4/06/2020

Asal Usul Orang Madura Mengapa Makanan Pokoknya Jagung

Apero Fublic.- Pada suatu masa di Pulau Madura. Hiduplah seorang pemuda bernama Aryo Menak. Waktu itu, pulau Madura masih tertutup hutan lebat. Belum padat seperti sekarang. Hanya ada sebuah desa kecil di Pulau Madura. Di tengah hutan lebat terdapat sebuah danau. Konon kabarnya danau tersebut sering didatangi oleh para bidadari untuk mandi dan bermain di danau. Walau cerita telah diketahui penduduk desa. Namun tidak seorang pun yang pernah datang untuk mengetahui.

Aryo Menak saat itu adalah seorang pemuda yang gemar bertualang di hutan-hutan. Dia biasa berjalan di malam hari maupun di siang hari. Beristirahat sebentar, kemudian pergi saat lelah hilang. Suatu malam ketika bulan bersinar terang dan dia seperti biasa berpetualang di hutan. Dia melewati sebuah danau di dalam hutan itu. Waktu itu. aia sudah mengantuk dan ingin tidur. Dia mencari tempat peristirahatan untuk tidur. Namun perhatiannya berubah. Tiba-tiba tertarik oleh suara-suara wanita dan suara percikan air danau. Lalu Aryo Menak menuju tepian danau sambil mengendap-endap mengintip.

"Mungkinkah itu bidadari? Dia bertanya-tanya. Dia telah mendengar banyak cerita tentang para bidadari tetapi sampai saat ini belum pernah bertemu mereka. Dia bahkan belum pernah melihat satu pun. Sekarang seperti mimpi, bagaimana pun dia melihat. Dia cukup dekat dengan mereka, dan mengintip melalui pepohonan, dia melihat tujuh gadis muda yang cantik bermain riang dan mandi di danau.
"Mereka memang para bidadari!. Aryo Menak berbisik pada dirinya sendiri. Ketika dia melihat gadis-gadis dan pakaian mereka tersebar di sekitar pinggiran danau.

Aryo Menak tidak bisa berkata-kata saat melihat begitu banyak bidadari yang sangat cantik. Dia diam-diam supaya para peri tidak terbang pergi. Ingin memiliki salah satunya Aryo Menak berpikir. Dia diam-diam mendekati tempat di mana pakaian itu bertebaran. Lalu menarik mengambil salah satu selendang milik seorang bidadari itu, kemudian dia pergi.

Setelah beberapa waktu bermain dan mandi di danau. Para bidadari sudah tiba waktu untuk pulang. Tetapi, bidadari yang bungsu tidak dapat ikut pulang bersama. Dia tidak dapat menemukan selendangnya. Karena hanya dengan selendangnyalah dia bisa pulang kembali ke kayangan. Terpaksa bidadari itu tertinggal di danau berair jerni dan dingin itu. Tinggal seorang diri dia menjadi takut. Dia menangis, berkata. Tuhanku! apakah saya harus tinggal di dunia ini. Sekarang semua saudaraku saya pulang?. Keluh bidadari itu. Kemudian Aryo Menak meninggalkan tempat persembunyiannya dan menghampirinya.

"Bidadari sayang. Dia bertanya. Ada apa kamu menangis?. Tapi bidadari diam saja bahkan menoleh pun tidak. “Jangan takut, aku bukan orang jahat."Ujar Aryo Menak meyakinkan. "Saya kehilangan selendang saya dan saya tidak bisa pulang," Kata bidadari itu.

"Bidadari. Lanjut Aryo Menak. “Para bidadari mungkin bermaksud agar engkau tinggal di bumi ini. Ikut aku dan tinggal di rumahku. Aku akan menjadikanmu istriku dan aku akan menjadi suami yang baik, aku janji. Kata Aryo Menak.

Kemudian peri berkata pada dirinya sendiri; Pria itu mungkin benar. Saya bisa percaya padanya. Jika saya tinggal di sini di danau saya akan masuk angin dan sendirian. "Baiklah, kalau begitu. Aku akan pergi denganmu. Dia menjawab. Aryo Menak membawanya pulang dan menikahinya seperti yang dia janjikan.

Waktu berlalu kini bidadari itu menjadi istri Aryo Menak. Aryo Menak adalah salah satu orang terkaya di desanya. Dia memiliki sawah yang menghasilkan beras dalam jumlah besar setiap tahun. Tetapi meskipun dia sekarang memiliki seorang istri tanggungannya. Padi dan simpanan kekayaannya tidak berkurang-kurang. Alih-alih itu bertambah berlipat ganda. Dia sendiri tidak mengerti ini. Biasanya padi di bilik akan menjadi kurang.

Tetapi ada hal lain yang membingungkannya juga. Istrinya tidak pernah menumbuk beras yang tidak digiling, seperti yang dilakukan semua wanita lain di desa, namun dia memasak nasi di atas meja setiap hari setiap kali dia memasak nasi, dia biasa berkata kepadanya. Tolong jangan masuk dapur. Aryo Menak melakukan apa yang diperintahkan, tetapi lambat laun ia menjadi ingin tahu dan ingin mengetahui rahasianya. Suatu hari dia berkata; Aryo, aku pergi ke sungai untuk mencuci piring. Jangan masuk dapur.

Tak lama kemudian istrinya pulang. Dia menaruh cucian sudah dicuci supaya kering di bawah sinar matahari, lalu memasuki dapur. Tetapi ketika dia mengangkat tutup periuk nasi. Dia tidak melihat nasi seperti biasa. Periuk nasi tanpa bekas nasih menggelegak. Sama seperti saat ketika dia meninggalkan tadi.

"Kenapa masih sama?. Pikirnya, Dia bertanya-tanya. Lalu dia menunggu sebentar dan melihat lagi. Nasi tetap seperti itu.
"Ya ampun! Suamiku kau telah mendurhakai aku. Kau melanggar pantanganku. Tak kasihanka dirimu! Kini hilang sudah keajaiban hidupku!. Dia mengeluh. Aku harus menumbuk padi setiap hari. Kata Istri Aryo Menak.

Kemudian setelah beberapa saat dia berbesar hati. Berkata pada dirinya sendiri. “Jika tuhan berkehendak supaya aku bekerja keras. Tidak ada hal lain selain mentaatinya.

Sejak saat itu, Istri Aryo Menak menumbuk beras seperti yang dilakukan wanita desa biasanya. Tidak lagi memasak hanya setangkai padi secara ajaib. Jari-jari tangannya yang halus kini menjadi kasar. Begitupun padi di dalam bilik padi terus berkurang.

Waktu berlalu, akhirnya padi terus menyusut dan di bagian bawah tempat penyimpanan padi ditemukan sesuatu. Suatu hari ketika Istri Aryo Menak memasuki lumbung untuk menumbuk padi di lesung. Pada lapisan terakhir tumpukan padi. Dia menemukan selendangnya yang hilang dahulu. Ternyata disembunyikan Aryo Menak di dalam bilik padi dan dia lupa untuk memindahkannya. Saat melihat selendangnya itu, istri Aryo Menak merasa rindu rumah di kayangan. Terkenang masa-masa lalu dengan keluarga dan saudara-saudaranya sampai terakhir dia mandi di danau. Juga mengingat hari-hari yang dia habiskan bersama anak-anaknya, dan Aryo Menak.

"Aku akan bahagia ketika melihat teman-temanku lagi. Kata Istri Aryo Menak. Dia menghela nafas dan kemudian dia memutuskan untuk kembali. Pergi dari tempat di mana dia telah menjalani kehidupan susah. Sekarang bidadari istri Aryo Menak telah memiliki selendang terbangnya kembali. Segera setelah dia mengenakan selendangnya. Kakinya menjadi ringan dan terangkat meninggi dari tanah. Saat dia sudah terbang melayang tinggi, dia berteriak. “Aryo sayang, jika kamu ingin menemuiku dan rindu padaku. Maka pandanglah saja bulan. Pada saat bulan purnama, aku akan berada di sana.

Sambil menangis dengan air mata berlinang. Aryo Menak memintanya sang Istri untuk kembali. Tetapi semua sudah terlambat. Tangisannya tidak ada gunanya lagi. Sang Istri yang seorang bidadari kemudian terbang tinggi dan tinggi. Kemudian menghilang dibalik awan. Kembali ke kayangan dimana dia berasal.

Karena pemaksaan keingintahuan Aryo Menak tersebut. Menyebabkan istrinya kembali ke kayangan. Sehingga sejak saat itu, orang-orang Madura sampai saat ini. Mereka tidak menanak nasi atau memakan beras sebagai makanan pokoknya. Tapi mereka memilih makanan lain, yaitu Jagung. Karena mereka adalah keturunan dari Aryo Menak.

Rewrite. Apero Fublic
Editor. Selita. S. Pd.
Palembang, 7 April 2020.
Dra. S. D. B. Aman. Folk Tales From Indonesia. Djambatan. Jakarta, 1995.
Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment