7/15/2021

Mengenal Syekh Yusuf Al-Makasari Al-Bantani: Ulama dan Pejuang.

APERO FUBLIC.- TOKOH. Islam sudah masuk ke Sulawesi jauh sebelum abad ke 17 Masehi. Kemudian berkembang dan raja yang masuk Islam pertama Raja Kerajaan Luwu bernama Pattiarase di tahun 1603 Masehi. Kemudian diikuti oleh Raja Kerajaan Tallo dan Kerajaan Gowa dalam tahun 1605 Masehi. Menurut catatan Lontarak shalat Jumat di Tallo dilaksanakan pada tahun 1607. Menandakan kerajaan telah menerima Islam secara resmi oleh kerajaan dan masyarakatnya. Dengan demikian kerajaan pun berganti menjadi kesultanan.

Pembawa Islam terkenal di Sulawesi tiga orang ulama dari Aceh, yaitu Datok ri Bandang atau Abdul Ma’mur, kemudian Datok Suleman dan Datok ri Tiro. Mereka berasal dari Minangkabau tapi berdiam di Aceh. Mereka diundang oleh Raja Gowa dan masyarakat Makassar untuk mengajarkan Islam.

Dalam waktu enam tahun semua raja-raja besar-kecil di Makassar diislamkan oleh ketiga ulama itu. Kemudian datang para pendahwah atau ulama-ulama dengan keahlian berbeda. Pesantren pertama di bangun di Bontoala. Perlahan ajaran Islam menjadi bagian dari adat istiadat (pangadakkang) yang di sebut sarak.

*****

Syekh Yusuf Al-Makasari adalah seorang ulama, seorang sufi sekaligus seorang pejuang. Beliau lahir di Makassar pada tahun 1626, semasa Kesultanan Gowa. Bernama lengkap Muhammad Yusuf, ibu beliau bernama Siti Aminah anak dari Gallarang MoncongloE. Sedangkan ayah beliau memiliki dua versi sebutan pertama dengan istilah “orang tua” atau Nabi Khaidir. Yang kedua nama disebut adalah bahwa beliau anak dari Sultan Alauddin, Sultan Gowa ke 14.

Mengapa demikian, kelahiran beliau dirahasiakan dari permaisuri. Sebab beliau seorang laki-laki tentu memiliki hak waris kesultanan dan akan membuat masalah internal politik. Syek Yusuf dibesarkan dalam lingkungan istanah. Dia belajar ilmu pengetahuan agama Islam dan bahasa Arab. Umur 18 tahun beliau pergi ke Banten dan Aceh untuk belajar. Kemudian dilanjutkan ke Mekkah dan Damaskus (Suriah).

Selama 15 tahun belajar di Timur Tengah, mendapat ijazah tarikat Taju al-Khalwati Hadiatullah dari gurunya Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi dalam Tarikat Khalwatiyah.

Tahun 1644 Syekh Yusuf meninggalkan tanah kelahirannya, dengan maksud pergi ke Mekkah. Dari Makasar dia pertama singgah di Kesultanan Banten. Sepulang dari Mekkah beliau kembali datang ke Banten, dan menikahi putri Sultan Ageng Tirtayasa. Dari pihak ibu putri tersebut masih bersaudara dengan Raja Goa Karaeng Bisei yang memerintah tahun 1674-1677 Masehi.

Kompeni Belanda dan Kesultanan Banten berperang, Syekh Yusuf tentu berpihak pada Banten. Sultan Ageng Tirtayasa dibantu Syekh Yusuf melawan Kompeni yang dibantu Sultan Haji, adik dan lawan politik Sultan Tirtayasa. Ketikah kekuatan Sultan Tirtayasa kalah, Syekh Yusuf memimpin perang gerilya dari hutan melawan Belanda dan orang-orang Sultan Haji. Syekh dalam perlawanan bersama Pangeran Purbaya, Pangeran Kidul, dan diikuti 5000 orang.

Syekh Yusuf berada di Banten selama 20 tahun, dan memegang jabatan sebagai Mufti (Hakim) Kesultanan Banten. Guru bagi sultan dan keluarganya, serta guru tarikat bagi penduduk. Suatu hari, putri syekh bernama Asma ditangkap oleh Van Happel. Kemudian dijadikan siasat jebakan untuk menangkap Syekh Yusuf. Beliau keluar dari persembunyiannya, benar saja beliau ditangkap, lalu dipenjarakan di Jakarta.

Pada 12 September 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon. Kemudian dipindahkan ke Cape Town pada 7 Juli 1694 bersama 49 orang pengikutnya. Kelompk Syekh Yusuf ditambah orang buangan lainnya membentuk kelompok Islam pertama di Afrika Selatan (Cafe Town). Disana mereka bermukim di sekitar Zandvliet di dekat Sungai Eerste. Syek Yusuf wafat (1699) dan dimakamkan di sekitar pertanian Zandvliet.

Pemindahan Syek Yusuf dari Ceylon (Srilanka) bukan tanpa alasan. Terjadinya perlawanan rakyat di Banten, di Sumatera Barat, dan oleh Sultan Gowa ke-19 bernama Sultan Abdul Jalil dia menggugat perjanjian Bongaya dan mengembalikan benteng Jumpandang. Belanda menyelidiki latar belakang dari peristiwa perlawanan rakyat tersebut.

Di Ceylon hubungan Syek Yusuf dengan Nusantara melalui jemaah haji yang singga di Ceylon saat pergi dan pulang. Kemudian dari sana surat dan informasi Syek dengan Sultan Banten-Sultan Gowa (Makassar) tejalin. Terjadinya surat menyurat tersebut tercium oleh Belanda dan sampai ke Batavia (Jakarta). Tentu saja ada penghianat yang membocorkan rahasia tersebut.

Di Makassar dikenal dengan kittak-na Tuan LeoEta atau Pesanan Tuanta. Di Banten dikenal dengan Ngelmu Aji Karang atau Tuan Seh. Dalam penelitian dan pemahaman Belanda Pesanan Tuanta dan Tuan seh adalah nama samaran dari Syek Yusuf atau istilah yang merujuk beliau. Kemudian dikhawatirkan dan adanya upaya pembebasan syek dari Ceylon oleh keluarga dan pengikut beliau. Selama 9 tahun di Ceylon beliau selalu dicurigai oleh Belanda sebagai penggerak perlawanan rakyat di Nusantara. Lelaki tua yang hanya bersenjata tasbih pengaruh dan wibawanya sangat besar.

Untuk itu, Belanda memindahkan Syek Yusuf ke Kaap atau Afrika Selatan. Pada 7 Juli 1693 Kompeni Belanda memindahkan Syek Yusuf ke Afrika Selatan. Waktu itu umur beliau sudah menginjak 68 tahun, dibawa dengan kapal layar bernama Voetboeg. Terdapat 49 orang yang dibawa ke Kaap, terdiri dari dua orang istri, 12 orang santri, 2 pembantu wanita, 14 orang sahabat beliau, putra-putri beliau, dan hamba-hamba beliau. Lama pelayaran 8 bulan, 23 hari dan tiba di Afrika Selatan pada 2 April 1694 Masehi.

Mereka di tempatkan di muara Eerste River, tana milik Dominus Petrus Kalden. Tempat tersebut sampai sekarang dinamakan Makassar Downs dan pantainya dinamakan Macassar Beach (pantai Makassar) dalam teluk, False Bay. Mereka baru menempati tempat tersebut pada 14 Juni 1694. Dalam dokumen Kompeni Hindia Timur bertanggal 30 Oktober 1699 hari Jumat disebutkan:

Dua istri Syek Yusuf Kare Kontu dan Kare Pane, nama pembantu wanita Mu’minah dan Naimah. Anak-anak Syek Yusuf Muhammad Rajab, Muhammad Hayyi, Muhammad Jaelani, Raden Boerne, Ramlan, Aisyah, Jahamath, Care Sangie, Sanda, Sitti, Sitti Romia, dan Siti Habibah.

Nama-nama lain yang mengikuti beliau diantaranya, Pia, Boeleengh, Care Nanangh, Abidah, Hamidah, Sari, Bibi Aisyah, Daeng Maniko, Qasim, Kentol Saip, Ragoena, Abu Bahar, Adullah Al-Rauf dan Abdullah al-Jaffar. Syek Yusuf di Afrika Selatan dihormati oleh Guburnur Willem. Colvin bercerita dalam buku The Romance of South Afrika halama 165 mengatakan bahwa penghormatan terhadap orang-orang Melayu di Cape Town berlangsung selama 200 tahun. Komunitas Melayu di Afrika Selatan disebut orang-orang barat dengan istilah Slammajer.

Di Kaap Syek Yusuf menyatukan komunitas orang buangan dari Nusantara dan membentuk komunitas Muslim. Beliau menetapkan pengajaran agama, dan berdakwa pada orang-orang di sana. Ciri orang slammajer dulu memakai kopiah berjumbai. Syekh Yusuf mengamalkan tarikat khalwatiyah dan menguasai tiga tarikat lainnya.

Syekh Muhammad Yusuf al-Makassari al-Bantani wafat di Afrika Selatan, pada 23 Mei 1699 M, di Desa Macassar, 40 kilometer dari Cape Town. Di ceritakan oleh I.D. Plessis dalam bukunya Kaapse Maleier tot die Afrikaanse Volkslied (1935), letak makam Syek di Faure, disekitar daerah pertanian Zandvliet yang pada awalnya milik pendeta bernama P. Kalden. Terletak diatas bukit pasir yang terlihat dari jalur Easter River. Bukit-bukit pasir disana tetap dinamakan dengan Makassar Downs.

Para pengikut syekh Yusuf masih tinggal di sana sampai tahun 1704. Kemudian baru diatur pemulangan mereka ke Makassar. Kecuali yang sudah menikah tetap diizinkan tinggal di Kaap (Afrika Selatan). Komunitas yang tinggal tersebut kemudian menjadi awal dari komunitas Islam Melayu di Afrika Selatan sampai sekarang (2021).

Enam tahun kemudian setelah meninggalnya beliau, VOC membawa keranda jenazah beliau ke Makassar. Kemudian di makamkan di kampung halamannya, di Lakiung. Makam beliau baik yang di Afrika Selatan dan di Sulawesi selalu ramai dikunjungi orang berziarah.

Peninggalan beliau berupa 29 risalah yang dia tulis di Banten dan di Ceylon. Semasa beliau wafat banyak cerita tahayul yang tersebar di tengah masyarakat. Hal demikian disebarkan pihak Belanda untuk membodoh-bodohi umat Islam. Misalnya Syek Yusuf datang ke Afrika Selatan dengan terbang melayang di atas laut. Kemudian berbagai cerita tahayul yang dipercaya oleh kaum muslim awwam. Tersembunyi dari balik cerita tahayul adalah ilmu pengetahuan-ilmu agama Islam, dan perjuangan beliau.

Disusun: Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 2 Juli 2021.
Sumber: Abu Hamid. Syek Yusuf Makassar: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment