Resensi Buku Karya Nyarwi Ahmad, PhD Tentang Cara Lembaga, Pemimpin, dan Komunikator Memahami Public
APERO FUBLIC I Buku ini berjudul, Dasar-Dasar Komunikasi Publik, yang ditulis oleh Nyarwi Ahmad, PhD. Diterbitkan oleh Nas Media Pustaka bekerja sama dengan Indonesian Presidential Studies. Cetakan pertama pada Desember 2021, kedua, Maret 2022. Fisik buku dengan Tebal : xiv + 310 halaman; 15,5 x 23 cm. Memiliki ISBN : 978-623-351-341-8.
Berbicara di depan publik, lembaga, organisasi, dan para pemimpinnya kini hampir setiap hari berbicara kepada publik: Menyusun pesan kebijakan, menjawab kritik di media sosial, hingga tampil di depan kamera. Sayangnya, komunikasi public masih sering dipahami secara sempit sebagai pidato atau sekadar penyampaian pengumuman.
Buku Dasar-Dasar Komunikasi Publik karya Nyarwi Ahmad, PhD hadir untuk meluruskan anggapan itu sekaligus menawarkan fondasi konseptual yang utuh bagi siapapun yang ingin mempelajarinya. Buku ini diterbitkan Nas Media Pustaka bekerja sama dengan Indonesian Presidential Studies pada Desember 2021 dan dicetak ulang pada Maret 2022.
Dengan tebal xiv + 310 halaman, ia tersusun atas sepuluh bab yang dibuka dengan pendahuluan dan ditutup dengan penutup, sehingga alur bacanya terasa rapi dari bab ke bab.
Mengapa Buku Ini Penting
Hari ini, publik bukan lagi penonton pasif. Warga dapat bertanya, mengkritik, dan menyebarkan ulang pesan sebuah lembaga hanya dengan beberapa sentuhan di layar. Dalam situasi seperti ini, lembaga yang tidak memahami cara berkomunikasi dengan publiknya mudah kehilangan kepercayaan. Buku ini menjawab kebutuhan tersebut dengan menyediakan kerangka berpikir dasar, bukan sekadar kumpulan tips tampil percaya diri.
Keunggulannya terletak pada upaya penulis memetakan komunikasi public secara menyeluruh: siapa yang berkomunikasi, kepada siapa, di ruang apa, dengan tujuan dan bentuk pesan seperti apa. Peta inilah yang kemudian memudahkan pembaca menempatkan setiap praktik kehumasan pada tempatnya.
Mengenal Sang Penulis
Nyarwi Ahmad adalah dosen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM dengan spesialisasi komunikasi politik dan marketing politik. Sejak 2005 ia aktif menulis tentang komunikasi politik dan demokrasi di media massa nasional, dan hasil risetnya terbit di sejumlah jurnal internasional.
Sepuluh Bab, Satu Peta Besar
Buku ini tersusun atas sepuluh bab yang bergerak dari pemahaman dasar tentang apa itu komunikasi publik, menuju unsur-unsurnya, fungsinya, ragam bentuknya, hingga keterampilan komunikatornya. Ringkasan setiap bab dapat dibaca pada bagian berikutnya.
Cocok Dibaca Oleh
◆ Mahasiswa ilmu komunikasi, humas,
dan manajemen◆ Dosen dan peneliti komunikasi
publik◆ Praktisi humas serta juru bicara
lembaga◆ Pengelola sekolah dan perguruan
tinggi◆ Pembuat kebijakan dan pegiat isu
public.
Peta Isi Buku (Halaman)
Bab I Fenomena dan panggung komunikasi
publik 1Bab II Komunikasi publik sebagai
apa? 15Bab III Ruang lingkup dan
domain kajian 33Bab IV Publik dalam komunikasi publik 48Bab V Elemen dan karakteristik 72Bab VI Kepentingan, isu, kepemimpinan,
kebijakan 101Bab VII Ragam fungsi
komunikasi publik 128Bab VIII Ragam konteks, model,
dan tujuan 188Bab IX Persuasi, retorika,
aktor, arena 240Bab X Komunikator publik di
era digital, 283.
Ringkasan BAB Demi BAB
Berikut ringkasan singkat setiap bab, lengkap dengan nomor halaman awalnya dan intisari dari peresensi.
BAB I Mencermati Kembali Fenomena dan Panggung Komunikasi Publik
Bab pembuka ini memotret panorama dan fenomena komunikasi publik di sekitar kita. Penulis mengajak pembaca melihat komunikasi publik sebagai sebuah panggung, lalu menunjukkan dua pihak yang paling banyak tampil diatasnya, yaitu elite dan media.
Pembahasan elite dan panggung komunikasi publik disusul pembahasan media dan panggung komunikasi publik, sehingga pembaca memahami siapa saja yang membentuk percakapan publik hari ini. (hlm. 1)
Intisari: komunikasi publik terjadi dipanggung nyata, dan elite serta media sangat menentukan arah pembicaraannya.
BAB II Komunikasi Publik sebagai Apa?
Bab ini adalah fondasi konsep buku. Penulis lebih dulu menjawab apa itu komunikasi publik, lalu menawarkan empat dimensi ontologis: sebagai seperangkat pengetahuan dan keterampilan profesional, sebagai praktik komunikasi strategis aktor atau organisasi publik untuk mencapai tujuan tertentu, sebagai sebuah system komunikasi, dan sebagai salah satu bidang kajian ilmu komunikasi. (hlm. 15)
Intisari: komunikasi publik dapat dipandang dari empat sisi sekaligus, sehingga pemahamannya menjadi utuh.
BAB III Ruang Lingkup dan Domain Kajian Komunikasi Publik
Setelah konsepnya jelas, Bab III menelusuri eksistensi dan perkembangan komunikasi publik sebagai bidang kajian dalam ilmu komunikasi. Bab ini kemudian menguraikan esensinya sebagai bidang kajian, termasuk ruang lingkup dan domain yang menjadi wilayah telaahnya, sehingga pembaca tahu apa saja yang termasuk dan tidak termasuk dalam kajian ini. (hlm. 33)
Intisari: komunikasi publik adalah bidang kajian yang memiliki batas dan wilayah yang jelas.
BAB IV Publik dalam Komunikasi Publik
Bab ini memusatkan perhatian pada kata kunci yang sering dianggap sudah jelas, yaitu “publik”. Pembahasan dimulai dari hubungan antara komunikasi dan publik, lalu kepublikan (publicness), ragam perspektif untuk memahami publik, dan ragam wajah publik dalam komunikasi publik. Dengan begitu, publik tidak dipahami sebagai massa yang seragam. (hlm. 48)
Intisari: publik itu beragam, dan setiap wajahnya perlu dipahami sebelum pesan disampaikan.
BAB V Elemen-Elemen dan Karakteristik Komunikasi Publik
Bab V memetakan kembali elemen dan karakteristik komunikasi publik. Didalamnya dibahas publik sebagai entitas utama, ruang publik (public sphere) sebagai arena utama, ke-publik-an sebagai karakter penting, serta aktor dan organisasi publik. Penulis juga membahas bidang-bidang kehidupan publik sebagai konteks berlangsungnya komunikasi, komunikator publik, dan elemen penting seperti kepentingan, isu, kepemimpinan, serta kebijakan. (hlm. 72)
Intisari: komunikasi publik tersusun dari unsur-unsur yang saling terhubung, mulai dari publik, ruang, hingga aktor.
BAB VI Kepentingan, Isu-Isu, Kepemimpinan, dan Kebijakan Publik
Bab ini mengupas empat elemen penting satu per satu. Bab dimulai dengan kepentingan publik (public interest), kemudian isu-isu publik, kepemimpinan publik (public leadership), dan kebijakan publik (public policy). Keempatnya dihubungkan dengan komunikasi public agar pembaca melihat bagaimana pesan berkaitan dengan keputusan yang menyangkut orang banyak. (hlm. 101)
Intisari: mengelola isu dan kepentingan publik adalah inti kerja komunikasi, termasuk kerja humas.
BAB VII Ragam Fungsi Komunikasi Publik
Bab VII dibuka dengan komunikasi publik sebagai kebutuhan dasar aktor dan organisasi publik. Fungsi-fungsinya lalu dibagi ke dalam tiga level. Pada level makro, ia menjaga sistem demokrasi, membahas isu, mengelola kepentingan, dan menunjang kebijakan. Pada level meso, ia menopang keterbukaan informasi, sosialisasi program, pendidikan publik, dan layanan publik. Level mikro melengkapi pembahasan. (hlm. 128)
Intisari: komunikasi publik bukan pelengkap, melainkan kebutuhan dasar setiap organisasi publik.
BAB VIII Ragam Konteks, Model, dan Tujuan Komunikasi Publik
Bab ini memetakan ragam konteks komunikasi publik, lalu ragam model dan tujuannya. Ada komunikasi public edukatif, informatif (-edukatif), menghibur, persuasif, instruktif, dan naratif. Setiap model dibahas tersendiri sehingga pembaca dapat memilih bentuk komunikasi yang paling sesuai dengan tujuan dan situasi yang dihadapi. (hlm. 188)
Intisari: satu pesan bisa memiliki tujuan berbeda, dan pilihan modelnya menentukan hasilnya.
BAB IX Persuasi, Retorika, Aktor-Komunikator, dan Arena dalam Komunikasi Publik
Bab IX membahas persuasi dan retorika dalam komunikasi publik serta pentingnya membangun imajinasi. Penulis menguraikan ragam strategi dan model retorika, hubungan retorika dengan aktor-komunikator dan arena komunikasi publik, serta elemen-elemen personal komunikator yang perlu dimaksimalkan untuk mencapai tujuan komunikasi. (hlm. 240)
Intisari: retorika bukan sekadar gaya bicara, tetapi strategi yang ditopang oleh pribadi komunikatornya.
BAB X Komunikator Publik di Era Digital: Ragam Pengetahuan dan Keterampilan Dasar serta Tantangan
Bab penutup ini mengarahkan pembahasan ke era digital. Pembaca diperkenalkan pada ragam jenis posisi dan peran komunikator publik, pengetahuan dasar dan keterampilan dasar yang perlu dimiliki, serta ragam tantangan yang dihadapi komunikator publik ketika pesan menyebar cepat di ruang digital. (hlm. 283)
Intisari: komunikator publik masa kini butuh pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan menghadapi tantangan digital.
Empat Dimensi Ontologis
Salah satu sumbangan paling menarik ada di Bab II. Penulis menawarkan empat cara memandang komunikasi publik. Pertama, sebagai seperangkat pengetahuan dan keterampilan profesional. Kedua, sebagai praktik komunikasi strategis yang dijalankan aktor atau organisasi publik untuk mencapai tujuan tertentu.
Ketiga, sebagai sebuah sistem komunikasi. Keempat, sebagai salah satu bidang kajian ilmu komunikasi. Dengan empat dimensi ini, pembaca diajak melihat komunikasi publik secara utuh, bukan hanya dari satu sisi.
Enam Wajah Tujuan Komunikasi
Bab VIII membagi komunikasi publik ke dalam enam model berdasarkan tujuannya. Pembagian ini membantu pembaca menyadari bahwa satu pesan bisa memiliki maksud yang berbeda-beda:
◆ Edukatif, untuk menambah pengetahuan
dan kesadaran publik.
◆ Informatif, untuk menyampaikan informasi
secara jelas dan terbuka.
◆ Menghibur, untuk membangun kedekatan
lewat hiburan.
◆ Persuasif, untuk mengajak dan memengaruhi
sikap publik.
◆ Instruktif, untuk memberi arahan
atau petunjuk.
◆ Naratif, untuk menyampaikan pesan
melalui cerita.
Kelebihan Buku
Kekuatan utama buku ini adalah strukturnya yang sistematis. Pembaca dibawa dari pemahaman konsep, unsur, dan fungsi, menuju model serta keterampilan praktis. Cakupannya luas, dari ruang publik, kebijakan, dan kepemimpinan hingga tantangan komunikator di tengah arus digital, sehingga cocok menjadi buku rujukan mata kuliah komunikasi. Kehadiran daftar pustaka juga membantu pembaca menelusuri sumber lanjutan.
Penilaian Peresensi
- Sistematika isi ★★★★★
- Kedalaman konsep ★★★★★
- Kemudahan dibaca ★★★★★
- Relevansi untuk humas ★★★★★
Catatan Untuk Pembaca
Karena bersifat konseptual dan memuat banyak istilah serta pembagian kategori, pembaca pemula perlu membacanya secara perlahan dan bertahap. Buku ini juga akan terasa lebih hidup bila dibaca bersama studi kasus nyata, misalnya bagaimana sekolah atau perguruan tinggi mengomunikasikan program dan kebijakannya kepada orang tua, mahasiswa, dan masyarakat.
Relevansi Dan Pelajaran Bagi Manajemen Humas
Bagi mahasiswa Manajemen Pendidikan, buku ini membantu memahami bahwa lembaga pendidikan adalah organisasi publik yang menjalankan komunikasi publik setiap hari: menyampaikan informasi, melayani, membangun kepercayaan, dan mengelola citra.
Sekolah dan kampus berhubungan dengan banyak publik sekaligus, seperti peserta didik, orang tua, alumni, pemerintah, dan masyarakat sekitar, dan setiap publik membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda.
Pembahasan tentang keterbukaan informasi, pelayanan publik, dan pengelolaan isu dapat langsung dihubungkan dengan kerja humas lembaga pendidikan, mulai dari menyosialisasikan program, menangani keluhan, hingga mengelola media sosial resmi. Sementara itu, bab retorika dan komunikator era digital menjadi bekal bagi calon praktisi humas untuk tampil meyakinkan dan bertanggung jawab di ruang publik.
Dari Pembahasan Buku Ini, Ada Lima Pelajaran Yang Dapat Dibawa Oleh Humas Lembaga Pendidikan:
- Kenali publik. Orang tua, peserta didik, alumni, dan Masyarakat memerlukan pendekatan yang berbeda.
- Utamakan keterbukaan. Informasi program, biaya, dan kebijakan sebaiknya mudah diakses.
- Kelola isu sejak dini. Keluhan kecil yang diabaikan dapat berkembang menjadi isu besar.
- Pilih tujuan pesan. Tentukan apakah pesan bersifat edukatif, informatif, persuasif, atau instruktif.
- Latih komunikator. Juru bicara dan pengelola media sosial lembaga perlu terampil dan bertanggung jawab.
Dari Mana Sebaiknya Mulai Membaca
Pembaca yang waktunya terbatas dapat memulai dari Bab II untuk memahami fondasi konsepnya, lalu Bab VI yang menyoroti kepentingan, isu, kepemimpinan, dan kebijakan publik. Setelah itu, Bab X cocok dibaca untuk melihat tantangan komunikator di era digital. Bab-bab lainnya dapat dibaca sesuai kebutuhan, karena setiap bab dibuka dengan pendahuluan dan ditutup dengan penutup yang merangkum pembahasan.
Kesan Peresensi
Membaca daftar isi dan profil penulisnya saja sudah memperlihatkan bahwa buku ini disusun dengan serius dan berlandaskan keilmuan yang kuat. Bagi mahasiswa Manajemen Humas, buku ini membuka cara pandang baru: humas bukan hanya urusan membuat siaran pers atau mengurus acara, tetapi bagian dari kerja besar menjaga hubungan sehat antara lembaga dan publiknya.
Tiga Hal Yang Saya Pelajari
1. Publik tidak seragam. Setiap kelompok punya kepentingan, harapan, dan cara memahami pesan yang berbeda, sehingga pendekatannya pun perlu berbeda.
2. Pesan perlu tujuan yang jelas. Mengedukasi, menginformasikan, mengajak, atau menginstruksikan menuntut cara penyampaian yang tidak sama.
3. Komunikator adalah wajah lembaga. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap komunikator sangat memengaruhi kepercayaan publik.
Ringkasan Poin Penting
a. Komunikasi publik adalah pengetahuan, praktik strategis, sistem, sekaligus bidang kajian.
b. Memahami publik, isu, kepemimpinan, dan kebijakan adalah inti kerja kehumasan.
c. Fungsinya bekerja pada level makro, meso, dan mikro.
d. Retorika dan keterampilan komunikator menentukan tercapainya tujuan pesan.
e. Era digital menuntut komunikator yang cakap sekaligus bertanggung jawab.
Catatan Akhir Peresensi
Satu hal yang paling membekas bagi peresensi adalah ajakan buku ini untuk melihat komunikasi publik sebagai tanggung jawab, bukan sekadar keterampilan. Setiap pesan yang dilepas ke ruang publik membawa dampak bagi banyak orang. Karena itu, calon praktisi humas perlu membekali diri dengan konsep yang kuat sekaligus kepekaan terhadap publik yang dilayani.
Penutup
Secara keseluruhan, Dasar-Dasar Komunikasi Publik layak dibaca oleh mahasiswa, dosen, praktisi humas, maupun para pengambil kebijakan. Buku ini mengingatkan bahwa komunikasi publik adalah pekerjaan strategis yang menyangkut kepentingan bersama, dan karena itu perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh. Bagi mahasiswa Manajemen Humas, buku ini adalah titik awal yang kokoh sebelum melangkah kepraktik.
Glosarium Singkat
Komunikasi publik: praktik dan kajian tentang bagaimana aktor atau organisasi publik berkomunikasi dengan publik. Ruang publik: arena tempat warga dan lembaga membicarakan persoalan bersama.
Kepublikan: sifat yang membuat sebuah pesan, isu, atau aktor berkaitan dengan kepentingan orang banyak. Kepentingan publik: hal-hal yang menyangkut kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat luas.
Kebijakan publik: keputusan yang dibuat pemerintah atau lembaga untuk mengatur kehidupan bersama. Retorika: seni menyusun dan menyampaikan pesan agar meyakinkan.
Rujukan Buku
Ahmad, N. (2021). Dasar-Dasar Komunikasi Publik. Yogyakarta: Nas Media Pustaka bekerja sama dengan Indonesian, Presidential Studies. ISBN 978-623-351-341-8.
| Nyarwi Ahmad, PhD |
Sekilas Penulis
Nyarwi Ahmad, PhD Associate Professor Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM, Yogyakarta. Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS) Jakarta. S1 Ilmu Komunikasi UGM (2005), S2 Manajemen Komunikasi Politik UI (2008), S3 Bournemouth University, Inggris (2017).
Post-Doctoral Research Fellow di Asia Institute, University of Melbourne (2018-2019). Pengampu Komunikasi Publik, Komunikasi Politik, hingga Leadership Communication. Reviewer lebih dari 34 jurnal internasional dan sering menjadi komentator di televisi berita nasional.

Post a Comment