Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Pengaruh Belanja Online terhadap Pengeluaran Mahasiswa
APERO FUBLIC I OPINI.- Belanja online saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan mahasiswa. Perkembangan teknologi membuat kegiatan berbelanja menjadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya.
Jika dulu seseorang harus datang langsung ke toko untuk membeli barang, sekarang semua kebutuhan dapat dibeli hanya melalui aplikasi di ponsel. Mulai dari pakaian, makanan, alat tulis, skincare, hingga kebutuhan kuliah lainnya bisa didapatkan dengan cepat tanpa harus keluar rumah.
Kemudahan tersebut membuat belanja online semakin diminati oleh mahasiswa. Selain praktis, belanja online juga menawarkan banyak pilihan barang dengan harga yang beragam. Banyak mahasiswa merasa lebih nyaman berbelanja secara online karena dapat membandingkan harga dari beberapa toko sekaligus.
Tidak hanya itu, adanya promo seperti diskon, gratis ongkir, cashback, dan potongan harga membuat mahasiswa semakin tertarik untuk membeli barang melalui aplikasi belanja online.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, belanja online juga membawa pengaruh besar terhadap pengeluaran mahasiswa. Banyak mahasiswa yang awalnya hanya berniat melihat-lihat barang akhirnya tergoda untuk membeli karena promo yang menarik.
Barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan sering kali tetap dibeli karena dianggap murah atau takut kehabisan promo. Kebiasaan seperti ini tanpa disadari dapat membuat pengeluaran menjadi lebih besar dari biasanya.
Selain promo, media sosial juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebiasaan belanja mahasiswa. Saat ini banyak produk yang menjadi viral dan menarik perhatian anak muda. Mahasiswa sering merasa ingin mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Akibatnya, mereka membeli barang hanya karena sedang populer, bukan karena benar-benar diperlukan. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, pengeluaran bulanan mahasiswa akan semakin sulit dikontrol.
Penggunaan dompet digital dan sistem pembayaran online juga membuat mahasiswa lebih mudah mengeluarkan uang. Proses pembayaran yang cepat dan praktis sering membuat seseorang tidak sadar sudah menghabiskan banyak uang dalam waktu singkat.
Bahkan, beberapa mahasiswa lebih sering membeli barang secara impulsif karena merasa pembayaran digital tidak terasa seperti mengeluarkan uang secara langsung. Hal ini dapat menyebabkan mahasiswa menjadi lebih boros dan kurang mampu mengatur keuangan dengan baik.
Di sinilah pentingnya mahasiswa mulai menerapkan prinsip akuntansi sederhana dalam mengelola keuangan pribadi. Langkah awal yang paling krusial adalah melakukan budgeting atau penyusunan anggaran bulanan yang ketat sejak awal menerima uang saku.
Mahasiswa harus tegas memisahkan antara pos kebutuhan pokok (seperti biaya kuliah, buku, dan makan) dengan pos keinginan (seperti belanja fashion atau skincare). Selain itu, melakukan pencatatan arus kas pribadi (personal cash flow) secara rutin baik melalui aplikasi maupun catatan manual akan membantu mendeteksi ke mana saja uang mengalir secara impulsif.
Dengan memahami konsep dasar pencatatan keuangan ini, mahasiswa tidak hanya sekadar mencatat angka, tetapi juga belajar mengontrol diri dari perilaku konsumtif yang tidak sehat akibat paparan promo digital.
Belanja online memang memiliki dampak negatif jika digunakan secara berlebihan, tetapi bukan berarti belanja online selalu buruk. Jika dimanfaatkan dengan bijak, belanja online justru dapat membantu mahasiswa menghemat waktu dan tenaga.
Mahasiswa dapat membeli kebutuhan dengan harga yang lebih terjangkau tanpa harus pergi ke pusat perbelanjaan. Selain itu, adanya fitur ulasan produk juga membantu pembeli memilih barang yang sesuai dengan kebutuhan.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu belajar mengatur keuangan dengan lebih baik agar tidak terlalu terbiasa hidup konsumtif. Sebelum membeli barang, mahasiswa sebaiknya mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan sesaat. Mengontrol pengeluaran dan membatasi kebiasaan belanja online menjadi langkah penting agar kondisi keuangan tetap stabil.
Pada akhirnya, belanja online memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan mahasiswa, tetapi penggunaannya harus tetap disertai dengan sikap bijak. Kemajuan teknologi seharusnya membantu kehidupan menjadi lebih praktis, bukan justru membuat seseorang sulit mengontrol pengeluaran.
Dengan pengelolaan keuangan yang baik, mahasiswa tetap dapat menikmati manfaat belanja online tanpa harus mengalami masalah keuangan akibat kebiasaan belanja yang berlebihan.
PENULIS: Nurinazwa Aura Faisal
Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan D3 Akuntansi,
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment