Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

6/30/2019

Hilangnya Arsitektur Asli Atap Masjid Sumatera Selatan.


Apero Fublic.- Arsitektur Masjid Agung Palembang Adalah Induk Dari Atap Masjid-Masjid Ttradisional di Sumatra Selatan. Mengapa demikian, semua atap masjid dahulu semuanya sama mengikuti bentuk atap Masjid Agung Palembang. Yang tersebar di seluruh Sumatera Selatan dan Provinsi Bangka Belitung. Sehingga dinamakan atap masjid tipologi Mustaka Sumatera Selatan.

Kota Palembang lahir dari dua peradaban besar, yaitu Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam. Sudah lazim, apabila setiap peradaban selalu mewarisi peninggalan-peninggalan sejarah, baik peninggalan berbentuk material dan peninggalan berbentuk non material. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya bentuk material, seperti prasasti-prasasti yang banyak ditemukan di dalam wilayah Kota Palembang, diantaranya Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang.

Kota Palembang dinobatkan sebagai Kota Tertua di Indonesia, dihitung dari 17 Juni 682 (683) Masehi, berdasarkan tahun yang tertera pada prasasti Kedukan Bukit. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam juga meninggalkan jejak, seperti peninggalan sejarah berupa material bangunan, seperti Benteng Kuto Besak, Kompleks Makam Kawah Tekurep, dan Masjid Agung Palembang.

Peninggalan yang paling fenomenal adalah Masjid Agung Palembang. Sebelumnya Masjid Agung Palembang bernama Masjid Sulton, kemudian pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda (Keresidenan Palembang), dirubah penyebutan-nya, menjadi Masjid Agung. Kemudian dalam perkembangannya bahasa penyebutan, menjadi Masjid Agung Palembang.

Masjid Agung Palembang dibangun pada masa Pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I, tepatnya pada tahun 1738 Masehi. Sedangkan peresmiannya pada hari Senin 28 Jumadil Awal 1151 Hijriyah, atau 26 Mei 1748 Masehi. Pada zamannya, Masjid Agung Palembang menjadi masjid terindah dan terbesar di Nusantara.

Sketsa Masjid Agung Palembang pernah menjadi sampul sebuah majalah di Eropa, Le Moniteur des Indes-Orientales (Djohan Hanafia: 1988:9). Arsitektur Masjid Agung Palembang adalah bentuk perpaduan budaya, Melayu, Jawa, Cina, dan Eropa. Tetapi khusus untuk arsitektur atap, Masjid Agung Palembang memiliki corak tersendiri, yaitu perpaduan budaya Melayu dan budaya Cina.

Menurut bapak Prof. Dr. H. Baderel Munir, M.A, dalam pembangunan Masjid Agung Palembang, yaitu kepala tukang atau arsiteknya adalah seorang Cina Muslim yang mengabdi pada Sultan Mahmud Badaruddin I. Sehingga, terjadinya bentuk perpaduan antara arsitektur Melayu dan Cina tidak dapat dihindari.


Sesungguhnya arsitektur masjid tradisional, bukan hanya tipologi arsitektur Masjid Agung Palembang yang ada di Indonesia.  Di Indonesia terdapat tiga tipologi umum atap masjid tradisional, yaitu tipologi atap mustakaatap tajuk, dan atap undak (tumpang). Kata mustaka berarti kepala dalam bahasa Indonesia. Sedangkan tipologi atap mustaka berciri, bidang miring atap sedang, dengan kemiringan sampai 40 atau 50 derajat.

Kemudian pada tingkatan kedua berleher dan atap ketiga membentuk ruang bujur sangkar. Sehingga atap masjid ter-atas seolah-olah terpisah oleh leher dan membahu. Kedua, tipologi atap Tajuk, dalam bahasa Indonesia tajuk berarti tinggi atau tampak tinggi. Atap tajuk berciri, bidang miring mencapai 70 sampai 80 derajat. Dengan sayap atap ter-struktur, membentuk kerucut ke atas sehingga tampak bentuk segi tiga.

Pada atap ter-atas tidak tampak berleher. Atap tajuk banyak terdapat di wilayah bagian barat Pulau Sumatra, seperti Bengkulu, Jambi, Riau, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ketiga, adalah tipologi atap undak, yang juga sering disebut atap tumpang. Undak berarti bersusun-susun, bertingkat-tingkat.

Atap undak wilayah pesebarannya meliputi wilayah Indonesia Timur, seperti Jawa Timur, Lombok, Maluku. Tipologi undak menyebar ke Kalimantan, seperti atap Masjid Sultan Adurrahman, Pontianak. Ciri-ciri atap undak atau tumpang bidang miring atapnya landai, dengan 30 sampai 40 derajat. Tingkatan atap seimbang, sayap atap ter-struktur memanjangnya, sehingga tampak bersusun, atau berundak-undak. Pada atap ketiga tidak tampak berleher. Berikut sketsa tipologi atap masjid tradisional Indonesia.
Gambar A.
Tipologi Atap Tradisional Masjid Indonesia. 1. Atap Tipe Mustaka. 2. Atap Tipe Undak atau Tumpang. 3. Atap Tipe Tajuk. Diolah Dari Berbagai Sumber. Sketsa: Joni Apero.

Gambar. B.
Sketsa Tipelogi Atap Mustaka: 1. Atap Mustaka Sumatra Selatan. 2. Atap Mustaka Kalimantan. 3. Atap Mustaka Jawa. Sumber: Diolah Dari Berbagai Sumbe. Sketsa: Medikal Rohim.


Keterangan: gambar A adalah sketsa bentuk-bentuk umum dari tipologi atap Tradisional Indonesia, . Gambar sketsa No. 1 dari gambar A adalah bentuk tipologi atap Mustaka. Sketsa No. 2 Gambar A, adalah bentuk tipologi atap Undak atau Tumpang. Sketsa No. 3 dari gambar A adalah bentuk tipologi atap Tajuk.

Dari ketiga jenis tipologi umum atap masjid tradisional Indonesia tersebut, yang memiliki jenis kedaerahan adalah atap mustaka. Ada tiga corak aliran pada tipologi atap mustaka. Tiga aliran tipologi atap mustaka tersebut, yaitu tipologi atap mustaka Sumatra Selatan, tipologi atap mustaka Pulau Jawa, dan Tipologi atap mustaka Kalimantan.

Perhatikan sketsa pada gambar B. Sketsa no. 1 dari gambar B, adalah tipologi atap mustaka asli Sumatra Selatan. Sketsa No. 2, dari gambar B, adalah tipologi atap mustaka Kalimantan. Sketsa No. 3 dari gambar B, adalah tipologi atap mustaka Pulau Jawa.

Tipologi atap Mustaka Sumatra Selatan, bercirikan pada leher atap terdapat ukiran-ukiran, dan penutup kolong atap Berbidang miring. Di atas atap mustakanya, terdapat banyak hiasan duri-duri (tanduk kambing), sedangkan bentuk limas atap teratas tidak terlalu rendah atau tegak. Untuk ciri-ciri atap mustaka Pulau Jawa pada bagian leher atap lurus, dan lebih pendek.

Kadang leher atap tidak tampak, atau berhimpit. Seandainya leher atap tampak, tetapi leher atapnya lurus atau tegak, dan tidak diukir. Sedangkan atap mustaka Kalimantan bercirikan atap tegak tinggi meruncing ke atas. Leher atap lebih panjang dari leher atap mustaka Sumatra Selatan dan atap leher mustaka Pulau Jawa.

Semua masjid-masjid tradisional Indonesia tersebut adalah bentuk peninggalan kerajaan Islam di Nusantara, yang tersebar dari Aceh, dan keseluruhan Nusantara. Masjid tradisional atap limas bertingkat-tingkat tertua di Indonesia adalah Masjid Baiturrahman lama di Aceh.

Tidak mengherankan, karena memang Aceh lebih dahulu masuk Islam dibanding wilayah lain di Nusantara. Pada zaman sekarang, arsitektur masjid tradisional mulai punah. Disebabkan beberapa faktor, seperti habisnya sumber daya alam, berkembangnya teknologi, kuatnya pengaruh kebudayaan lain, seperti penggunaan kubah pada desain baru masjid-masjid di Indonesia.

Sehingga terjadilah pergeseran dalam arsitektur masjid tradisional Indonesia. Ada anggapan bahwa kubah sebagai simbol masjid juga menggerus nilai-nilai budaya pada bangunan masjid di Indonesia, begitu pun di Sumatra Selatan. Sekarang di tengah masyarakat Sumatra Selatan (Indonesia) sedang terjadi transformasi dalam pembangunan arsitektur masjid, dari tradisionalitas ke modernitas.

Bentuk transformasi bangunan atap masjid tentu menggerus arsitektur asli masjid Sumatra Selatan. Tidak mengherankan, karena material masjid yang terbuat dari kayu, tentu memiliki ketahanan yang terbatas. Dengan demikian, saat material tersebut tidak layak pakai terpaksa diganti.

Kemudian pengetahuan masyarakat yang sangat minim tentang kebudayaan lokal Sumatra Selatan, membuat masyarakat tidak peduli dengan warisan budaya sendiri. Atap mustaka Sumatra Selatan berinduk pada Masjid Agung Palembang. Kemudian diikuti oleh masjid-masjid lainnya, seperti Masjid Jami Sungai Lumpur, Masjid Kiai Muara Ogan, Masjid Mahmudiyah, Masjid Lawang Kidul.

Berlanjut kemudian berkembang ke seluruh Sumatra Selatan dan Bangka Belitung. Karena memang sebelumnya Provinsi Bangka Belitung bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam, dan bagian dari Provinsi Sumatra Selatan. Itu dibuktikan dengan adanya Masjid Jami Muntok (1883 M), Bangka Belitung. Di lihat dari sisa-sisa arsitektur atap masjidnya.

Hal yang disayangkan adalah ketika masyarakat merenovasi atau membangun ulang tidak mengikuti bentuk asli dari masjid tradisional, sehingga hilang nilai-nilai budaya, seperti seni arsitektur, budaya yang terkandung di dalamnya.

Kejadian seperti itu, bukan hanya pada Masjid Jami Muntok, tetapi beberapa masjid-masjid tradisional di Sumatra Selatan sendiri. Seperti, Masjid Sulaimaniyah Pangkalan Balai, Banyuasin. Karena terbakar pada tanggal 7 Agustus 2009, pembangunan ulang masjid tidak mengikuti rekonstruksi arsitektur asli masjid, yaitu atap mustaka Sumatra Selatan. Nasib sama dialami oleh Masjid Arahman Petaling, Musi Banyuasin.

Masjid peninggalan Kemas. H. Abdurrahman atau Kiai Delamat ini, sekarang sudah berganti bentuk masjid atap tradisi (Yudhy Syarifie: 2011: 63:64). Istilah atap tradisi adalah jenis atap masjid yang hanya berbentuk limas bertingkat-tingkat tetapi tidak ada nilai-nilai budaya, hanya mentradisi pada bentuk saja. Diistilahkan dengan, meniru tanpa seni.


Sekarang arsitektur asli atap masjid Sumatra Selatan hampir hilang atau punah. Masjid-masjid dengan arsitektur atap mustaka Sumatra Selatan yang masih berdiri mulai terbarukan oleh renovasi. Sebut saja Masjid Masjid Al-Khoiriah terletak di RT. I. Desa Gunung Raja, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim.

Masjid yang kemungkinan dibangun tahun 1938 Masehi, karena pada leher atap masjid terdapat angka tahun 1938. Masjid ini sekarang sudah mengalami renovasi, dan sudah kehilangan setengah bangunan aslinya. Selain itu Masjid Jami Sira Pulau Padang, Kecamatan Kayu Agung, Ogan Komering Ilir, juga sebagai arsip visual dari arsitektur asli atap masjid mustaka Sumatra Selatan.

Di Kota Palembang sendiri masih terdapat beberapa masjid atap mustaka Sumatra Selatan yang belum terekspos, seperti masjid Jami 3-4 Ulu, atau Masjid Jami Darussalam, di Kelurahan 3-4 Ulu, Seberang Ulu I, Kota Palembang, yang dibangun tahun 1909 M. Masjid atap mustaka Sumatra Selatan yang baru ditemukan adalah Masjid Al-Akhyar di Kelurahan Talang Betutu, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang, yang dibangun di tahun 1953 M. Sehingga tahun-tahun mendatang kemungkinan juga akan diperbaharui dan dikhawatirkan akan merubah arsitektur aslinya.


Setelah tahun 1953 M, tidak lagi ditemukan pembangunan masjid dengan atap mustaka Sumatra Selatan. Pembangunan masjid cenderung bebas dan mulai mengarah ke tipologi baru, yaitu masjid berkubah. Pada masa pemerintahan Orde Baru, pembangunan masjid tidak mengindahkan arsitektur masjid. Walau pembangunan dengan atap bertingkat-tingkat namun tidak merujuk jenis atap tradisional mana pun. Hanya bentuk atap saja yang bertingkat, namun dari fungsi, dan arsitektur tidak ada sama sekali mencerminkan atap masjid tradisional.


Sejak tahun 1953 M atap masjid tradisional tipologi Mustaka Sumatra Selatan tidak di bangun lagi oleh masyarakat Islam Sumatra Selatan. Berbagai pihak tidak peduli dengan nilai-nilai warisan budaya asli ini, baik kalangan seniman, budayawan atau pemerintah. Suatu hal yang menjadi pertanyaan kita bersama, mengapa kita tidak dapat merenovasi, menjaga, merawat, atau membangun prototipe disetiap kecamatan satu bentuk masjid dengan arsitektur asli Sumatra Selatan?.

Kenapa kita dapat menggali peninggalan zaman purbakala, peninggalan Hindu dan Buddha?. Tetapi kita tidak dapat menjaga warisan budaya yang sangat berharga (arsitektur asli masjid Sumatra Selatan), bahkan masih banyak berdiri? Walaupun material dari alam seperti kayu sudah tidak ada lagi, tetapi semua itu sudah dapat diganti dengan material dari industri.

Sesungguhnya pemerintah bertanggung jawab dengan nilai-nilai budaya tersebut, sedangkan para akademisi bertanggung jawab menjelaskannya. Hak masyarakat untuk tahu apa yang  mereka miliki, dan mereka berhak menerima, mewarisi kembali milik mereka. Kebudayaan adalah bentuk kekayaan intelektual masyarakat yang tentu harus dihargai setinggi-tingginya.

Selain menjaga warisan budaya, harus juga diiringi dengan pendidikan pada bidang kebudayaan, terutama pengenalan kebudayaan lokal. Dengan demikian, untuk merawat, menjaga, melestarikan, nilai-nilai budaya, baik kebudayaan material dan non material yang ada, sebaiknya Pemerintah Daerah Provinsi Sumatra Selatan mulai menyusun mata Pelajaran Kebudayaan Lokal Sumatra Selatan dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi yang ada di Sumatra Selatan.

Selama dalam penelitian skripsi saya ini, melalui pengamatan saya tidak menemukan masjid baru yang mengikuti bentuk utuh dari pola arsitektur masjid-masjid tua di seluru Sumatera Selatan. Pembangunan arsitektur atap masjid lebih pada sistem atap limas biasa atau atap limas bertingkat pengaruh masjid yayasan Pancasila.

Kemudian pergeseran dari atap tradisonal dan neo-tradisional menjadi bentuk atap kubah. Atap kuba menjadi tren baru dari sistem atap masjid di Sumatera Selatan. Masa pergeseran arsitektur asli menjadi arsitektur atap lengkung (Kubah). Yang didukung oleh teknologi, industri kuba, dan paham bahwa kubah sebagai simbol masjid.

Oleh: Joni Apero

Palembang, 2018.


Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Raden Fatah Palembang. Nim. 13420034.

Sumber: disarikan dari skripsi berjudul: Kajian Sosiologis pada Transformasi Atap Masjid di Kota Palembang (Studi atas Atap Tradisi dan Atap Kubah). Pembimbing I. Dr. Nor Huda Ali, M.Ag. M.A. Pembimbing.II. Dra. Retno Purwanti., M. Hum.

Foto Masjid Agung: Yudhy Syarofie.

Pierre-Yves Manguin, “Demografi dan Tata Perkotaan di Aceh Pada Abad 16 data Baru Menurut Sebuah Buku Pedoman Portugis Tahun 1584,” dalam, Hendri Chambert-Loir dan Hasan Muarif Ambari, (ed.), Panggung Sejarah, Terj. Ida Sundari Husen & HCL, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), h. 244.

Uka Candra Sasmita, Penelitian Arkeologi Islam di Indonesia dari Masa ke Masa, (Kudus: Menara Kudus, 2000), h. 36.

Muhlis PaEni, Sejarah Kebudayaan Indonesia; Arsitektur, h. 249. Masjid Baiturrahman dibangun pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Johan Mahmud Syah I (1267-1309 M). Uka Tjandrasasmita (ed.), Ziara Masjid dan Makam, (t.tp., Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, T.th). h. 27.

By. Apero Fublic

Mengenal Bisnis Muslim Indonesia. HNI-HPAI

PT. Herba Penawar Alwahida Indonesia (HPAI)Halal Network International (HNI), yang kemudian dikenal sebagai HNI-HPAI, merupakan salah satu perusahaan Bisnis Halal Network di Indonesia yang fokus pada  produk-produk herbal. HPAI, sesuai dengan akta pendirian Perusahaan, secara resmi berdiri pada tanggal 19 Maret 2012. Selain itu perusahaan juga memiliki Dewan Syariah, Dewan Komisaris, dan Dewan Direksi. Agen stok sudah terdapat di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia dan Thailand. HNI-HPAI memiliki Sertifikat DSN (Dewan Syariah Nasional)- MUI Pusat, sebagai bentuk legal formal pengesahan bahwa Bisnis Halal Network-HPAI telah memenuhi prinsip-prinsip Syariah Islam. HNI-HPAI menjual produk-produk yang dijamin 100% Halal, karena semua produk-produk HPAI diawasi langsung oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan kepahaman tentang kehalalan produk.
    HNI-HPAI dibangun dari perjuangan panjang yang bertujuan menjayakan produk-produk halal dan berkualitas berazazkan Thibbunnabawi, serta dalam rangka membumikan, memajukan, dan mengaktualisasikan ekonomi Islam di Indonesia enterpreneurship. Moto perusahaan “halal is my way. Visinya menjadi referensi utama produk halal berkualitas. Misi, menjadi perusahaan jaringan pemasaran papan atas kebanggaan umat Islam. Menjadi wadah perjuangan penyediaan Produk Halal bagi umat Islam. Menghasilkan pengusaha-pengusaha muslim yang dapat dibanggakan, baik sebagai pemasar, pembangun jaringan maupun produsen. Alamat pusat, Komplek Billy dan Moon, Jalan Kelapa Kuning IX Blok H-2 Nomor 6, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur 13450 Indonesia.
Halal Network International (HNI). HNI adalah bisnis Network Marketing Syariah milik Muslim Indonesia, yang kini telah berkembang ke beberapa negara Asean dan Asia. Menjadi bisnis Network Marketing Syariah Muslim terbesar di Asia, menjadikan bisnis ini memiliki potensi yang sangat besar dalam memberdayakan Ummat Islam untuk meraih kesuksesan bersama penuh barokah insya Allah. Ide Besar dalam bisnis ini adalah HIJRAH Lifestyle dalam aplikasinya adalah HIJRAH Products. Hjrah dalam aplikasinya adalah mengganti produk-produk yang biasa kita pakai sehari-hari dengan produk yang lebih dijamin Halal, milik Muslim, berbasis Sunnah, dengan kualitas yang premium tapi dengan harga yang murah, dan semua dikerjakan dari rumah, semoga membawa barokah.
    Produk-produk HNI terdiri dari berbagai macam, dari kebutuhan sehat keluarga sehari-hari. Seperti Pasta Gigi, Sabun, Sabun cair, Shampoo Herbal, Softener, Deterjen cuci pakaian dan lainnya. Ada juga produk Food dan beverages. Diantaranya seperti Kopi Sehat, teh herba, Susu Kambing, syrup, dan lainnya. Khusus untuk wanita ada Produk Kosmetik Muslimah, untuk kecantikan kulit dan wajah, yang Halal, sehat, alami dan Islami. Diantara produk kesehatan muslimah, seperti Pembalut Pantyliner herba yg halal dan berkualitas, mukena dan lainnya.
    Selanjutnya ada juga Produk Kesehatan harian, herba dan multivitamin bermanfaat utuk. seluruh keluarga, termasuk anak-anak. Kemudian ada Produk pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan,  dan perlimbahan probiotik alami untuk semua kebutuhan pangan dan limbah. Produksi Asuransi Halal Islami, benefit tambahan bagi Agen HNI. Hiburan Islami, memberikan seni hiburan Islami, nasyid-nasyid Islami, yang menggugah jiwa, menggerakkan semangat beramal Islami penuh manfaat bagi banyak orang. Tidak lama lagi produk pakaian akan diproduksi. Dimulai perdana dengan Sarung HNI untuk kebutuhan ibadah seluruh keluarga.
    Kami fokus menjadikan HNI sebagai bisnis keluarga, sehingga anak-anak memang sangat terlibat juga aktif. Tidak hanya aktif menggunakan produk, tapi juga terlibat aktif, merasakan bahwa ini bisnis mereka juga, dan bersemangat dari mereka sejak kecil untuk menjadi Pengusaha dan meneladani Rasulullah saw. Membangun bisnis dengan Karakter MAMPU (Mau, Antusias, Mandiri, Positif, Ulet), yang kami latih bagi diri kami, keluarga, juga para mitra bisnis dalam group binaan kami.
Menjalani bisnis dengan niat yang benar, dengan Cara Kerja Benar (CaKeB), dengan attitude yang terbaik, dan teladan prestasi yang nyata.

Bisnis Keluarga & Mentoring Bisnis.
    Fokus bisnis kami adalah pada Pemberdayaan Potensi Keluarga, karena itu kerja-kerja kami di bisnis ini sangat menyenangkan, setiap hari aktifitas kami adalah bagaimana memberdayakan orang banyak, untuk menjadi keluarga Muslim Pengusaha, melahirkan sebanyak mungkin _Muslim Entrepreneur Family_, yang peduli kehalalan produk, semangat memberdayakan banyak orang, yang Cinta Islam dan Cinta negeri ini Indonesia. Semangat melahirkan keluarga Muslim Indonesia yang Sehat, Cerdas, dan Mandiri.
Bisnis Muslim yang Mendunia
Bisnis Syariah Muslim yang membangun network berskala international, lintas negeri, budaya dan bahasa, untuk membangun kekuatan Pasar Halal berbasis Ekonomi Islam, yg memberdayakan banyak Usahawan Muslim di setiap negeri. Dari Indonesia untuk Dunia
    Fokus melahirkan muslim young entrepreneur usahawan Muda yang sholih lagi berprestasi. Semangat _entrepreneur_ yang mandiri, energik, dan berdaya guna. Membangun kepercayaan diri mereka untuk bisa sukses di usia muda, jadi inspirasi dan kebanggaan bagi negeri, muda lagi berprestasi tentunya.
    Bisnis Muslimah (ibu-ibu Khadijah) dan Jagoan Kampung.
Menariknya juga fokus bisnis yang kami kerjakan juga adalah melahirkan banyak orang bisa sukses dengan hanya menggerakkan potensi masyarakat di sekitarnya, sangat “mother friendly dan sangat rumahan.” Halal Mart, membangun sistem ekonomi pasar halal. Membangun kekuatan dan sekaligus kemudahan dalam membentuk Pasar Halal (Halal Mart), yang sangat murah modalnya, mudah konsepnya, simple cara kerjanya, dan berbasis rumahan, sehingga sangat.
Manfaat daftar member HNI-HPAI. Pertama, Diskon atau cashback 10% diberikan oleh HNI untuk pemegang No.ID member, cukup dgn menyebutkan no ID. belanja jadi hemat. Dapat diskon merchant yang bekerjasama dengan HNI. Mendapat katalog panduan bisnis dan e-katalog produk. Bisnis anda di dampingi langsung degann mentor anda. SPOT (sistem pembinaan online terpadu). Akses web (AVO agen virtual office). Dan bonus lainnya Tunggu apalagi ayo daftarkan diri Anda sekarang.

Kontak:
Hp. 081367739872
WhatsApp. 081367739872.

Oleh. Joni Apero.
Palembang, 2019.

By. Apero Fublic

Sejarah Pemakaian Kubah Pada Bangunan Masjid


1. Sketsa Kubah setengah lingkaran. 2. Kubah Bawang Konstruksi Atap. 3. Kubah Bawang Dekoratif. 4. Kubah Bawang Dekoratif dengan empat kubah hiasan. Sumber ilustrasi foto: Hasil penelitian dan pengamatan bangunan masjid di Kota Palembang, 2017. Sketsa: Joni Apero

Kubah, adalah bentuk penggunaan atap lengkung yang tidak hanya di monopoli oleh bangunan Islam, seperti masjid, musholla, moseleum, dan makam. Kubah yang dalam pengertian secara arsitektur Islam adalah bentuk atap setengah lingkaran yang terletak diatas bangunan masjid.[1] Sedangkan secara Bahasa Indonesia kubah diartikan, (1). Lengkungan (atap).( 2). Atap yang melengkung merupakan setengah bulatan.[2] Menurut Philip K. Hitti, penggunaan sistem lengkungan pertama dalam peradaban manusia adalah bangsa Babilonia. Bangsa Babilonia telah mewariskan kepada kita (manusia) struktur lengkungan (arch)[3] dan lorong (vault)[4] – yang mungkin juga berasal dari bangsa Sumeria. Selain itu mereka (Bangsa Babilonia) juga mewariskan kereta beroda, serta sistem timbangan dan ukuran.[5]
    Munculnya penggunaan bentuk kubah (dalam arsitektur Islam) yang merupakan (kemudian) salah satu ciri arsitektur Islam sejak saat perkembangannya. Kubah itupun merupakan bagian bangunan sebagai masukan dari pengaruh luar terutama dari daerah-daerah atau sebagai hasil perbauran arsitektur Islam dengan arsitektur Barat melalui seni arsitektur Byzantium. Kubah dipilih sebagai bentuk penutup yakni sebagai atap dari ruang yang mempunyai kekhususan dalam fungsinya. Biasanya yang ditutup oleh kubah adalah ruang utama atau ruang inti yang merupakan titik sentral dari bangunan masjid.[6]
    Kubah atau qubbah yakni bentuk atap setengah lingkaran yang terletak diatas bangunan atap masjid dan terletak pada bagian tengah atap, pada lingkaran tengah kubah terdapat lambang bulan sabit dan  bintang. Lambang atau simbol bulan sabit dan bintang ini ditopang oleh sebuah tongkat.[7] Pada awalnya pembanguan masjid yang pertama di Madinah pada tahun 622 Masehi, bentuk atapnya masih bentuk atap datar biasa, belum ada pemakaian atap lengkung atau kubah. Penerapan bentuk atap kubah baru pertamakali ditemukan pada bangunan Masjid Qubhat al Sakhra di Jerusalem (687 M), dan kubah pada Masjid Jamik Damaskus dibangun oleh Khalifah Al Walid dari Dinasti Ummayah.[8]
Di samping itu, ada yang mengatakan bahwa pemakaian bentuk kubah (bangunan Islam) yang pertama kali ditemukan pada makam istri Nabi Muhammad SAW bernama Maimunah binti Harits, yang meninggal pada tahun 65 Hijriyah atau tahun 680 Masehi, yang dikubur di dalam bangunan beratap setengah lingkaran (kubah). Penemuan ini adalah suatu bukti munculnya pemakaian atap kubah sebagai salah satu corak bangunan Islam yang diterapkan sebagai bentuk atap dalam arsitektur masjid kemudian. Tetapi dipandang dari sudut historis dan arkeologis Islam bangunan Masjid Qubbah al Sakhra di Jerusalem itu dipandang perlu sebagai bukti pemakaian kubah yang pertama kali dalam peradaban Islam.[9]
    Dalam pemakaian bentuk kubah dapat kita ketahui bahwa bentuk kubah sebagai atap lengkung masjid memiliki perbedaan corak (style) menurut keadaan daerah perkembangannya. Masalah ini tentunya disebabkan setiap daerah ingin memperlihatkan corak khas bentuk kubah menurut gaya yang dimiliki masing-masing daerah. Disebabkan adanya penampilan gaya yang berbeda dari bentuk kubah ini, munculnya aliran atau mazhab bentuk kubah maupun corak lengkung tajam ruang portal dari beberapa negara-negara yang pernah mendapat pengaru Islam. Dalam segi bentuk kubah masing-masing aliran, akan terlihat adanya saling berpengaruh corak atau bentuk antara satu jenis kubah dengan kubah lain, Yang mana di samping persamaan global akan terlihat sedikit perubahan gaya sebagai suatu ciri khusus daerah, sehingga dengan adanya sedikit perbedaan ini akan memperlihatkan gaya tersendiri yang dimiliki daerah atau negara masing-masing, sebagai sifat kepribadian dalam gaya arsitekturnya.[10]
    Saling pengaruh penggunaan kubah seperti, bentuk kubah Arab mempengaruhi gaya kubah Moor.[11] Dapat ditelusuri, dari bentuk kubah dari wilaya tersebut memiliki kesamaan. Seperti berbentuk kubah bawang yang hampir sama besar, dan bergaris-garis yang menyatu ke titik tengah dimana titik tersebut terdapat simbol bulan sabit dan bintang, sedikit sekali perbedaanya. Dapat dibandingkan antara kubah Maroko (1150 M), Kubah Qairawan (Tunisia, 836 M), dan Kubah Cordova (785 M). Kubah-kubah tersebut dinamakan kubah aliran Moor.[12] Apabila kita tinjau dari geografis, historis dan budaya dimana adanya perpindahan Bangsa Arab ke Andalusia (Spanyol), keturunan dan pengikut dari Dinasti Ummayyah, saat kebangkitan Dinasti Abbasiyah.[13]
    Demikian juga kubah Persia memberikan pengaruh pada kubah India dan Turki, dan paling banyak gambaran kubah tersebut, banyak di temukan pada bangunan-bangunan masjid di Indonesia. Pada kubah aliran Arab  mempunyai corak badan kubah agak lurus meninggi dengan lengkung bagian atas melancip dan tengahnya membahu, seperti kubah Masjid Ibnu Tulun, di Kairo 876 M, Masjid Qubbah al Sakhra di Jerusalem 687 M, kubah Damaskus 706 Masehi,  dan Al Azhar Kairo 1130 M. Kubah-kubah ini disebut aliran Arab.[14] Kubah Arab mempengaruhi semua tipe kubah masjid di Dunia Islam. Karena wilayah-wilayah tersebut adalah tempat pertama tumbuh dan berkembangnya Islam, dan kebudayaan Islam. Selain itu, juga terikat dengan kedekatan geografis dan kultural.[15]
    Untuk Kubah aliran Turki membentuk lengkungan bolah setengah lingkaran yang melebar dan badan kubah lebih rendah, seperti masjid Bayazid Istambul, 1609 M. Selain itu bentuk kubah aliran Turki juga ada berbentuk segi tiga hampir mirip limas, seperti pada Masjid Hudavend Hatun, Turki 1312 Masehi.[16] Kubah yang paling terkenal adalah kubah Masjid Hagia Sophia di Istambul, Turki. Kubah Masjid Hagia Sophia (sekarang museum), dan kubah Masjid Bayazid II (1609 M) apabilah diperhatikan memiliki kesamaan bentuk dengan kubah Masjid Istiqlal Jakarta, yaitu jenis kubah setengah lingkaran.[17]
    Sedangkan pada aliran Persia bentuk kubahnya dengan badan kubah lurus yang pendek dan kemudian melengkung sampai ke ujung meruncing, seperti pada kubah di Isfahan (Persia) 1612 M dan Kubah Cut Amir (Samarkhand) 1405 M. Pada kubah aliran India bentuknya hampir sama dengan bentuk kubah aliran Persia, hanya saja kubah India mempunyai banyak corak ragam hiasan pada badan kubah, seperti kubah Taj Mahal, 1634 M, dan Kubah Masjid Jamik (Delhi) 1644 M.[18] Saling pengaruhi antara kubah aliran persia dan kubah aliran India dapat ditelusuri kembali dari gerak pesebaran Islam (politik, budaya, geografis), dari wilayah Asia Barat, terus bergerak ke Asia Selatan dan tentu melewati Persia (Iran).[19]
    Sesuai dengan keterangan Slamet Mulyana bahwa masjid yang berkubah tersebut (kecuali kubah asli aliran Tiongkok dan Jepang bentuk limas) banyak terdapat di India dan negara-negara sebelah baratnya.[20] Sedangkan di Indonesia aliran kubah pada masjid-masjid berkubah yang dibangun pada abad kesembilan belas sampai pertengahan abad kedua puluh, dan kubah masjid-masjid besar di kota-kota dapat dibaca aliran kubah mana yang diikuti, seperti: Masjid Baiturrahman Aceh yang mengikuti tipologi kubah Indiah.[21] Masjid Raya Sultan Deli,[22] Masjid Al-Azhar,[23] dan Masjid Istiqlal Jakarta.[24]
    Masjid di Indonesia sering ditemui corak-corak masukan dari luar yang sebelumnya telah menjadi suatu corak tertentu, misalnya masuk unsur dari corak Timur-Tengah atau India (Bangladesh). Oleh karena itu, maka penampilannya sebagai pengaruh yang telah menjadi corak tersendiri pada bangunan mesjid di Indonesia hanyalah semata-mata karena bentuknya yang telah mempesona orang yang telah menyaksikannya (misalnya di India). Adapun faktor-faktor kegunaan, faktor fungsi bukanlah menjadi sebab utama masuknya unsur luar tersebut.[25] Namun,  karena hanya ingin menghadirkan bentuk kubah pada masjid, atau hanya bentuk peniruan, karena adanya anggapan bahwa kubah adalah bentuk simbol (Islam) atau ciri menonjol bangunan masjid.[26]
    Selain itu ada sekelompok orang (Islam) yang ingin memperkuat kehadiran dari kubah ini dengan mengemukakan hasil pemikiran tertentu tentang kubah, berupa uraian tentang terjemahan dari bentuk kubah. Menurut pemikiran tersebut bentuk kubah yang bulat yang ujungnya yang meruncing, adalah lambangnya dari bersatunya seluruh doa kaum muslimin yang kemudian menjadi intisari sebelum ditujukan ke hadirat Tuhan Yang Maha tinggi. Penafsiran ini tidak salah, sebab setiap bentuk akan mengandung ekspresi tersendiri, meski tentu saja datangnya kemudian setelah bentuk kubah itu ada. Melalui cara saling meniru maka gaya kubah ini melanda seluruh penampilan masjid yang berlomba-lomba ingin menampilkan kubah.[27]
    Pemaknaan kubah juga merujuk langit yang tinggi. Karena langit merupakan hal yang sangat penting bagi orang muslim, dimana terdapat banyak ayat Al-qur’an menyebutkan tentang langit, bumi dan bintang-bintang dan pada saat bersamaan memikirkan kenapa langit berada pada posisi yang tinggi. Secara konsep, persepsi masyarakat muslim dengan adanya langit yang merupakan analogi[28]  dari sebuah kubah raksasa. Contoh analogi, seperti saat kita beribadah di tengah padang pasir yang luas, lalau menengadah keatas, saat itu kita dapat melihat langit seperti kubah besar  melengkung, begitupun sama halnya apabila kita berada di tengah lautan yang luas.[29]
    Kubah adalah lengkung atap setengah bulatan.[30] Kubah merupakan ciri arsitektur Islam, meskipun bukan asli Islam.[31] Kubah juga merupakan salah satu ciri arsitektur Islam sejak saat perkembangannya. Kubah juga bagian bangunan Islam, pengaruh dari luar yaitu perpaduan arsitektur Islam dan Barat melalui seni arsitektur Byzantium. Kubah dipilih sebagai bentuk penutup atap yakni sebagai atap ruang inti titik sentral masjid. Dalam perkembangan masjid Arab yang aslinya mempunyai lapangan tengah (dalam masjid) yang asalnya atap masih terbuka. Pada bagian bawah atap yang masih terbuka tersebut terdapat shan yang menampung air wudhu. Dalam perkembangan selanjutnya, kumudian atap terbuka tersebut ditutup dengan kubah, sehingga menjadi ruang inti seperti sekarang.[32]
    Pilihan terhadap kubah sebagai penutup atau atap di bagian ruangan utama ini rupanya menguntungkan ditinjau dari berbagai kepentingan arsitektur. Sebagai bangunan yang menjadi perhatian utama, maka masjid memerlukan penonjolan bentuk sehinggga dengan tampilanya kubah, keperluan tersebut telah terpenuhi. Kubah juga merupakan bentuk kontinuitas dari bentuk lengkung elemen-elemen bangunan seperti gapura, pintu, dan dinding serambi. Dengan demikian tercapailah kesatuan watak dari masjid tersebut.[33]
    Pemakaian kubah inipun mempunyai kaitan yang erat dengan perkembangan konstruksi atap, serta kegunaannya sebagai ungkapan psikologi bangunan penting Islam. Secara konstruksi kubah menyebabkan adanya kebebasan ruangan yang lebih leluasa dan longgar, sehingga dapat mengurangi deretan tiang yang biasanya banyak jumlahnya untuk mendukung bagian atap bangunan (masjid tradisional), serta memperoleh ruangan yang luas. Bangunan tampaknya lebih intim serta mantap dan kokoh dengan kubah sebagai inti yang dominan terhadap bagian-bagian lainnya. Selain keluasan ruangan, dengan berkubah kesan ruangan meninggi juga didapat. Kemudian muncul pengertian tentang tanggapan terhadap masjid sebagai kesatuan yang utuh, masjid dapat dilihat sebagai kesan objek yang mempunyai ciri-ciri khas, besar, megah dan agung. Sedangkan sebagai manusia budaya juga mempunyai berbagai kesatuan wujud dari perasaan kerohanian, pengertian, rasa keagamaan. Sehingga dapat menampilkan bangunan masjid yang besar dan megah dan menjadi simbol kebanggaan  diri sebagai orang Islam.[34]
    Sebenarnya dalam penggunaan kubah sebagai konstruksi arsitektur atap bukan hanya dimonopoli oleh konsturksi atap masjid atau tempat ibadah umat Islam, seperti di Palestina (Yerusalem), atap Gereja Makam Suci juga beratap dengan dua kubah. Kubah besar terdapat pada banguan induk gereja dan kubah lebih kecil terletak pada atap bangunan tambahan gereja (anak bangunan).  Sedangkan yang membedakan kubah Gereja Makam Suci  dengan kubah masjid pada umumnya adalah terletak pada lambang salib diatas kedua kubanya.[35] Selain itu gereja di Yerusalem yang menggunakan kubah adalah Gereja Maria Magdalena, kubah gereja ini berbentuk kubah bawang yang berwarna kuning emas yang berjumlah lima kubah. Disetiap kubanya terdapat lambang salib sehingga dapat dibedakan dari kubah masjid.[36] Di Indonesia penggunaan kubah pada bangunan rumah ibadah selain masjid, terdapat pada Gereja Williams yang di bangun Belanda (VOC) pada tahun 1622 M  di Batavia (Jakarta).[37] Sedangkan di Semarang sebua gereja berkubah (Protestan) bernama Gereja Belenduk. Kubah Gereja Belenduk terbuat dari tembaga, dan gereja ini di bangun pada tahun 1753 M.[38]
    Dalam hal pemakaian kubah sebagai konstruksi bangunan pada atap bangunan selain rumah ibadah, seperti di Tunisia, tepatnya di Kota Tozeur  di wilayah Tunisia Tengah, rumah masyarakat di Kota Tozeur menggunakan sistem lengkung kubah (berkubah). Kota Tozeur dikenal dengan perkebunan dan pembibitan kurma yang berkualitas.[39] Selain itu atap lengkung kubah juga digunakan pada atap-atap kuburan atau mauseloum. Seperti kuburan keluarga raja-raja Tuggurt yang berbentuk kubah, terletak di Oase Tuggurt[40] (Tonggourt).[41]
    Sedangkan di Indonesia penggunaan atap lengkung kubah pada kuburan terdapat di kompleks pemakaman Engku Putri Permaisuri Sultan Mahmud di daerah yang disebut Dalam Besar, Provinsi Riau.[42] Situs Kompleks Makam Yang Dipertuan Muda VI Raja Jakfar di Pulau Penyengat, Tanjung Pinang.[43] Sedangkan di Kota Palembang penggunaan atap lengkung kubah terdapat pada kompleks pemakaman  Sultan Palembang di Kawah Tekurep.[44] Penggunaan kubah pada cungkup pemakaman Sultan Mahmud Baddaruddin I, adalah bentuk pemakaian kubah pertama pada suatu bangunan Islam di Indonesia (Palembang).[45]

Oleh: Joni Apero.
Palembang, 2018.

Sumber: Skripsi Berjudul, Kajian Sosiologis pada Transformasi Atap Masjid di Kota Palembang; Studi Atas Atap Tradisi dan Atap Kubah. Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Sejarah Peradaban Islam.


[1]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 25.
[2]Dendy Sugono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 747.
[3]Arch, merupakan sistem konstruksi dasar dalam arsitektur yang digunakan untuk menciptakan atap atau langit-langit. Konstruksi arch adalah bentang kaku yang melengkung diantara dua titik penyangga, dan muncul dalam banyak variasi. Sampai abad ke- 19, lengkungan dan lorong adalah satu-satunya alternatif selain struktur kolom dan balok. Phillip K. Hitti, Histori of The Arabs, Terj. Serambi,  (Jakarta: Serambi, 2006), h. 13.
[4]Vault adalah struktur berbentuk lorong, biasanya dibuat dari susunan bata atau langit-langit ruangan, atap bangunan, atap penyangga langit-langit atau atap. Ibid., h. 13.
[5]Ibid., h. 13.
[6]Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 26.
[7]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 25. (Lambang bulan-bintang beberapa pendapat mengatakan bahwa lambang ini dahulu adalah lambang panji-panji Islam di zaman Nabi Muhammad Saw. Oleh Khalifah Umar dipopulerkan menjadi lambang resmi bendera Islam).
[8]Ibid., h. 29.
[9]Ibid., h. 30.
[10]Ibid., h. 30
[11]Moor atau Moorish adalah penyebutan Bangsa Barat untuk orang-orang muslim Arab, Keturunan Arab di Spanyol, orang Aprika Barat, seperti Maroko di abad pertengahan. Diakses dari, www.wikipedia/moorish.org, pada hari Selasa 14 Februari 2018, pukul 10:39 WIB.
[12]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 32.
[13]Dimana masa kebangkitan Dinasti Abbasiyah, kelompok pengikut Abbasiyah membunuh semua keluarga dan pengikut Dinasti Ummayah. Namun seorang keturunan Dinasti Ummaya berhasil melarikan diri ke Andalusia, yaitu Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah ibn Hisyam ke Spanyol. Sebelumnya Spanyol telah ditaklukkan oleh Thariq ibn Ziyad dan Gubernur Musa dimasa Dinasti Ummayah, yaitu Khalifah Al-Walid di Damaskus. Philip K. Hitty, History of The Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002), h. 365. 628. 631. 643.
[14]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 30-31.
[15]Dimana orang-orang Arab muslim menaklukan kawasan Bulan Sabit Subur, Persia, Mesir, Suriyah. Bukan hanya menaklukkan geografis tetapi tetapi juga pusat-pusat peradaban tertua di dunia. Dimana kesatuan antara peradaban Mediterania di Asia Barat mencapai titik puncaknya (terutama bangunan Islam, masjid). Philip K. Hitty, History of The Arabs, h. 216-217.
[16]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 32-33.
[17]Pendapat ini adalah bentuk perbandingan bentuk kubah setengah lingkaran yang terdapat pada kubah Masjid Sultan Bayazid II. Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 33. Dengan kubah Masjid Istiqlal Jakarta. Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 132.
[18]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 34-35-36-37.
[19]Dimasa Dinasti Abbasiyah penaklukan Asia Tengah dan Asia Selatan dimulai. Seperti ekspedisi yang dipimpin oleh Muhammad Ibn Qasim pada 710 M, sampai ke Balukistan, pada 711-712 berhasil menduduki Sindh di lembah bagian bawa delta Sungai Indus. Philip K. Hitty, History of The Arab, h. 263.
[20]Djohan Hanafiah, Masjid Agung Palembang; Sejarah dan Masa Depannya, h. 16.
[21]Wiyoso Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia, h. 136.
[22]Masjid Raya Medan dapat ditelusuri coraknya, yaitu mengikuti kubah gaya Timur-Tengah. Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 113.
[23]Masjid Al-Azhar, mengadopsi penerapan kubah campuran corak India dan Timur Tengah. Ibid., h. 128.
[24]Masjid Istiqlal Jakarta, Apabilah di Telusuri mengikuti corak bentuk kubah aliran Turki, seperti Masjid Sultan Bayazid di Istambul (1609 M). Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 33.
[25]Abdul Rochym, Masjid Dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 112-113.
[26]Ismail R. Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam; Menjelajah Khazana Peradaban Gemilang, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 2003), h. 450.
[27]Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional  Indonesia, h. 78.
[28]Analog adalah Sama; Serupa. Kemudian menjadi analogi yang bermakna kias, persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yang berbeda; sesuatu yang sama dalam bentuk, susunan atau fungsi, tetapi berlainan asal-usulnya sehingga tidak ada hubungan kekerabatan; kesamaan sebagai ciri antara dua benda atau hal yang dipakai untuk perbandingan. Daniel Haryono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 44.
[29]Cut Azma Fithri, Alternatif Kubah sebagai Simbol Masjid dan Pengarunya pada Desain Masjid-Masjid di Indonesia,” Artikel Pdf, Temu Ilmiah IPBLI, 2016.
[30]Daniel Haryono, Kamus besar Besar Indonesia, h. 504.
[31]Djohan Hanafiyah, Masjid Agung Palembang; Sejarah Dan Masa Depannya, h. 13.
[32]Shan adalah bagian ruang paling tengah di dalam masjid pada masjid-masjid awal di Arab dan masih terbuka juga bagian atas tengah atapnya, atau belum di pasang kubah seperti sekarang, sehingga bagian tengah atap masih terbuka. Nah, shan tersebut berbentuk kolam atau pancuran air untuk berwudhu yang bagian atas belum beratap atau masih bentuk lobang di atap atas nya. Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 24. Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 26.
[33]Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 26.
[34]Ibid., h. 27-28.
[35]Nurkaib, (ed.), Peradaban Islam Yerusalem, (Jakarta: Taskia Publishing, 2012), h. 182.
[36]Ibid., h. 190.
[37]Agus Arismunandar, dkk., Arsitektur, (Jakarta: Grolier International, 2002), h. 108.
[38]Taufik Abdullah, dkk, Agama dan Upacara, (Jakarta: Grolier International, 2002), h. 9.
[39]Adjeng Hidayah Tsabit & Sri Pare Eni, Arsitektur Kuno & Modern Tunisia-Afrika Utara, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), h. 44 & 46.
[40]Sebua kota yang terletak di Provinsi Ouargla, Aljazair. Diakses dari,  www.wikipedia/touggourt.org, pada hari Senin 13 Februari 2018, pukul 21:01 WIB.
[41]Kafrawi Ridwan, dkk (ed)., Ensiklopedia Islam, (Jakarta: Ikrar Mandiriabadi, 2001), h. 123.
[42]Asti Kleinsteuber & Syafri M. Maharadjo, Masjid-Masjid Kuno di Indonesia, h. 144.
[43]Ahmad Dahlan, Sejarah Melayu, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014), h. 292.
[44]Pemerintah Kota Palembang Badan Perencanaan Pembanguan Daerah, Profil Kota Palembang, (Palembang: T.pn., 2011), h. 25.
[45]J.L. Van Sevenhoven, Lukisan Tentang Ibukota Palembang, terj. Sugarda Purbakawatja, (Djakarta: Bharatara, 1971), h. 23. Perbandingan dari tahun pembangunan kompleks pemakaman Kawa Tekurep yang dibangun tahun 1738 M. Djohan Hanfiah, Palembang Zaman Bari, h. 63. Dengan masjid berkubah pertama di Indonesia Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat yang di bangun pada 1832 M. Ahmad Dahlan, Sejarah Melayu, h. 375.

By. Apero Fublic.