Kampus
Kimia
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Sawit Indonesia: Dari "Penyumbang Polusi" Menjadi Basis Penyerapan Karbon Skala Besar Dunia
APERO FUBLIC I OPINI.- Selama ini, industri kelapa sawit sering dipandang secara sepihak sebagai kontributor emisi gas rumah kaca. Namun, dengan luas tutupan lahan mencapai lebih dari 16 juta hektar di Indonesia, terdapat potensi besar yang belum teroptimasi sepenuhnya sebagai solusi perubahan iklim.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Kunci pencapaian target ini tidak terletak pada pengurangan aktivitas perkebunan, melainkan pada transformasi tata kelola limbah biomassa melalui integrasi teknologi.
Salah satu teknologi kunci yang kini menjadi fokus global adalah BECCS (Bioenergy with Carbon Capture and Storage). Secara definisi, BECCS adalah kombinasi antara pemanfaatan bioenergi dengan penangkapan serta penyimpanan karbon.
Teknologi ini memiliki keunggulan unik karena mampu menghasilkan emisi negatif (negative emissions), di mana jumlah karbon yang diserap dari atmosfer lebih besar daripada yang dilepaskan selama proses produksi energi.
Untuk memahami cara kerjanya, kita dapat menggunakan perumpamaan pohon sawit sebagai spons karbon alami. Selama masa pertumbuhannya, pohon sawit menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam bentuk biomassa, mulai dari batang, pelepah, hingga cangkang buah.
Tantangan itu muncul saat biomassa ini dikonversi menjadi energi melalui proses termal seperti gasifikasi dan pirolisis. Gasifikasi mengubah biomassa menjadi gas bakar yang kaya hidrogen dan karbon monoksida (syngas). Pirolisis mengurai biomassa pada suhu tinggi tanpa oksigen untuk menghasilkan bahan bakar cair (bio-oil) dan arang padat (biochar).
Tanpa intervensi, CO₂ yang tersimpan dalam biomassa tersebut akan terlepas kembali ke atmosfer saat proses konversi berlangsung. Di sinilah BECCS berperan sebagai sistem pencegat. Sebelum gas buang keluar melalui cerobong, CO₂ ditangkap menggunakan teknologi post-combustion capture (biasanya berbasis pelarut amina), kemudian dikompresi menjadi fase cair.
Karbon ini selanjutnya dipompa untuk disimpan secara geologis (geological storage) di dalam formasi batuan bawah tanah atau sumur minyak dan gas yang sudah tidak beroperasi (depleted reservoir).
Mengapa implementasi ini menjadi mendesak? Tahun 2026 menjadi titik krusial karena mulai diberlakukannya kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) oleh Uni Eropa. Kebijakan ini merupakan mekanisme pajak karbon bagi produk impor berdasarkan intensitas emisi dalam proses produksinya.
Jika industri sawit nasional tidak mampu membuktikan transparansi jejak karbon yang rendah atau negatif, produk unggulan Indonesia akan menghadapi hambatan tarif yang tinggi di pasar internasional.
Tentu saja, implementasi BECCS bukan tanpa hambatan. Tantangan utama saat ini adalah tingginya kebutuhan energi tambahan (energy penalty) untuk mengoperasikan unit penangkapan karbon, yang berdampak pada membengkaknya biaya operasional.
Riset global kini sedang berlomba-lomba menemukan material penyerap karbon yang lebih efisien agar teknologi ini dapat menjadi sumber keuntungan ekonomi melalui mekanisme perdagangan karbon (carbon credit).
Indonesia, langkah nyata telah dimulai dengan pemetaan struktur geologi yang potensial menjadi wadah penyimpanan karbon permanen. Meskipun secara teori struktur bumi Indonesia mampu menampung emisi dalam skala gigaton, aspek keamanan dan monitoring jangka panjang tetap menjadi prioritas ilmiah untuk mencegah risiko kebocoran di masa depan.
Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki banyak negara lain ketersediaan biomassa sawit yang melimpah sebagai penyerap alami dan formasi geologi yang siap mendukung penyimpanan karbon.
Jika infrastruktur BECCS berhasil disempurnakan, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi eksportir komoditas minyak nabati, tetapi bertransformasi menjadi pemimpin dalam teknologi emisi negatif.
Menjelang dibukanya gerbang persaingan global pada 2026, integrasi sains dan industri sawit menjadi jembatan utama menuju kemandirian ekonomi hijau.
Saatnya membuktikan bahwa melalui inovasi teknik kimia dan pengelolaan energi yang tepat, industri sawit mampu memberikan kontribusi nyata bagi pendinginan suhu bumi sekaligus menjamin kesejahteraan generasi mendatang.
PENULIS: Nabila Tri Mardani
Mahasiswi Teknik Kimia
Institut Teknologi Sawit Indonesia.
Email: nabilatrimardani1485@gmail.com
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment