12/25/2020

Legenda: Sunan Kalijaga Atau Radem Mas Syahid

Apero Fublic.- Menurut cerita, Sunan Kalijaga adalah putra seorang Adipati Tuban, Wilatikta. Sewaktu muda beliau bernama, Raden Syahid. Raden Syahid berperawakan tegap dan besar, juga cerdas. Waktu itu, Raden Syahid memiliki ahlak yang buruk, suka mabuk-mabukan dan berjudi. Karena sudah tidak dapat dinasihati lagi. Raden Syahid diusir oleh ayahnya dari Kadipaten.

Bukan sadar, tapi Raden Syahid tambah menjadi, sekarang dia bergabung dengan berandalan-berandalan di hutan Lodaya.  Kehidupan berandalan di hutan Lodaya selalu merampok orang-orang yang lewat. Merampas apa saja yang dimiliki orang-orang. Raden Syahid pemuda yang lihai, tangkas, dalam segala hal.

Sehingga diapun menjadi pemimpin para berandalan. Kelompok mereka semakin mengganas. Bukan satu dua orang, sekelompk orang mereka sudah berani menghadang. Kelompok berandalan pimpinan Raden Syahid semakin terkenal dan ditakuti orang.

Pada suatu hari, lewatlah orang tua di hutan Lodaya. Melihat itu, langsung saja Raden Syahid dan beberapa orang anak buahnya menghadang. Mereka begitu meremehkan orang tua itu. “Serahkan harta bendamu kalau kau mau selamat.” Kata Raden Syahid dengan ganas. “Bekal makan saja saya tidak membawa. Apalagi harta yang berharga. Tapi, apabila kalian ingin harta kekayaan, ambillah emas yang tergantung di atas itu.” Jawab orang tua itu, seraya menunjuk ke atas pohon enau.

Saat Raden Syahid dan anak buanya melihat ke atas pohon enau. Mereka terkejut, buah pohon enau berkilau seperti emas. Sehingga mereka berusaha naik dan mengambil emas yang tergantung di atas pohon enau. Tapi saat mereka sudah turun, buah enau berubah kembali seperti semulah. Melihat itu, Raden Syahid sangat marah pada orang tua itu. “Coba lihat ke atas, bukankah masih banyak emas bergantungan, ambillah lagi.” Ujar orang tua dengan tenang. Raden Syahid dan anak buahnya bergantian naik mengambil emas tergantung itu. Tapi saat mereka turun dan buah emas itu berubah kembali menjadi buah enau. Mereka akhirnya menjadi lelah sendiri karena naik turun pohon enau.

Menyadari keadaan itu, mulailah Raden Syahid menyadari kalau orang tua dihadapan mereka bukan orang sembarangan. “Ketahuilah wahai anak muda, kalau semua ini adalah petunjuk Allah, kalau harta benda dan kekayaan yang kau kejar tidak kekal seperti buah enau yang kau petik. Lebih-lebih apabila kelak kau dipanggil Allah. Hanyalah sehelai kain kafan yang kau kenakan.” Kata orang tua itu.

Semuanya mulai tertarik dengan orang tua misterius itu. Percakapan terus berlanjut sampai mereka dapat bertanya nama satu sama lain. Baru mereka ketahui kalau orang tua itu adalah, Sunan Bonang.

Raden Syahid dan anak buanyanya menjadi sadar dengan kesalahan mereka. Mereka menerima dakwa Sunan Bonang. Belajarlah Raden Syahid dan anak buanya pada Sunan Bonang.

Setelah dirasa cukup, Sunan Bonang kembali hendak pergi untuk berdakwah. Anak buah Raden Syahid ada yang pulang ke desa mereka dan hidup menjadi orang baik. Ada juga yang tetap mengikuti Raden Syahid.

Raden Syahid pernah bertapa cukup lama. Dia menunggu janji Sunan Boang untuk kembali. Tapi Alkisah Sunan Bonang lupa sehingga tapa Raden Syahid di pinggiran sungai menjadi sangat lama. Sampai tubuh diliputi rumput dan akar tumbuhan merambat. Sehingga, Raden Syahid kemudian dijuluki, Sunan Kalijaga.

******

Raden Mas Syahid atau Sunan Kalijaga adalah pemuda yang cerdas dan mudah belajar. Sehingga semua yang diajarkan Sunan Bonang dapat dia serap dengan cepat dan baik. Selain itu, dia juga banyak belajar dengan Sunan yang lain dan menimba ilmu sendiri.

Sehingga Sunan Kalijaga memiliki ilmu yang tinggi, terutama ilmu agama Islam. Maka diapun kemudian mendirikan sebuah pesantren. Menyebarkan agama Islam dan menjadi ulama yang terkenal. Oleh karena itulah, dia kemudian menjadi salah satu dari Walisongo penyebar Islam di Jawa.

Perkembangan Islam yang pesat di Jawa telah membuat komunitas Islam kuat. Kemudian terbentuklah sebuah Kesultanan Pertama Islam di Jawa Tengah, yaitu Kesultanan Demak. Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Fatah dari Palembang putra Prabu Brawijaya raja Majapahit.

Semasa Palembang dibawa kekuasaan Majapahit setelah mengalami kekosongan pemerintahan dan dikuasai bajak laut. Oleh karena itu, Para Walisongo ingin membuat sebuah masjid di pusat pemerintahan, Kesultanan Demak.

Setelah musyawara para walisongo, masing-masing mendapat tugas memberikan satu tiang sakaguru atau tiang penopang atap. Semua mencari masing-masing, mulai dari Sunan Boang, Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Gunungjati, Sunan Drajad, dan Sunan Gresik.

Pada hari yang ditentukan Sunan Kalijaga belum juga memberikan tiang yang menjadi tugasnya. Padahal masjid hari itu sudah mulai didirikan. Sunan Kalijaga juga tidak mungkin lagi mengambil dari hutan. Sunan Kalijaga melihat bekas potongan-potongan pendek sisa membuat tiang dan sisa kerangka lainnya.

Dari sisa kayu atau tatal itulah, Sunan Kalijaga terpikirkan sesuatu. Apabila sisa-sisa kayu disatukan akan berbentuk sebuah tiang. Sunan Kalijaga kemudian mengikat sisa-sisa kayu itu dengan tali dari rumput.

Dengan kesaktiannya tiang dari sisa kayu atau tatal itu menjadi kuat. Saat diuji para Sunan lainnya, tiang itu baik digunakan. Sehingga salah satu tiang masjid Demak terbuat dari tatal kayu atau kayu sisa yang berukuran kecil-kecil.

Setelah masjid selesai, para wali kebingungan menentukan arah kiblat. Maka Sunan Kalijaga kemudian membetulkannya. Dengan tangan dan kanan dan kirinya kemudian dia membetulkan letak mihrab masjid Agung Demak. Sampai sekarang mihrab Masjid Agung Demak agak miring yang menghadap ke Kiblat di Mekkah.

Dikisahkan juga, saat membuat tiang dengan potongan tatal kayu. Sunan Kalijaga menemukan Orong-orong yang mati terkena tatal sehingga badannya putus. Hal itu membuat Sunan Kalijaga bersedih, kemduian dia berdoa pada Allah dan menyambung tubuh orong-orong dengan kayu.

Dengan kehendak Allah orong-orong itu hidup kembali. Sunan Kalijaga semakin dihormati umat Islam, sehingga dia sering diminta ikut musyawara tentang permasalahan Kesultanan Demak.

Suatu hari, Sunan Kalijaga pergi untuk berdakwah. Tibalah dia di sebuah daerah terletak diantara Semarang dan Demak. Dia melihat seorang perempuan yang berlari kencang. Berdesirlah hati Sunan Kalijaga, bukan sebab wajah si Wanita.

Tapi yang tersembunyi dibawa perut perempuan itu, ternyata pusaka Kesultanan Demak. Sunan Kalijaga mengikuti dari belakang, saat itu juga muncul seorang Perwira pasukan demak yang mengejar wanita itu. Perwira itu bertanya, dan Sunan Kalijaga memberitahu arah wanita itu lari.

Wanita yang melarikan pusaka Kesultanan Demak adalah seorang pertapa bernama, Nyai Brintik. Dia mencuri saat sedang ada perjamuan di Istana. Pusaka berupa dua bilah keris, yaitu Keris Kyai Sangkelat dan Keris Kyai Pasupati. Keris akan Nyai Brintik bawa pulang menuju Gunung Brintik.

Sunan Kalijaga yang dari tadi mengikuti dari belakang, sampai juga di kaki Gunung Brintik. Kemudian dia melihat, Nyai Brintik dan Seorang laki-laki sedang berkelahi hebat. Ternyata dia perwira Demak yang bertanya tadi. Lama-kelamaan sang perwira mulai terdesak kalah. Sehingga Sunan Kalijaga datang untuk membantu.

“Kisanak, hendaklah mundur sebentar, biarkan aku melawan.” Kata Sunan Kalijaga. Laki-laki itu mundur.

“Kau juga cari mati, ada apa kau datang ke Gunung Brintik?. Apa kau juga menginginkan pusaka Kesultanan Demak. Setan alaspun tidak akan mampu mengambilnya dariku.” Kata Nyai Brintik dengan berapi-api, marah dan meremehkan.

“Nyai Brintik, sebenarnya belum masanya kau memiliki pusaka itu. Ada baiknya kau kembalikan terlebih dahulu. Sebab apabila kau melanggar kau sendiri yang akan menyesal.” Ujar Sunan Kalijaga dengan lemah lembut. “Kau ingin mengambil pusaka Demak dariku. Langkahi dahulu mayatku.” Kata Nyai Brintik. “Kalau demikian baiklah, akan aku coba. Tiba-tiba Nyai Brintik diserang oleh orang yang tidak dikenal. Sedangkan Sunan Kalijaga dan Perwira Demak duduk istirahat menyaksikan Nyai Brintik yang bertarung hebat.

Sesungguhnya Nyai Brintik hanya berkelahi dengan sebatang pohon yang diciptakan Sunan Kalijaga menjadi menyerupai manusia, yang sakti. Lama-kelamaan Nyai Brintik menjadi lelah karena berkelahi terus tanpa henti. Betapa hebat musuhnya dalam pikiran Nyai Brintik.

Sementara Perwira Demak merasa heran melihat Nyai Brintik seolah-olah bertarung dengan sebatang pohon, menendang, menusuk. Nyai Brintik akhirnya menyerah dan mengaku kalah. Dia begitu malu kalau ternyata dirinya dari tadi berkelahi dengan sebatang pohon. Tampak batang pohon rusak dan terluka. Kemudian dia menyerahkan pusaka Kesultanan Demak.

Senjata dikembalikan kepada Sultan Demak. Nyai Brintik kemudin diangkatnya menjadi muridnya. Sunan Klaijaga terus berdakwah dan demikianlah sedikit cerita tentang Sunan Kalijaga. Makam Sunan Kalijaga terletak di Desa Kadilangu, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 1 November 2020.
Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Cerita Rakyat Daerah Jawa Tengah. Jakarta, 1982.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment