6/29/2019

Problematika Prilaku Destruktif Pada Anak Usia Dini

Apero Fublic.- Pendidikan anak usia dini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003  adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukn kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan rohani  agar anak memiliki kesipan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Tujuan utama taman kanak-kanak adalah membantu mepengakuan, meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, perilaku, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan oleh anak dalam pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Dalam tumbuh kembangnya, anak usia taman kanak-kanak selalu mengikuti irama perkembangannya. Pada masa usia ini disebut juga dengan istilah masa keemasan (golden ages).


Pada umumnya aspek perkembangan anak usia dini ada enam, yaitu aspek perkembangan nilai agama dan moral, aspek perkembangan fisik motorik, aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan sosial-emosional dan aspek perkemabangan bahasa, serta yang terakhir aspek perkembangan seni.

Dalam setiap aspek tersebut terdapat masalah-masalah atau gangguan-gangguannya atau yang disebut psikopatologi karena istilah ini sebenarnya berarti kajian tentang perilaku abnormal ata gangguan mental, namun sering sering juga dipakai dengan istilah lain bagi kedua istilah tersebut.

Berdasarkan apa yang telah kita ketahui bahwa nilai agama dan moral merupakan masalah yang sangat penting karena menyangkut keaman, ketertiban dan kesejahteraan hidup individu dan masyarakat. Sehingga masalah gangguan agama dan moral harus mendapatkan perhatian yang cukup intens. Terutama bagi para pendidik, orang tua, ulama dan masyarakat atau ahli terapi.

Beberapa macam masalah atau gangguan yang terdapat dalam nilai agama dan moral seperti gangguan pervasif anak yang IQ di bawah 70, gangguan dalam berinteraksi dengan lingkungan, keterlambatan dalam perkembangan tumbuh kembang individu dan gangguan perilaku destruptif.


Perilaku distrutif pada anak seringkali dijumpai dlam kehidupan sehari-hari. Gangguan ini ditandai dengan anak-anak kurang memahami aturan sosial dan menunjukkan perilaku menentang pada berbagai situasi. Misalnya, saat tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, anak berteriak atau memukul orang lain.

Hal ini menunjukkan kekurang mampuan anak dalam memahami situasi sosial dan kecenderungan untuk melakukan kondisi yang tidak menyenangkn bagi orang lain. Pada penelitian ini, peneliti mengamati bahwa perilaku distruptif ini dapat kit pahami bahwa perilaku yang dapat mengggagu orang lain.


Menurut Mathys & Lochman, distruptive behavior atau disebut perilaku distruptif yaitu prilaku yang tidak pantas, jika perilaku tersebut sering muncul, tidak hanya hubungan seorang anak dengan sesama temannya saja yang terganggu, melainkan dengan orang dewasa itut terganggu.


Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku distruptif merupakan suatu perilaku yang menyimpang dari perilaku pada umumnya yang dapat mengganggu dan merugikan orang lain bisa juga disebut dengan tindak kriminal. Ada empat faktor penyebab terjadinya perilaku distruptif pada seseorang, terutama pada anak-anak, yaitu :


1. Faktor genetik atau biologis.
Faktor genetik menjadi dasar karakteristik seseorang atau presdisposisi. Berdasarkan dari perbedaan jenis kelamin, dinyatakan bahwa anak laki-laki lebih distruptif dibanding anak perempuan.


2. Faktor Keluarga.
Terkait dengan disfungsi orang tua dalam mengasuh anak. Orang tua pengaruh besar terhadap perkembangan tingkah laku dan emosi anak-anak mereka, dan beberapa cara pngasuhan yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah pada anak.


3. Faktor Lingkungan.
Faktor lingkungan atau keadaan di sekitar seseorang yang terkait dengan sosial ekonomi rendah atau kemiskinan, juga dapat menyebabkan perilaku ini sehingga memunculkan permasalahan perilaku antisosial.


4. Akibat Trauma.
Akibat trauma juga menjadi faktor penyebab dari perilaku ini, karena pada dasarnya setiap orang akan mendapat pelajajaran dari peritiwa yang telah dialaminya.


Keempat faktor tersebut sangat merupakan faktor penyebab munculnya perilaku distruptif pada anak maupun remaja menuju dewasa, karena pada dasarnya perilaku ini, sangat mengganngu orang lain untuk mendaptkan perhatian.


Jadi kesimpulan dari hasil penelitian tentang agangguan perilaku distruptif yang pernah saya teliti di sebuah RA pada kelompok bermai B usia 5-6 tahun di Palembang, pada umumnya pola perilaku gangguan distruptif pada anak ini ditandai dengan adanya tingkah laku anak yang tidak seperti pada umumnya.

Seperti suka marah secara tiba-tiba, mengamuk, merengek atau menangis yang berlebihan, menuntut perhatian, tidak patuh, melawan, melakukan agresivitas yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain, mecuri, berbohong, merusak brang dan kenakalan.


Perilaku destruptif dapat juga di atasi walaupn tidak semaksimal mungkin namun setidaknya anak tersebut dapat bersosiisasi dengan lingkungan, berikut cara mengatasi anak yang berperilaku distruptif yaitu dengan cara belajar sambil bermain dan bermain peran, dan lain sebagainya yang dpat menimbulkan peningkatan perkembangan anak.

Penanganan secara dini perlu diterapkan pada kasusu-kasus perilaku distruptif, yakni dengan pemberian tritmen secara segera, yaitu ketika perilaku distruptif dideteksi dimasa prasekolah atau sekolah dasar. Adapun kaidah pembelajaran untuk membantu anak berpetilaku ini adalah:


a.  Belajar Sambil Bermain.
Guru menyediakan aktivitas dalam pembelajaran, seperti teka teki silang kata, oleh karena itu anak yang mempunyai tingkah laku distruptif akan tertarik untuk terlibat sama dalam kegiatan pemebelajaran.


b. Main Peran.
Melibatkan tokoh dan anak diminta menjadi tokoh yang memainkan peran tersebut akan tertarik dan guru akan merumuskan di akhir pembelajaran.


Demikianlah sedikit buah pena saya, semoga bermanfaat, saran dan krtiknya  yang membangunan saya nantikan. Kurang dan lebihnya saya mohon maaf.

Oleh: Eva Diana.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 9 Deseber 2018.
Sumber foto. Eva Diana.
NIM. 1652710011. Mahasiswi UIN Raden Fatah Palembang. Program Studi Pendidikan Islam anak Usia Dini angkatan 2016.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment