11/29/2020

Hikayat Putri Burung Kuau








Apero Fublic.- Alkisah pada suatu negeri memerintahlah seorang raja, didampingi permaisurinya. Negeri mereka damai, tentram dan sejahtera. Begitu juga di negeri jajahannya. Memiliki seorang putra mahkota bernama, Raja Muda. Pada suatu malam Raja Muda bermimpi bertemu dengan seorang nenek tua.

Di dalam mimpi itu, si nenek tua berkata pada raja muda. Kalau dia mau memiliki seorang istri. Maka datanglah kerumah Nenek Kabayan. Tandanya di halaman depan rumahnya ada pohon kelapa gading. Dari pohon kelapa itulah akan turun seekor burung Kuau dari kayangan. Karena sangat kuat keyakinan Raja Muda akan mimpinya. Keesokan harinya pergilah dia ke pantai di halaman depan rumah Nenek Kabayan.

Raja Muda berpikir bagaimana agar tidak diketahui oleh burung Kuau dari Kayangan keberadaan dirinya. Lalu dia menimbun tubuhnya dengan pasir dan tinggal wajahnya saja. Wajahnya kemudian dia tutup dengan tempurung kelapa yang berlobang. Sangkar burung yang dia bawa dari istana juga sudah dia siapkan tidak jauh darinya.

Lama Raja Muda bersembunyi dibalik timbunan pasir pantai. Kesabarannya membuahkan hasil akhirnya. Apa yang dikatakan nenek tua di dalam mimpinya ternyata benar. Tampak tujuh ekor burung Kuau terbang beriringan dan hinggap di atas pohon kelapa gading itu. Tampak begitu gembira burung-burung Kuau itu bermain.

Burung Kuau yang paling bungsu ingin sekali bermain di tepian pantai. Sehingga dia seorang diri turun ke pantai dan bermain-main sampai jauh. Enam kakaknya hanya memperhatikan dari atas pelepah kelapa gading. Melihat adiknya bermain di pantai, kakak sulung burung Kuau merasa khawatir dan gelisa. Untuk memperingakan adik bungsunya, sang kakak mendendangkan nyanyian.

Kuau....kuau.... kuanjang.
Jangan kautiti batang si lumbung padi.
Kuau kuanjang.
Adalah batang baru menjadi.
Kalau air dalam ada tikasnya.
Kalau batang ada tunggulnya.
Itulah batang si lumbung padi.
Itulah batang baru menjadi.
Kuau... kuau....kuanjang.

Si burung Kuau bungsu tidak mengerti maksud dari nyanyian kakak tertuanya. Saat itu, si Kuau bungsu terbang diatas pasir dan hingga diatas dimana Raja Muda bersembunyi. Dengan gerakan cepat tangan Raja Muda menyambar kaki burung Kuau bungsu. Raja Muda bangkit, dan si Kuau bungsu tidak dapat berbuat apa-apa, dia tertangkap. Kakak-kakak Kuau bungsu menangis sedih, melihat adik mereka tertangkap. Karena itu, mereka bernyanyi bersama.

Kuau....Kuau....kuauanjang.
Itulah adik kataku tadi.
Jangan kautiti batang si lumbung padi.
Adalah batang baru menjadi.
Kalau air dalam ada tikasnya.
Kalau batang ada tunggulnya.
Itulah batang si lumbung padi.
Itulah batang baru menjadi.
Tinggalah engkau adik dalam dunia.
Kami akan pulang ke kayangan.
Kuau....Kuau....kuanjang.

Raja Muda terlena mendengar merdunya lagu Kuau. Sedangkan Kuau Bungsu menangis sedih menyadari nasibnya. Raja Muda kemudian memasukkan Kuau Bungsu kedalam sangkar. Kemudian pulang ke istana dan sangkar burung kuau dia letakkan di ruang tengah istana.

Berhari-hari Kuau Bungsu sedih, tidak mau makan dan minum. Kuau Bungsu hanya termenung saja kesehariannya. Namun pada akhirnya, Kuau Bungsu menerima takdir jalan hidupnya. Diapun mulai makan dan minum seperti biasa.

Pada suatu malam burung Kuau Bungsu beruba menjadi manusia. Melepaskan kain bulu kuau diapun menjelma menjadi gadis yang sangat cantik, Putri Burung Kuau. Kemudian dia mencuci pakaian kotor Raja Muda. Lalu memasak makanan yang sangat enak dan membangkitkan selera makan. Setelah menghidangkan makanan di atas meja, gadis cantik itu kembali berubah wujud menjadi burung Kuau di dalam sangkar.

Keesokan paginya, Raja Muda bangun. Kemudian dia hendak pergi ke dapur untuk sarapan pagi. Belum sampai di dapur hidung Raja Muda mencium bau makanan yang sedap. Raja Muda kemudian memanggil dayang istana, Kak Kembang Kipas Cina. “Wahai Kak Kembang, masakan apa yang dimasak yang begitu menggoda selera makan.” Tanya Raja Muda.

“Maaf Pangeran, saya belum memasak, bahkan saya baru saja bangun dari tidur.” Jawan Kak Kembang. Raja Muda dan dayangnya merasa heran. Kejadian terus berulang-ulang, dan yang memasak tidak diketahui. Siapa yang memasak, membuat Raja Muda menjadi penasaran dan dia ingin tahu. Rasa penasaran membuat Raja Muda tidak bisa tidur. Tepat di tengah malam Raja Muda mendengar suara-suara, “kecepak-kecepek” berulang-ulang.

Raja Muda keluar kamarnya dan mencari asal suara tersebut. Tanpa sengaja matanya melihat ke arah sangkar burung kuau. Perlahan burung Kuau Bungsu berubah menjadi seorang gadis cantik yang tidak ada bandingnya. Kemudian Putri Burung Kuau itu melangkah menuju dapur, lalu dia memasak.

Melihat itu, Raja Muda bersembunyi. Setelah Putri Burung Kuau sudah di dapur. Raja muda menuju sangkar burung Kuau. Lalu mengambil sarung Burung Kuau dan dia sembunyikan diatas tiang kelambunya. Raja Muda kemudian kembali pura-pura tidur kembali. Ketika Putri Burung Kua kembali ke sangkarnya. Dia tidak menemukan kain sarung bulu miliknya di dalam sangkar. Karena hari sudah mendekati siang, Putri Burung Kuau malu sebab dia tidak berpakaian sedikitpun. Karena itu, dia bersembunyi dibalik tempayan di dalam kamar mandi.

Hari sudah siang sekarang, Raja Muda pura-pura tidak tahu. Dia juga pura-pura bertanya pada dayang istana, Kak Kembang. “Kak Kembang, kemana kiranya burung Kuau ku. Tidak ada di dalam sangkarnya.” Kak Kembang mejawab. “Ampunkan Patik, Raja Muda. Hamba kurang periksa, baiklah patik cari burung kuau.”

Saat Kak Kembang mencari burung kuau kesana kemari. Sampailah dia di kamar mandi dan melihat seorang gadis cantik bersembunyi dibalik tempayan air. Kak Kembang merasa heran dan kemudian dia bertanya. “Wahai adik cantik, apa gerangan kau berada disini, apa yang terjadi?.” Tanya Kak Kembang. “Wahai Kak Kembang, akulah Putri Kuau. Aku tidak menemukan sarung hamba, hilang entah kemana.” Jawab gadis cantik itu.

“Marilah kita menghadap, baginda Raja Muda. Sepertinya sudah lama menunggu hamba.” Ajak Kak Kembang. Saat tiba di hadapan Raja Muda, berdesirlah darahnya saat melihat kecantikan wajah Putri Kuau. Timbul hasratnya untuk menyunting Putri Kuau menjadi istrinya. Segera dia ingin meminta restu kedua orangtuanya. Maka, tidak lama kemudian pernikahan keduanya dilangsungkan. Raja Muda dan Putri Kuau hidup bahagia.

*****

Waktu berlalu dengan cepat, Raja Muda dan Putri Kuau telah mendapatkan anak dari buah cinta mereka. Seorang putra yang gagah perkasa dan tampan wajahnya. Keduanya sangat bahagia dan saling menyayangi. Suatu sore, keduanya sedang bersantai di taman bunga disekitar istana. Raja Muda bersandar di pangkuan istri tercinta, Putri Kuau. Entah mengapa Raja Muda teringat syair lagu burung kuau saat dia hendak menangkap burung Kuau di bawah pohon kelapa gading, di tepian pantai.

Syair lagu burung kuau yang sangat indah, sehingga Raja Muda ingin sekali mendengar syair lagu burung Kuau. Waktu itu, saat mendengar lagu Kuau Raja Muda terlena karena merdunya. “Wahai Dinda, ingin hati saya mendengar suara merdu dinda. Nyanyikanlah untuk Kanda lagu burung Kuau yang indah itu. Seperti nyanyian Kakak Kuau, diatas pohon kelapa gading.” Pinta Raja Muda.

“Aduhai Kanda, jangan Kanda meminta menyanyikan lagu Kuau itu, membuat hati Dinda menjadi sedih tidak tertahan. Lagi pula, nanti Kanda menyesal.” Jawab Putri Kuau. “Jangan Dinda takut, putra kita sudah menjadi pengikat cinta, cahaya mata.” Balas Raja Muda.

Kemudian Raja Muda kembali berkata. “Nyanyilah dinda, aduhai sayang ingin kanda mendengarkannya. “Tidak usalah dinda nyanyikan, berdiri bulu roma dinda, besok kanda menyesal.” Jawab Putri Kuau dengan berat hati. Akhirnya, karena desakan Raja Muda dengan berat hati Putri Kuau menyanyilan lagu kuau.

Kuau...Kuau kuanjang kata kakakku.
Jangan kautiti batang si lumbung padi.
Kuau...kuanjang adalah batang baru menjadi.
Kalau air dalam, ada tikasnya.
Kalau batang, ada tunggulnya.
Itulah batang si lumbung padi.
Itulah batang baru menjadi.
Kuau...Kuau.

Selesai Putri Kuau bernyanyi, tapi Raja Muda meminta untuk bernyanyi lagi. Raja Muda begitu menyukai alunan merdu lagu burung kuau. “Dinda, nyanyikan lagi.” Pinta Raja Muda. “Sudah Kanda, nanti Kakanda menyesal.” Jawab Putri Kuau.

“Adinda, mengapa adinda bernyanyi saja tidak mau.” Dengan berat hati, Putri Kuau bernyanyi dengan merdunya. Semakin lama semakin asik bernyanyinya. Sampai Raja Muda tertidur dibuai kemerduan suara nyanyian istrinya.

Tapi Putri Kuau tidak mau lagi berhenti bernyanyi. Suaranya semakin keras dan bernyanyi terus menerus. Bulu roma pendengar berdiri karena merdunya. Begitu juga bulu roma Putri Kuau. Tapi anehnya bulu roma putri kuau selai berdiri juga tumbuh dan tumbuh. Semakin lebat dan lebat lalu membalut seluruh tubuhnya. Putri Kuau kini berubah wujud kembali menjadi burung kuau.

“Duhai kakanda, bangunlah sayang, dinda hendak pergi pulang ke kayangan, tinggalah kakanda, tinggalah sayang. Jagalah baik-baik putra kita yang tersayang.” Kata Putri Kuau yang sudah berubah wujud menjadi seperti semulah. Hinggap diatas pohon jambu di halaman istana.

“Jangan, dinda. Jangan tinggalkan kanda, maafkan kanda.” Teriak Raja Muda penuh rasa penyesalan. Kemudian dia tebang pohon jambu sampai roboh. Putri Burung Kuau terbang ke atas pohon langsat yang lebih tinggi. Kemudian Raja Muda juga menebang pohon langsat sampai roboh.

Putri Burung Kuau kembali terbang ke atas pohon durian besar di belakang istana. Kembali Raja Muda menebang pohon durian sampai roboh. Kembali burung kuau terbang ke pohon di hutan. Raja Muda terus menebang pohon-pohon dimana Putri Burung Kuau hinggap.

Namun apa daya, semua sudah terjadi. Putri Burung Kuau yang telah berubah ke wujud aslinya terus pergi. Sekarang Putri Burung Kuau terbang kembali ke alamnya, dan tinggal di kayangan. Raja Muda menangis meraung-raung. Lalu tinggal penyesalan di dalam kehidupan Raja Muda yang keras kepala.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 29 November 2020.
Sumeber: Informan Tengku Subang, lahir di Perbaungan tahun 1899, beragama Islam, Melayu Langkat, jenis kelamin perempuan. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment