9/11/2019

Manipulasi Isu dan Paradigma Swasembada Beras Zaman Orde Baru


Apero Fublic.- Banyak orang berkata kalau pada masa Pemerintahan Otoriter Orde Baru Indonesia pernah mencapai swasembada beras. Sehingga Indonesia dianggap sangat makmur. Pemerintahan Orde Baru dianggap berhasil membangun ekonomi negara. Kesalahan persepsi dari orang asing, dan kesalahan anggapan dari orang Indonesia sendiri.

Orang-orang tersebut tidak memiliki pengetahuan tentang negara Indonesia secara mendalam. Mereka orang-orang asing membaca dari luar, dan melihat kulit yang diperlihatkan Orde Baru. Sedangkan orang Indonesia masa itu dilingkupi kebutaan dan tidak mengenal bangsa sendiri. Banyaknya beras atau gabah kering hasil petani di Pulau Jawa di anggap bentuk keberhasilan Pemerintahan Otoriter Orde Baru dalam membangun ekonomi.

Pada kenyataanya semua itu adalah berupa omong kosong mereka semua. Orang-orang yang tidak berpengetahuan berbicara tanpa mengerti apa-apa. Mereka berpikir pendek melihat gudang bulog yang penuh oleh beras yang tidak laku di tengah masyarakat Indonesia.

Dunia juga yang tertipu dengan keadaan tersebut, ketika sumbangan beras di PBB untuk Afrika. Sehingga Soeharto mendapat kesempatan berpidato pada peringatan FAO (Food and Agriculture Organization, di Italia 14 November 1985. Berikut ini, tiga faktor yang menyebabkan paradigma swasembada beras muncul dari orang-orang tidak bijak.

Faktor Populasi Penduduk.
Penduduk Indonesia pada masa Orde Baru belum sebanyak sekarang (2019). Di tahun 1985 jumlah penduduk Indonesia berjumlah 165 juta jiwa. Dari total jumlah penduduk diperkirakan 50% ada di pulau Jawa, Bali, dan Madura. Sehingga penduduk di luar Pulau Jawa sangat jarang, terutama di Papua dan Kalimantan.

Jumlah penduduk yang sedikit tentu juga menyebabkan kebutuhan ekonomi juga sedikit. Hutan-hutan yang luas dan penduduk masih jarang. Alam yang kaya raya memberi makan manusia Indonesia di pedalaman. Mobilitas kehidupan juga tidak seperti zaman diatas tahun 2000.

Faktor Produksi Masyarakat Petani.
Pada masa itu, dibawah tahun 1995, masyarakat petani di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Pulau Papua dan pulau-pulau lainnya masih memiliki cukup lahan untuk bertani. Mereka menanam padi ladang, hasl panen biasanya cukup satu tahun dalam satu kali panen. Menanam umbi-umbian, singkong, keladi, ubi jalar dan lainnya. Di daerah Maluku dan Papua masyarakat mengkonsumsi sagu yang banyak tumbuh subur di sana.

Ada juga kelompok masyarakat yang mengkonsumsi ubi. Selain itu, lingkungan sungai, alam masih terjaga sehingga masyarakat dapat menangkap hewan buruan dan menangkap ikan yang berlimpah di laut, sungai dan danau. Kehidupan penduduk masih semi tradisional. Masyarakat juga masih memiliki banyak hewan peliharaan, seperti ayam, sapi, kambing, kerbau, sehingga penduduk memiliki cukup dalam memenuhi kebutuhan daging.

Aku masih ingat sewaktu aku masih umur lima tahunnan. Dimana kehidupan di desaku, penduduk berladang, menanam padi dan sayur mayur. Kemudian hampir setiap keluarga besar memiliki ternak sapi, kambing atau kerbau. Membuat gula dari tebu dan gula aren. Kopi memproduksi sendiri dari kebun-kebun di belakang rumah mereka.

Membuat minyak sayur dengan kelapa, dan sebaginya. Selain itu ada juga masyarakat di luar Pulau Jawa yang bersawa. Sehingga masyarakat di luar Pulau Jawa tidak bergantung dengan beras dari Pulau Jawa. Maka Orde Baru bilang kalau Indonesia swasembada beras. Bentuk keberhasilan pemerintah dalam bidang perekonomian. Padahal itu adalah kelebihan produksi di Pulau Jawa sendiri.

Kemudian seiring waktu, keadaan sosial masyarakat berubah. Ketika tanah-tanah warga berganti dengan kebun karet, kebun sawit atau sebagainya. Masyarakat tidak lagi memproduksi kebutuhan pokok mereka. Maka masyarakat menggantungkan pada hasil luar daerah, atau pembelian di tokoh atau pasar. Begitupun saat lahan penggembalaan ternak berkurang akibat perkebunan masyarakat. Menjadikan penduduk tidak lagi mau memelihara ternak sapi, kerbau dan kambing mereka.

Sering mereka mendapat masalah saat ternak-ternak tersebut masuk ke dalam kebun warga. Ayam kampung yang biasanya mudah berkembang. Namun kemudian secara masal diserang oleh sejenis penyakit, di kenal dengan flu burung. Saya berharap pemerintah menyelidiki tentang virus tersebut. Karena dikhawatirkan ada oknum yang bermain dalam menyebarkan penyakit tersebut.

Maka sejak virus itu menyerang di Indonesia ternak ayam kampung warga habis karena mati mendadak secara masal. Sehingga sekarang kebutuhan daging ayam di suplai dengan ayam ternak pedaging. Pada sektor perikanan di atas tahun 2000 terjadinya peracunan sungai, danau, sehingga ikan air tawar berkurang.

Faktor Sosial Ekonomi.
Sebagaimana diketahui makanan pokok orang Indonesia berbeda-beda. Terutama di Indonesia wilayah timur. Banyak penduduk Indonesia di berbagai wilayah belum menggantungkan makanan pokok pada beras. Seperti di Maluku, Papua, Madura, Sulawesi.

Penduduk-penduduk tersebut masih mengkonsumsi makanan pokok seperti jagung, ubi, sagu, dan jenis umbian lainnya. Memang sudah ada beberapa bagian yang mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok mereka. Sehingga ketergantungan dengan beras belum begitu tinggi. Sedangkan sentra beras dibangun secara luas di jawa. Tanpa mengukur jumlah konsumsi masyarakat kala itu.

Di pulau Jawa sebagai sentra penghasil beras tidak begitu berarti bagi wilayah di luar jawa. Masyarakat belum membeli dengan sepenuhnya beras dari Jawa. Sehingga membuat produksi beras hanya berkumpul di Pulau Jawa. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintahan  Otoriter Soeharto akhirnya membeli beras petani tersebut.

Maka beras dan gabah kering hasil petani di Jawa memenuhi gudang-gudang bulog pada masa itu. Sehingga Pemerintahan Otoriter Orde Baru pernah mengirimkan bantuan seratus ton beras ke Afrika (Ethiopia). Membuat anggapan dunia dan pengakuan Orde Baru bahwa Indonesia swasembada beras.

Untuk menghabiskan beras-beras tersebut juga memaksa Aparatur Negara mengkonsumsi beras berkualitas buruk itu, yang tertimbun dari gudang-gudang bulog dengan alasan, beras jatah dari negara. Baru pada masa revormasi jatah beras diganti dengan uang. Sehingga mereka dapat membeli sendiri beras yang berkualitas baik.

Dampak Kecerobohan Tersebut.
Di zaman sekarang ketika penduduk Pulau Jawa meningkat dua kali lipat lebih. Entah bagaimana itu dapat terjadi sebab apa yang di lakukan Orde Baru. Sawa banyak di timbun untuk pembangunan. Masyarakat di luar pulau Jawa tidak lagi memproduksi kebutuhan mereka sendiri. Sehingga kebutuhan beras akhirnya perlahan-lahan meledak dan terpaksa negara membeli keluar negeri (infor).

Penduduk di Indonesia Timur mulai mengkonsumsi beras. Meninggalkan makanan pokok mereka karena masa Orde Baru dirusak dengan beras. Seharusnya di dukung agar tidak membengkak keperluan beras dalam jangka panjang. Beras di Jawa perlahan hanya cukup memenuhi kebutuhan di Pulau Jawa tidak lagi seperti dulu sebab bertambahnya jumlah penduduk di Pulau Jawa.

Maka, bom waktu terjadi ekonomi Indonesia bergantung dari luar. Masihkan kita terjebak subjetivitas sejarah. Dengan bodoh percaya ada swasembada beras di zaman Pemerintahan Otoriter Orde Baru. Tidak, itu ketimpangan dan kecerobohan, arogansi dalam membangun ekonomi bangsa, dari paham sukuisme Soeharto. Kemudian menjadi bom waktu bagi perekonomian bangsa Indonesia.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 12 September 2019.
Sumber foto. Anoname.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment