabun dan lemah.

Untuk menyelamatkan pemimpin yang dia sayangi itu. Pang Laut melakukan kontak dengan pos Belanda terdekat. Kemudian dia mengirim utusan pada Kapten Veltman komandan pasukan penjajah Belanda di Meulaboh.

Pang Laut akan menunjukkan persembunyian Cut Nyak Din. Tapi dengan syarat keselamatan Cut Nyak Din dijamin. Belanda harus memperlakukannya sebagaimana wanita terhormat seperti dirinya.

Kapten Veltman menugaskan Letnan Van Vuuren dan pasukan bersenjata lengkap. Misi rahasia tidak boleh bocor dan Letnan Van Vuuren berhasil mengepung gubuk Cut Nyak Din. Saat Cut Nyak Din terjatuh dia berkata dan membuat Letnan Van Vuuren bergetar. “jangan sentuh tubuh saya, Kafir.”

Cut Nyak Din dirawat dan disediakan rumah khusus. Penyakit rabun beransur-ansur sembuh. Terdengar kabar kalau Cut Nyak Din masih hidup. Maka tokoh, rakyat berdatangan mengunjungi Cut Nyak Din. Dengan banyaknya rakyat Aceh yang mengalir mengunjungi Cut Nyak Din membuat Penjajah Belanda khawatir sekali. Takut kalau Cut Nyak Din mengobarkan perang kembali yang sudah mulai padam.

Van Daalen Gubernur Militer Aceh dan Letnan Van Vuuren berbeda pendapat. Van Daalen khawatir dan menghindari resiko perang kembali. Van Vuuren menilai kalau Cut Nyak Din sudah tua dan biarlah tetap hidup ditengah rakyat Aceh.

Letnan Van Vuuren juga ingat janji dengan Pang Laut agar memperlakukan Cut Nyak Din dengan baik. Namun atasan lebih berkuasa dan Cut Nyak Din dan pengikutnya diangkut ke Batavia. Kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.

Di pengasingan Cut Nyak Din diperlakukan secara terhormat. Namun diperhina secara kebangsaan dan perjuangan. Jiwa terkurung dan hidup terpisah dari saudara dan rakyat. Umur semakin tua, Cut Nyak Din sang Srikandi Bangsa Indonesia akhirnya menghadap kehadirat Allah SWT. Pada 6 November 1908 dia tutup usia.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 1 November 2020.
Sumber: Muchtaruddin Ibrahim. Cut Nyak Din. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996. Sumber foto: Pinterest. Foto pasukan penjajah Belanda diatas tumpukan jasad pejuang Aceh.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment