Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Seruan yang Terlupakan: Agama yang Mengajak Kita Berpikir
APERO FUBLIC I FILSAFAT.-- Di tengah derasnya arus informasi saat ini, kemampuan berpikir sering kali kalah cepat dibandingkan dengan kebiasaan bereaksi. Begitu membuka ponsel di pagi hari, kita langsung disambut oleh berita, opini, potongan video, dan komentar yang terus bergerak tanpa henti.
Banyak informasi yang hanya lewat begitu saja: dibaca sekilas, dipercaya, lalu dibagikan. Bukan karena masyarakat tidak mampu berpikir, tetapi karena semuanya berjalan terlalu cepat sehingga kita jarang memberi ruang untuk benar-benar memahami.
Fenomena ini perlahan-lahan membentuk kebiasaan baru.
Orang lebih takut ketinggalan informasi daripada salah memahami informasi itu sendiri. Judul yang sensasional lebih mudah menarik perhatian dibandingkan dengan isi yang mendalam. Akibatnya, hoaks, salah paham, dan penilaian sepihak menjadi hal yang semakin biasa ditemui, terutama di media sosial.
Padahal, dalam ajaran Islam, berpikir bukan sekadar kemampuan, melainkan bagian dari kesadaran. Seruan “Afala tatafakkarun” hadir sebagai ajakan untuk merenung, mempertanyakan, dan memahami sesuatu dengan lebih utuh. Di titik inilah, pemikiran kritis menjadi relevan untuk dibicarakan kembali, bukan hanya sebagai konsep akademik, tetapi juga sebagai sikap dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
Critical Thinking: Seruan yang Perlahan Terlupakan
Di tengah derasnya arus informasi saat ini, manusia semakin terbiasa menerima segala sesuatu dengan cepat tanpa benar-benar memahami. Berita dibaca sekilas, opini langsung diterima, lalu disebarkan begitu saja. Akibatnya, hoaks, kesalahpahaman, dan penilaian sepihak menjadi hal yang semakin umum. Padahal, masalahnya bukan karena manusia tidak mampu berpikir, tetapi karena jarang memberi kesempatan untuk berpikir lebih dalam.
Di sinilah seruan “Afala tatafakkarun” kembali terasa relevan. Agama sejak awal tidak hanya mengajarkan untuk percaya, tetapi juga mengajak manusia untuk menggunakan akal dan mempertimbangkan sesuatu dengan jernih. Dalam konteks saat ini, hal ini sejalan dengan pemikiran kritis: tidak langsung percaya, berani mempertanyakan, dan memahami sesuatu sebelum bereaksi.
Mungkin yang mulai hilang saat ini bukanlah kemampuan berpikir manusia, melainkan kebiasaan untuk berhenti sejenak dan merenung. Oleh karena itu, berpikir kritis bukan hanya kebutuhan akademis, tetapi juga bagian dari kesadaran dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Tafakkur dan Kebiasaan Memahami
Seruan untuk berpikir dalam Islam sebenarnya tidak hanya terbatas pada ilmu atau pengetahuan, tetapi juga pada cara manusia memahami kehidupan. Konsep tatafakkur mengajarkan bahwa seseorang seharusnya tidak terburu-buru dalam menilai sesuatu. Ada proses merenung, mempertimbangkan, dan memahami dengan lebih mendalam sebelum mengambil kesimpulan.
Di zaman sekarang, kebiasaan seperti ini mulai jarang terlihat. Banyak orang lebih cepat memberikan respons daripada memahami konteks. Potongan informasi sering kali langsung dijadikan dasar penilaian, padahal belum tentu mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Akibatnya, kesalahpahaman mudah terjadi, bahkan dari hal-hal kecil.
Di tengah situasi seperti ini, tatafakkur menjadi semakin penting di era digital. Bukan hanya sebagai konsep keagamaan, tetapi juga sebagai sikap sederhana untuk lebih tenang dalam menerima informasi, lebih hati-hati dalam menilai, dan tidak mudah terbawa arus yang bergerak terlalu cepat.
Ruang Kembali untuk Berpikir
Di tengah kehidupan yang serba cepat saat ini, manusia sering kali lebih sibuk mengejar informasi daripada memahami maknanya. Kita terbiasa membaca dengan cepat, bereaksi segera, lalu beralih ke hal lain tanpa sempat benar-benar merenung. Padahal, tidak semua hal harus ditanggapi dengan cepat. Ada kalanya seseorang justru memerlukan jeda agar bisa melihat sesuatu dengan lebih jelas.
Seruan “Afala tatafakkarun” terasa seperti pengingat yang sederhana, tetapi dalam maknanya. Ia mengajak manusia untuk tidak hidup hanya mengikuti arus, melainkan tetap memberi ruang bagi akal dan hati untuk memahami. Bukan untuk menjadi orang yang paling pintar, tetapi agar tidak mudah terjebak pada prasangka, emosi sesaat, atau informasi yang belum tentu utuh.
Mungkin dunia memang akan terus bergerak semakin cepat. Informasi akan terus datang tanpa henti, pendapat akan terus berseliweran setiap hari. Namun setidaknya, manusia masih bisa memilih satu hal penting: tidak kehilangan kebiasaan untuk berpikir sebelum percaya, memahami sebelum menilai, dan merenung sebelum bereaksi.
Oleh : Syaifroza Hanum Alvarezy
Mahasiswa Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment