e-Galeri Apero Fublic

Galeri adalah ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni. Di dalam galeri tersimpan berbagai karya seni bernilai tinggi. Galeri mirip dengan musium, perbedaannya terletak pada jenis benda simpanan. Kalau galeri memuat karya-karya seni dan kadang juga sudah ada yang bernilai sejarah. Kalau musium memuat atau menyimpan benda-benda bersejarah, baik yang memiliki nilai seni atau yang tidak memiliki nila seni.

Bagaimana dengan e-galeri, e-galeri adalah tempat menyimpan foto-foto atau sketsa yang memiliki nilai seni, nilai budaya, nilai keilmuan, atau foto-foto yang hadir sebab ciptaan manusia berwujud benda-benda. e-Galeri foto dimuat dengan keterangan singkat yang menjelaskan foto-fotonya. e-Galeri berarti elektroni galeri yaitu suatu galeri yang terdapat di media eletronik, sehingga dapat di lihat dari sisi eletronik dengan memiliki jaringan internet.

Syarat membuat foto pada e-Galeri, foto harus ciptaan sendiri. Seandainya itu benda cagar budaya harus ada izin dari pemilik atau pengelolah, baik tertulis atau lisan. Hak cipta pengirim tetap milik pengirim, maka setiap pengirim akan dicantumkan namanya di foto kirimannya. Kalau foto dari suatu tempat cagar budaya juga harus di muat keterangannya. Pada e-Galeri Apero Fublic ini akan dimuat foto-foto benda hasil kebudayaan masyarakat Indonesia.

1. Jenis Kubah Masjid di Kota Palembang 2018.
Jenis-jenis atap kubah masjid di Kota Palembang. Juga 80 kubah masjid di Indonesia menggunakan jenis-jenis kubah di atas. 1. Kubah masjid setengah lingkaran. Kubah ini pengaruh kubah Turki. Masuk Indonesia semasa Kepemimpinan Presiden Soekarno. Masjid pertama yang menggunakan adalah Masjid Istiqlal Jakarta. Untuk nomor 2. 3. 4 adalah jenis kubah bawang. Hanya penempatan yang berbeda. Ada yang satu kubah, lima kubah atau lebih.

2. Atap Masjid Tradisional di Indonesia
Sketsa diatas adalah sketsa atap masjid tradisonal Indonesia. Secara umum tersebar di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara. Nomor 1. Adalah sketsa atap masjid atap mustaka. Kata mustaka berarti kepala dalam bahasa Jawa. Atap mustaka memiliki tiga ciri khas persebaran wilayah. Atap masjid ini diindikasikan pengaruh masjid arsitektur Cina.

Nomor 2. Adalah sketsa atap masjid dengan istilah undak atau tumpang. Istilah ini diambil dari sistem bangunan kebudayaan purba Indonesia yaitu punden berundak. Wilayah sebaran meliputi Jawa Timur sampai ke NTB, Sulawesi. Nomor 3. Sketsa atap masjid tradisioanl dengan sebutan Atap Tajuk. Tajuk berarti tegak tinggi. Sebaran atap ini banyak di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya.

3. Atap Masjid Tradisional Mustaka
Sketsa atap masjid di atas adalah sketsa bentuk-bentuk atap mustaka di Indonesia. Nomor 1. Sketsa bentuk atap Mustaka Sumatera Selatan yang hanya ada di Sumatera Selatan. Sebelumnya ada terdapat di Bangka Belitung. Namun dua masjid telah di pugar dan menghilangkan bentuk aslinya. Nomor 2. Adalah sketsa atap mustaka Kalimantan dengan wilayah sebaran di Kalimantan, Sulawesi, Maluku. No. 3. Sketsa atap mustaka Pulau Jawa yang tersebar di seluruh pulau Jawa terutama di Jawa Tenga dan Jawa Barat.

4. Bentuk Atap Masjid di Kota Palembang 2018
Sketsa di atas adalah sketsa jenis-jenis dan bentuk-bentuk atap masjid yang terdapat di Kota Palembang. Ditemui ada sebelas jenis bentuk pola atap yang tidak beraturan. Namun fenomena sekarang atap-atap masjid di Kota Palembang bertransformasi ke jenis atap kubah. Meninggalkan bentuk atap tradisional dan atap masjid rekayasa dari Yayasan Pancasila dari zaman Orde Baru.

5. Songket Melayu Palembang
Songket Palembang adalah budaya tenunan kain yang sudah ada sejak zaman Kedatuan Sriwijaya. Sekarang ada tiga jenis yang songket palembang. Yaitu songket nyino, rakan, dan malepus.

6. Sangkar Pemeliharaan Burung Puyuh
Sangkar burung puyuh. Masyarakat Melayu khususnya di Sumatera Selatan memiliki budaya memelihara burung puyuh. Gambar di atas adalah bentuk dari sangkar khusus memelihara burung puyuh. Burung puyuh yang dipelihara adalah yang betina.

Karena burung puyuh yang betina yang kuat dan petarung. Saat burung puyuh wanita bertelur yang mengerami telurnya adalah burung puyuh jantan. Sehingga muncul suatu istilah atau pepatah lanang puyu atau lelaki yang bermental wanita atau kasarnya laki-laki pengecut.

7. Guci Pasu
Guci pasu adalah jenis atau nama gerabah yang digunakan masyarakat zaman dahulu menyimpan beras. Luar biasa memang, kita sering berpikir kalau hal di zaman dahulu adalah kuno. Namun, apabila kita perhatikan. Teknologi orang zaman dahulu jauh lebih unggul daripada teknologi industri seperti sekarang. Menyimpan beras di dalam gerabah seperti itu. Membuat beras tidak lembab, tidak berkutu, dan tahan lama.

8. Pondok
Pondok. Instilah pondok pada masyarakat untuk membedakan jenis bangunan tempat tinggal. Pondok berupa bangunan sederhana terbuat dari bahan sederhana juga. Sedangkan rumah adalah bangunan tempat tinggal yang teknologinya lebih baik dari pondok.

9. Ukiran Tradisional Rumah Panggung Basepat
Ukiran Melayu tradisional yang selalu menghiasi pada rumah-rumah panggung tradisional terutama rumah panggung tipologi basepat. Atau rumah panggung yang memiliki ciri lantai yang bertingkat mirip anak tangga. Ciri ukiran bunga-bunga dan dedaunan.

10. Rumah Panggung Basepat
Foto diatas ini adalah bentuk rumah panggung tipologi basepat. Perhatikan lantai rumah yang meningkat sebanyak tiga kali. Kemudian menurun pada bagian lantai dapur.

11. Rumah Panggung Malamban
Foto rumah ini adalah bentuk rumah panggung tipologi malamban. Perhatikan bagaimana lantainya dari depan sampai ke dapur sama tidak naik turun seperti rumah panggung basepat. Rumah panggung tipe malamban ini bentuk perkembangan ketiga dari bangunan tempat tinggal masyarakat Melayu (pondok, panggung basepat, panggung malamban).

12. Rumah Panggung Kotemporer

Rumah panggung kotemporer adalah bentuk perkembangan keempat dari bangunan rumah tinggal masyarakat Melayu. Rumah panggung kotemporer bercirikan, bentuk yang bebas, tinggi renda yang bebas, miskin seni, dan bentuk minimalis.

13. Peti Besi
Peti besi ini adalah tempat penyimpanan barang berharga orang-orang zaman dahulu. Peti besi ini eksis di abad ke-18 sampai pertengahan abad 20. Kemudian peti besi menghilang saat industri lebih maju. Seperti di ganti dengan brangkas yang lebih maju teknologinya. Faktor lainnya munculnya perbangkan sebagai tempat penyimpanan uang. Negara yang sudah dapat memproduksi peti besi masa itu. Negara-negara eropa seperti Jerman, Inggris, Rusia dan Jepang.

14. Lemang
Lemang adalah makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan. Kemudian di tambah santan dan gula atau garam. Di masak dengan menggunakan wadah bambu lalu di bakar disekelilinya. Sampai bambu garing menghitam. Pengertian kata, awalan ma berarti melakukan atau membuat. Jadi malemang bermakna membuat lemang.

Malemang adalah kegiatan budaya di suatu wilayah di kawasan berbudaya Melayu. Seperti dalam pesta rakyat di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin. Masyarakat di sini membuat lemang dan dibagi-bagikan pada keluarga, teman dan pengunjung yang datang di hari pesta rakyat, Malemang.

15. Benda-Benda Keramat Puyang Dulu.
Benda-benda yang keramat oleh juru kunci Keramat Puyang Dulu. Yaitu, tepak siri beserta perlengkapannya, dua buah kendi air, parang. Pada kendi besar terdapat wadah yang terbuat dari kuningan. Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin.

16. Tikung
Tikung adalah jenis kerajinan tangan yang dibuat dari kulit batang tumbuhan sejenis tebu-tebuan dengan nama lokal, langkanang. Penulis belum mengetahui nama ilmia dari tumbuhan tersebut. Selain langkanang, tikung juga dibuat dari olahan bambu. Fungsi tikung untuk wadah menjemur atau wadah menghampar. Misalnya untuk wadah sayur atau buah-buahan, dahulu dan sekarang.

17. Kendi Sarat
Kendi Sarat adalah jenis gerabah yang dibuat khusus untuk sarat dalam membangun rumah. Orang Melayu memiliki kebiasaat sarat. Sarat berati suatu cara untuk menangkal sesuatu dengan memberikan atau meletakkan sesuatu di tempat tertentu. Sudah biasa paham tahayul ini mendara daging di dalam jiwa masyarakat Melayu.

Sarat dalam artian disini berbeda dengan kata syarat dalam bahasa Indonesia. Sarat dalam pengertian ini adalah penangkal atau anti sesuatu sesuai dengan harapan. Kendi sarat ini biasanya yang percaya. Akan di gantung di kerangka atap paling atas, talambungan. Sebelumnya kendi diisi dengan air jernih. Harapan dari penggantungan kendi; supaya keadaan rumah tangga mereka aman, tentram, jauh dari balak, di dalam rumah sabar dan pengertian.

Dari hal menggantung kendi dan harapan mereka. Maka, di sebut dengan sarat (anti, agar, supaya). Sarat dengan jimat hampir sama. Jimat di pakai manusia sedangkan sarat digunakan untuk benda-benda atau aktivitas. Misalnya mereka memasang sarat dengan meletakkan bulu harimau pada pagar ladang. Dengan demikian, mereka percaya babi tidak akan mau masuk ke ladangnya.

18. Nyirau
Nyirau adalah hasil kerajinan tangan masyarakat Melayu. Bahan dasar pembuatan kulit bambu bagian sembilu (luar), dan rotan untuk pengeras sisi atau apit istilah masyarakat menyebutnya. Fungsi nyirau untuk menempi atau membersihkan padi saat di irik. Irik adalah istilah pengolahan buah padi yang masih melekat di tangkainya sampai bersih. Sehingga yang tinggal hanya butiran padi saja.

Fungsi nyirau disinilah untuk menempi dan membersihkan sisa gagang padi dan butir padi ampe. Padi ampe adalah butir buah padi yang tidak berisi, ringan. Saat di tempi melayang jatu. Begitupun nyirau juga berfungsi untuk membersihkan beras. Sebagai wadah dan wadah pengangkut. Nyirau terdapat di setiap rumah tangga orang-orang Melayu.

19. Bubu
Bubu adalah jenis kerajinan untuk menangkap ikan di sungai. Memasang bubu di sungai menggunakan pepa bubu. Berupa bangunan seperti pagar yang melintang memotong badan sungai dari sisi tebing ke tebing seberangnya.

20. Bunang

Bunang jenis kerajinan yang dibuat untuk mengangkut, terutama mengangkut padi hasil panen. Bunang dianyam rapat berbahan bambu dan dibuat dengan beberapa ukuran, kecil, sedang, dan besar. Ukuran terbesar besar satu setengah meter.

21. Parut Besi
Parut besi adalah jenis parut yang sudah lama keberadaannya. Berabad-abad ibu-ibu ditemani parut ini dalam mengolah bumbu masakan.

22. Guci
Guci memiliki fungsi sebagai wadah, seperti wadah air, beras, makanan, dan penyimpanan uang koin. Guci terdiri berbagai bentuk, baik yang produksi lokal atau inpor.

23. Kukur Kelapa
Kukur kelapa adalah alat untuk memisahkan tempurung dan isi daging buah kelapa.

24. Loyang Kuningan Bolong
Loyang kue bolong adalah andalan iu-ibu zaman dulu saat membuat kue di bulan puasa dan menjelang hari raya.

25. Loyang Kuningan

26. Kuali Besi
Kuali besi sesuai namanya terbuat dari besi. Perabotan rumah tangga masa lalu yang sangat berat. Butuh tenaga ekstra untuk mengangkatnya. Lima belas menit sebelum memasak kamu harus menanaskan kuali terlebih dahulu di tungku api.

27. Bubu Palupu.
Bubu palupu sesuai namanya yang terbuat dari palupu atau bulatan batang bambu yang dihancurkan tapi tetap menyatu. Palupu kemudian dianyam pada kerangkah bulat dan injap. Injap adalah nama jebakan ikan di dalam bubu dibuat seperti lidi, lalu dianyam berbentuk kerucut dengan ujung runcing. Dipasang dengan umpan tenggil, yaitu sarang berbentuk bulat banyak terdapat di dalam hutan. Kemudian sarang semut dibakar. Bubu ini untuk menangkap udang dan ikan depu. Saat memasang waktu air naik dengan cara ditali dengan rotan panjang lalu dilemparkan ke dalam sungai.

28. Tangguk
Tangguk adalah nama jenis anyaman yang khusus untuk menangkap udang kecil di sungai. Tapi juga dapat untuk menangkap ikan dan ikan mukus. Ikan mukus adalah jenis ikan teri sungai. Biasanya ikan ini bergerombolan berenang di pinggir aliran sungai.

29. Guci Parabung
Guci Talambungan itulah nama jenis guci ini, pada masyarakat Melayu Sekayu. Dinamakan demikian karena guci ini digunakan sebagai anti atau syarat berkah. Penduduk percaya apabilah guci ini diisi dengan air, lalu digantungkan di kerangka atas atap rumah saat pembangunannya. Akan memberikan semacam berkah dimana keluarga yang mendiami rumah tersebut akan tentram dan damai. Talambungan nama kerangka atap paling atas dan paling tengah.

30. Sitok
Sitok adalah sejenis wadah air minum. Tapi juga berfungsi sebagai pemanas air. Sitok terbuat dari kuningan, salah satu perabotan rumah tangga zaman duluh. Sitok sering dibawa ke hutan oleh penduduk, saat mereka berburu, mencari ikan, atau mencari buah-buahan. Prajurit juga sering membawa sitok untuk keperluan mereka di hutan. (foto oleh. Seniana).

31.Mandau Adat
Mandau berarti parang dalam bahasa Indonesia. Mandau adat adalah sejenis senjata tradisional tapi hanya digunakan dalam prosesi adat pernikahan pada masyarakat Melayu Sekayu, terutama di Kecamatan Sungai Keruh. Mandau atau Parang yang berukuran sekitar sepuluh sampai limabelas senti meter, berbentuk melengkung dan menyerupai parang.

32. Pondok Anjing Meraung.
Pondok anjing meraung adalah bentuk bangunan sederhana yang di umpamakan anjing yang sedang duduk melolong. Mungkin kamu pernah melihat srigala di film duduk lalu melolong. Melolong dalam bahasa Melayu Sumatera Selatan adalah meraung. Kemungkinan pondok anjing meraung juga bentuk perkembangan awal dari bangunan tempat tinggal manusia di Asia Tenggara.

33.Wali
Wali adalah alat untuk mengolah bahan anyaman, seperti menghaluskan, membelah, merapikan. Wali kadang digunakan untuk memotong benda-benda lainnya.

34. Saringan Batu
Saringan batu atau penyaring air dari batu adalah alat penjernih air masyarakat pada zaman dahulu. Terbuat dari batu alam yang keras. Masyarakat menyaring air dengan batu untuk mendapatkan air yang bersih dan jernih. Hasil saringan dari batu airnya sangat jernih dan dapat langsung diminum. Proses penyaringan lambat dan lama karena mengandalkan penguapan air dari batu.

Saringan air dari batu diletakkan pada tempat yang lebih tinggi dan pada bagian bawah diletakkan wadah penanmpung air seperti baskom. Pada bagian dalam batu yang dijadikan saringan tentu dilobangi untuk memasukkan air yang akan dijernihkan. Lalu air perlahan akan menetes dari ujung batu saringan. Pada zaman dahulu hampir setiap rumah memiliki saringan air dari batu ini. Saringan air dapat menjernihkan air sungai yang keruh sekali pun. Alat saringan air dari batu ini, kemungkinan berasal dari zaman megalitikum sezaman dimana manusia menemukan lumpang batu.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti. S. Sos
Editor II. Selita. S. Pd.
Palembang, 17 April 2020.
Catatan:
Bagi sahabat semua dapat menyumbangkan foto-foto benda kebudayaan ke Apero Fublic sebagai bentuk publikasi kebudayaan sekaligus dokumentasi kebudayaan Indonesia. Dengan di publikasikan masyarakat akan tahu dan mengenal. Begitupun dengan orang-orang yang melakukan studi ilmiah tentang kebudayaan akan mendapatkan referensi atau rujukan data dalam meneliti. Kirim ke email redaksi Apero Fublic. www.fublicapero@gmail.com.

By. Apero Fublic