8/26/2020

Sastra Klasik: Mengenal Wawacan Barjah

Apero Fublic.- Wawacan adalah sejenis karya sastra prosa naratif yang ditulis dalam Bahasa Melayu Sunda. Sastra klasik wawacan dalam penulisan juga menggunakan sistem pupuh.

Pupuh adalah sub-sub judul yang monoton. Dimana pupuh atau judul sub bab juga digunakan pada karya sastra lainnya. Wawacan tersebar di Provinsi Jawa Barat, diantaranya Priangan. Berikut ini, ulasan tentang Wawacan Barjah.

Wawacan Barja termasuk salah satu wawacan populer di daerah Pengalengan. Wawacan Barja sering juga disebut dengan Carita Barjah. Dalam cerita wawacan ini, mengisahkan tokoh Barjah sebagai seorang pahlawan tanpa tandingan. Raden Barjah sebagai tokoh protagonis.

Dalam cerita dia lebih suka hidup mengembara demi mendapatkan kebahagiaan. Dalam pengembaraan tersebut dia mendapat banyak cobaan dan gangguan. Karena ketekunannya dalam belajar ilmu himah Raden Barjah berhasil mengatasi semua permasalahan dan hambatan. Dia kemudian mencapai kejayaan.

Wawacan Barjah ditulis dengan aksara pegon dengan Bahasa Melayu Sunda. Jalan cerita wawacan Barjah adalah cerita roman. Ciri cerita roman adalah menyuguhkan tokoh manusia super dalam suatu dunia ideal.

Dimana dalam jalan cerita Raden Barjah adalah manusia super dan populer. Setting lokasi cerita merujuk ke daerah Priangan. Kemudian digabungkan dengan lokasi piktif dan hayalan atau sahibulhikayat. Berikut cuplikan naskah klasik Wawacan Barjah.

Transliterasi kedalam aksara latin berbahasa Melayu Sunda.
Pupuh
Asmaran (dana).
1.Asmara (dana) bubuka kalih.
Landong sae kana manah.
Aoseun samemeh ebog.
Mepende anjeun heulaan.
Miceun galih kasungkawa.
Napsu teu kengeng diturut.
Lajengna sok lalamunan.
 
Kawitna anu digurit.
Ngaran nagri Sukadana.
Raja Pareman geus kahot.
Kersa ngawuruk ka putra.
Ka eta nama (ra) Den Barjah.
(ra) Den Barjah enggal disaur.
Barjah mando ngadeuheusan.
 
‘’Ama ayeuna pepeling.
Nu utama ka salira.
Ku Ujang masing kahartos.
Tengetkeun piwulang Ama.
Masing emut sawasna.
Cangreud dina tungtung rambut.
Simpen dine jero manah.

(......).

Berikut ini terjemahan kedalam Bahasa Indonesia.
Pupuh.
Asmara (dana).
1.Asmaradana pembuka hati.
Obat baik untuk pikiran.
Bacaan sebelum tidur.
Menghibur dulu engkau.
Membuang hati gundah gulana.
Nafsu tak boleh dituntut.
Membuat suka melamun.
 
Bagian awal yang ditulis.
Bernama negeri Sukadana.
Raja Pareman telah tua (pengalaman).
Hendak berwejang kepada putra.
Bernama Raden Barjah.
Raden Barjah segera dipanggil.
Barjah menghadap dengan sopan.
 
‘’Ayah sekarang berwejang.
Yang utama kepadamu.
Harap Ujang mengerti,
Ungatkan selama-lamanya.
Ikat erat di ujung rambut,
Simpan di dalam hati.

(........).

Naskah Wawacan Barjah terdiri dari 126 halaman. Wawacan ini ditulis sekitar pertengahan abad ke 19 Masehi. Naskah kemudian di salin oleh Aki Juhria. Menurut cerita beliau Wawacan barjah sudah ada sejak dia masih kecil. Saat memberi penjelsan didatangi peneliti dia sudah berumur 80 tahun, di tahun 1990-an.

Buku transliterasi Wawacan Barjah diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Apabilah Anda tertarik mengetahui lebih lanjut. Dapat mencari ke Perpustakaan Daerah di Seluruh Indonesia atau ke Perpustakaan Pusat di Jakarta. Bersampul warnah kuning dengan judul besar, Wawacan Barjah.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti. S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 25 Agustus 2020.
Sumber: Edy Sedyawati, Tommy Christomy, Eny Widiana. Wawacan Barjah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992/1993.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment